Aneh bagi Alfia melihat sifat pendiam Ajeng. Biasanya Alfia dan Ajeng sering berdebat, namun kali ini keduanya saling diam. Hanya Alfia saja yang menyadarinya, sedangkan yang lainnya tidak menyadari dan acuh. Sebab Alfia adalah orang yang peka terhadap perubahan sifat orang lain.
Jam pelajaran kedua, mereka memilih ke Kantin. Alfia berdiri dari kursinya berniat menuju mejanya Ajeng.
"Ajeng." Panggil Alfia membuat Ajeng menoleh. "Lo tadi bisa gak ngerjain ulangannya?"Tanyanya berbasa-basi.
"Oh, bisa kok. Bisa banget." Jawab Ajeng.
"Pantesan Lo gak nanya-nanya." Lanjut Alfia.
"Jajan yok!" Ajak Ajeng lalu menutup buku yang tengah ia pelajari, kemudian menghampiri Felina, Hany, Luna dan Gifta di depannya. Alfia memilih untuk mengikutinya.
"Orang lain mah pada belajar, lah Lo, Fel, malah belajar menulis di buku diary!" Sindir Gifta.
"Tau nih. Mana tadi dibelakang kertas ulangan punya kamu, malah ngegambar sendal swallow." Ucap Hany. Pada saat ia ingin mengumpulkan kertas ulangan miliknya, tak sengaja ia melihat gambar sandal swallow di belakang lembaran kertas milik Felina.
"Sendal Shelo?" Ulang Luna justru ia memikir bahwa sandal itu milik dari salah satu teman sekelasnya. "SHELO! SENDAL LO TERNYATA HILANG GARA-GARA FELINA MINJEM SENDAL LO BUAT DI GAMBAR."
Teman sekelasnya yang bernama Shelomita, biasa dipanggil 'Shelo' oleh teman-temannya, ia tengah memakan bekal menaggapinya dengan senyuman dikarenakan ia mengerti bahwa ucapan Luna tidak pernah serius.
"Swallow, Lun, swallow bukan Shelo!" Ralat Gifta. "Shel maafin Luna ya, dia emang gitu. Tadi pagi gue Nemu dia di jalan, makanya otaknya ketinggalan di jalan." Alasannya.
"Santai aja. Gue gak nganggap serius kok." Jawab Shelomita.
Mendengar percakapan dari mereka, Felina menutup buku diary ya yang berwarna hijau tosca dengan gambar pelangi menjadi pelengkap dari sampul buku diary. Para sahabatnya melihat buku tersebut, juga penasaran mengapa Felina selalu menutupi tulisannya seolah ada sesuatu yang tertutupi.
"Fel, gue lihat kayaknya Lo jadi sering bawa buku itu. Lo mau jadi rentenir?" Tanya Luna, tak ada faedahnya sama sekali.
"Tangan gue gatel banget deh, pingin lem mulut Luna biar gak asal nyeplos!" Ucap Gifta.
Luna menutup mulutnya, takut kalau mulutnya dilem oleh Gifta. Ia pasti akan sedih jika tidak bisa berteriak seperti biasa.
"Sebenarnya Lo nulis apaan sih?" Tanya Alfia.
Orang yang mempunyai buku diary hanya menjawab, "Kalian kepo deh, Ini gak boleh ada yang tahu." Ucapnya yang sok misterius.
"Bahkan aku sendiri pun gak dikasih tau." Sambung Hany cemberut, dia tidak pernah menunjukkan hasil tulisannya kepada dirinya. Padahal kan Hany pe-na-sa-ran.
"Ngomong-ngomong kita jadi ke kantin gak ya?" Tanya Felina mengalihkan pembicaraan.
"Jadilahhh! Gue udah nahan laper tau!" Jawab Gifta yang terkesan jujur.
"Oke. Oke.
Mereka pun beranjak keluar kelas secara bersamaan. Alfia mencegat langkah Ajeng dengan menarik pergelangan tangannya menbuat Ajeng terpaksa memberhentikan langkahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)