Sesudah membeli kaus kaki di koperasi, akhirnya ia dapat bernafas lega. Setidaknya masih ada yang menemaninya kesana. Ia juga sempat malu ketika ditatap aneh oleh orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang koridor. Besok dan seterusnya kejadian ini ia jamin tidak akan terulang kembali, namun tidak begitu mudah untuk melupakannya. Apalagi ini baru pertama kalinya Felina salah memakai kaus kaki. Kalian bisa bayangin tidak seberapa malunya Felina?
Felina dan Destria memasuki kelas dengan obrolan ringan. Kelas ini sepi. Kemungkinan teman satu kelasnya sudah berada di lapangan menunggu pelajaran olahraga dimulai.
Felina baru mengingat bahwa yang mengajar pelajaran olahraga ini adalah Pak Bohit. Bisa-bisa Felina kena serangan jantung dadakan kalau terlambat dan menerima hukuman yaitu bersihin satu Sekolah ini.
Pokoknya Felina harus cepat.
"Buru-buru amat Lo." Komentar Destria lalu ia menduduki tempat duduknya dan meminum airnya di botol tersebut dengan gerakan santai. Tanpa takut akan kena hukuman oleh Pak Bohit.
Gadis yang diajak mengobrol, menjawab tanpa menoleh. "Lo gila, Des? Ini pelajaran Pak Bohit! Gak ada kata santai menurut Pak botak-ehh pak Bohit maksudnya." Jawabnya sambil mengambil baju olahraga di dalam tasnya dan mengobrak-abrik keseluruhan isinya.
"Tenang aja, Fel. Kita gak bakal dihukum." Ucap Destria sesantai mungkin.
"Kata siapa?"
"Kata gue."
"Caranya gimana?"
"Bolos."
Felina melotot. Baru kali ini ia melihat sesosok manusia yang santainya minta ampun dan mengajaknya bolos. Wahh... Tak patut sekali untuk dicontoh. "Gue anak baik-baik, gak mau bolos. Niat gue disini itu belajar, bukan mainan doang!" Sindir Felina dan menaruh kembali barang-barangnya yang berceceran di meja. Namun saat menaruh barang terakhir, tiba-tiba ada amplop yang jatuh ke lantai membuat ia penasaran dibuatnya.
"Gak usah nyolot dong! Gue kan cuman bercanda! Lo...." Destria tak jadi melanjutkan ucapannya karena melihat Felina yang memegang amplop itu. Destria menghampiri meja Felina dan menduduki kursi kosong disampingnya seraya bertanya, "Amplop siapa?" Tanyanya.
"Gak tau. Gak ada namanya." Felina membolak-balikkan amplop tersebut yang kosong tidak ada tulisannya sama sekali. Ia ingin membuka amplop tersebut, tapi takutnya ini milik orang lain. Tapi rasa penasarannya sudah meraung-raung.
"Punya setan kali. Katanya kan Sekolah ini dulunya bekas rumah sakit." Tebak Destria mengada-ada menurut pembicaraan orang lain. Katanya sekolah ini bekas rumah sakit lah, rel kereta api, sumur dan banyak macamnya yang tentang horor. Entahlah itu sebuah fakta atau mitos.
"Tau dari mana Lo. Sekolah ini aja dulunya kebon." Balas Felina sedikit menaikkan nadanya. "Amplopnya pingin gue buka, tapi takutnya ini punya orang." Ucapnya jujur dengan ragu-ragu.
"Buka aja sih! Gitu aja ribet!" Suruh Destria yang juga sama halnya penasaran.
"Kalau yang punya marah gimana?"
"Gampang itu mah. Lagian juga amplop ini ada di meja Lo kan?" Tanya Destria dan dibalas anggukan oleh Felina. "Ya berarti untuk Lo!" Lanjut Destria sewot.
Felina bimbang diantara memilih membuka atau dibiarkan saja, diam-diam ia melirik Destria tanpa sepengetahuannya. 'Kenapa gue jadi curiga sama Destria?' Batinnya sebab ada dua alasan yang membuatnya berpikir seperti itu. Pertama, Destria yang paling antusias untuk memintanya membuka surat ini cepat. Kedua, ada perasaan tak enak saat di dekat Destria.
"Kenapa Lo liatin gue kayak gitu?!" Tanya Destria ketus.
"Kagak. Siapa juga yang ngeliatin Lo!" Perlahan Felina merobek amplop yang tengah digenggamnya dengan tebakan-tebakan di dalam hatinya. Bodo amat lah, ini untuk siapa, daripada ia mati penasaran, kan lebih baik lihat aja didalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)