Chapter 10

278 39 14
                                        

Sangat malu berdiri di depan tiang bendera dengan gestur tangan menghormati sang pusaka, sampai dilihat oleh beberapa orang yang berlalu lalang kemungkinan itu Kakak Kelas, sedangkan murid kelas 7 sudah masuk ke kelas masing-masing.

Walaupun kedisiplinan mereka sudah dianggap buruk oleh guru, namun mereka tidak mempermasalahlannya. Kan sehat berjemur di pagi hari. Begitulah pemikiran mereka.

"Guys, daripada kita bosen, mending kita main teka-teki." Usul Alfia antusias sekali, gadis itu sudah mempunyai satu teka-teki yang menurutnya bagus.

"Boleh tuh." Jawab Felina menyetujui usulan Alfia.

"Ada lima orang yang sedang berjalan di bawah hujan. Diantaranya keempat orang menggunakan payung dan satunya lagi tidak memakai alat pelindung apapun. Keempat orang tadi heran melihat rambut orang itu yang tidak terkena tetesan air hujan sedikitpun. Mengapa demikian?" Tanya Alfia panjang lebar.

"Busyet! Panjang banget kayak rel kereta." Celetuk Ajeng.

"Hayo pada gak bisa jawab ya?" Tanya Alfia dengan wajah tengilnya.

"Karena orang itu pake topi." Jawab Gifta setelah dipikir-pikir.

"Salah. Kan tadi gue udah bilang gak pake alat pelindung apapun." Alfia menggelengkan kepala mengelak jawaban dari Gifta.

"Orangnya gak punya kepala kali. Makanya, rambutnya gak basah." Jawab Luna, yang malah jawabannya horor.

Alfia menepuk jidatnya. "Please, Lun, ini bukan horor." Ucapnya kesal setengah mati.

"Gue nyerah, gak tau jawabannya. Teka-tekinya kayak matematika." Komentar Felina, menganggap bahwa teka-teki tersebut sangat sulit seperti menjawab soal Aljabar.

"Menurut gue sih teka-tekinya kayak Fisika. Gue juga nyerah deh. Gue masih sayang sama otak." Komentar Ajeng juga.

"Hany?" Tanya Alfia kepada Hany yang sedari tadi diam. Entahlah apa yang dipikirkan oleh Hany.

"Karena orang itu gak punya rambut." Jawab Hany sedemikian.

"Gak punya rambut?" Ulang Gifta dan Ajeng tak percaya.

"Tapi benar juga sih. Lama-lama gue potong rambut gue deh, biar kalo hujan rambut gue gak basah." Ucap Luna yang sepenuhnya bercanda.

"SALAH!!" Sergah Alfia menyalahkan jawaban Hany.

"Terus yang benar apaan?" Tanya Felina yang berusaha sabar.

"Yang benar karena kepala orang itu botak." Alfia membenarkan jawabannya.

Semuanya terdiam mencerna jawaban dari Alfia. Jawaban itu memiliki makna yang sama dengan jawaban Hany, namun berbeda huruf dan jumlah kata.

Felina menyenggol lengan Ajeng yang berada di sampingnya, lalu Ajeng menyenggol lengan Gifta, sementara Gifta menyenggol lengan Hany, dilanjutkan Hany menyenggol lengan Luna dan terakhir Luna menyenggol tiang bendera.

"Ya, jawaban lo emang paling benar." Serempak mereka terkecuali Alfia.

"Tentu. Gue emang jenius." Alfia memasang wajah super percara diri lalu tangannya dijentikkan di kepalanya. Padahal soal dan jawaban itu ia pernah mengsearch dari google. Lalu disini sebenarnya yang jenius, Alfia? Google? Keyboard? Atau jarinya Alfia? Tapi itu tak masalah yang siapakah yang jenius. Mereka tidak akan mempertimbangkan jawabannya kembali. You know why?

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang