Hujan deras yang mengguyur SMP Winanta disertai suara petir, tepat di halte Gifta menuruni angkutan umum yang dinaikinya. Ia merogoh sakunya berniat membayar kepada sopir angkut. "Nih Pak Uangnya." Gifta menyerahkan selembar uang lima ribu dan langsung di terima oleh Sopir.
"Kembaliannya ini."
"Gak usah, Pak. Kembaliannya ambil aja." Ucap Gifta sungkan dan langsung membuka payungnya, bergegas lari dari tempat ini dengan cepat tanpa mendengarkan ucapan Sopir angkut tadi.
Alasan Gifta menaiki angkutan umum karena sopir pribadinya tengah pulang kampung, jadi dengan sangat terpaksa ia memilih menaiki angkutan umum daripada berjalan di tengah hujan.
Suara petir berhasil mengejutkan Gifta, membuat ia berusaha lebih cepat menuju ke lobby Sekolah. Setelah itu ia baru menginjak tempat ini dan menutup payungnya. Walaupun sudah menggunakan payung, rok Gifta tetap basah akibat terkena cipratan air tapi sedikit. Saat Gifta ingin berbalik badan, Gifta baru menyadari kalau ada Ajeng yang duduk di kursi pinggiran. Ajeng tengah memakai sepatunya jadi tidak menyadari akan kehadiran Gifta. Mungkin saja Ajeng berangkat Sekolah memakai sandal agar sepatunya tidak basah dan ketika sampai di Sekolah Ajeng baru memakainya.
Gifta sedikit menyesal ketika tidak menggunakan sandal dulu karena waktu ia ingin berangkat sekolah hujannya belum deras, masih berupa gerimis rintik-rintik. Keadaan sepatu Gifta sekarang sedikit basah, jadi ketika sampai di kelas Gifta harus mengeringkan sepatunya sejenak.
"Ajeng." Panggil Gifta.
Ajeng menolehkan kepala ketika merasa ada seseorang yang memanggilnya. "Ehh Gifta. Lo baru nyampe?" Tanya Ajeng lalu ia memasukkan sandalnya ke dalam plastik kresek hitam.
"Iya. Ke kelas yok!" Ajak Gifta seraya menatap Sekolah ini yang hanya sedikit murid berlalu lalang, dapat dihitung dengan jari. Berarti Gifta yang datangnya terlalu cepat ditambah hujan yang deras membuat siapa saja mengulur waktu untuk berangkat ke Sekolah, menunggu hujan reda.
Ajeng berdiri, setuju dengan permintaan Gifta. "Ayok!" Jawabnya.
***
Kelas 72 terlihat sangat sepi jika dilihat dari depan seperti belum ada yang datang. Ajeng dan Gifta memasuki kelas bergantian lalu mereka melihat Alfia yang tengah melamun. Ajeng dan Gifta saling berpandangan, takutnya Alfia kesurupan karena hanya dia seorang diri yang berada dikelas ini.
Ajeng sepakat akan mengagetkan Alfia dengab hitungan. "Satuuu..." Ucapnya dengan pelan sambil mendekat.
"Duaa...." Lanjut Gifta semakin mendekat.
"DOR!" Teriak Ajeng langsung tanpa menyebutkan angka tiga.
"Ehh kadal naik bajai." Latah Alfia terkejut kemudian ia menatap pelaku.
"Mana ada kadal naik bajai!" Ucap Gifta ngegas sambil menduduk di tempatnya.
"Emangnya kadalnya punya duit buat bayar?" Tanya Ajeng
"Wahh Lo belum tau aja ya. Kadal tuh punya duit. Berarti Lo masih noob, gak tau informasi. Menurut kadal mah bayar bajai, terlalu kecil. Kalo gak percaya tanya aja sama kadal yang pernah naik bajai." Cerocos Alfia.
Ajeng menjadi heran. "Gif, emang kadal punya duit ya?"
"Ya kagak lah! Mau aja dikibulin!" Jawab Gifta ketus sambil mengeringkan sepatunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)