Chapter 46

139 38 12
                                        

Kini Ajeng memakai Polo shirt pink dan celana panjang jeans yang terdapat gambar kelinci, ia tengah berlari terburu-buru melewati koridor sekolah, menaiki tangga tetapi tak jarang ia mendapat sapaan dari beberapa kakak kelas yang dikenalnya, begitupun juga sebaliknya.

Walaupun hari Rabu libur khusus anak kelas 7, tapi Ajeng harus ke sekolah dikarenakan ada buku yang tertinggal di kelas. Kalau tak salah ingat, buku itu tidak sengaja tertinggal pada hari Jum'at, terakhir pelajaran Prakarya.

Ya, Ajeng ingat sekarang!

Pintu kelasnya masih tertutup sempurna, untungnya pintu tidak dikunci. Ajeng membuka pintu dengan cepat. Setelah terbuka, bukannya ia langsung menuju meja untuk memeriksa lacinya, namun ia diam seperti patung dan terkejut melihat Raefal di mejanya Felina dan Hany. Cowok itu tengah membuka sebuah buku sambil berdiri dengan wajah penasaran.

Raefal juga terkejut dan reflek menjatuhkan buku tersebut ke lantai.

"Kak Raefal ngapain kesini? Bukannya ini udah bel masuk ya? Seharusnya kan Kak Raefal udah waktunya belajar." Tanya Ajeng dengan penuh kecurigaan lalu ia berjalan pelan menghampiri Raefal, apalagi gerak-gerik Raefal yang membuat kecurigaannya meningkat.

"E... Eh.. Itu.. Em.. Gue lagi--"

Ajeng menyipitkan pandangannya membuat Raefal berhenti berhenti berbicara dan garuk-garuk kepala. Kemudian Ajeng menatap buku yang jatuh terbalik, namun ia hapal pemilik buku ini.

"Ini kan--buku Felina. Kak Raefal ngapain hayoo buka-buka?"

Setahunya, Felina jarang memperlihatkan buku diarynya lagi apalagi menaruh di laci semenjak insiden itu. Kalian pasti tahu kan?

Raefal langsung mengambil buku tersebut dengan cepat wajahnya bingung seperti habis diciduk oleh Ajeng. "Sumpah gue gak baca apa-apa---iya bener. Hehe..." Cowok itu cengengesan tak jelas, ucapannya terlalu ragu.

It's okay, Ajeng percaya daripada bertele-tele.

"Terus?"

"Tadi pas gue lagi meriksa ke sini nggak sengaja lihat buku di atas meja. Biasa tugas OSIS ngelilingin sekolah, apalagi kelas 7 nya gak pada masuk."

"Terus?"

Seperti kehabisan kata-kata, jadi Ajeng akan mengulang kata 'terus'.

"Yaa.. em.. Lo kan sahabatnya Felina. Jadi tolong kasihan ke dia, bilang jangan ceroboh ninggalin barang."

Buku tersebut diserahkan kepada Ajeng, tapi sebelum Ajeng menerimanya, ia teringat satu hal. "Eh? Kenapa harus gue?" Jadinya Ajeng bingung. "Kasih aja ke kak Fahri. Dia kan tinggal serumah sama Felina. Bukannya gue gak mau, tapi kalo bukunya dikasih ke gue, takutnya besok lupa bawa."

Entahlah Ajeng menjadi curiga kembali. Hatinya mengatakan seperti ada yang disembunyikan oleh Raefal.

"Eh iya iya, Haha.. inget inget, kan ada si Fahri. Kenapa dikasih ke Lo ya? Haha gue bego banget sih." Sedari tadi Raefal tertawa sendiri, padahal tak ada lucunya sama sekali.

Oke, karena kasihan jadi Ajeng ikutan tertawa garing. "Iya, iya Kak. Lo emang--begitulah. HIHI."

"Anjir! Tawa Lo serem banget, Haha... Yaudah kali gitu, gue mau ke taman belakang sekolah."

WHAT? Kok taman belakang sekolah sihh?

"Ke kelasnya Kak Raefal donggg." Meski bingung, Ajeng meralatnya. Mungkin saja Raefal salah sebut, walaupun jauh banget perbedaannya.

"Ohh--iya, kelas! Gue harus ke kelas. Makasih udah ingetin. Dadahh." Cowok itu berlari meninggalkan kelas ini dengan membawa bukunya Felina.

"Huh, ada-ada aja." Tingkah aneh Raefal membuat ia geleng-geleng.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang