Chapter 3

627 53 7
                                        

Bel sekolah telah dibunyikan lima menit yang lalu menandakan jam kedua akan segera di mulai. Kelas
7-2 hening tak ada yang membuka pembicaraan. Mungkin para murid belum terbiasa dengan suasana yang serba baru ketika menginjak SMP Winanta.

Sebagian murid masih mengingat teman SD-nya dulu sehingga merasa canggung untuk bergaul dan mengobrol dengan teman sebangkunya.

Felina dan Hany sudah duduk di kursi ke dua dihitung dari depan. Sedangkan Ajeng duduk bersama dengan Davina di barisan paling belakang.

Kalau Alfia duduk bersama dengan Alifia, tepat disamping meja Felina dan Hany. Nama Alfia dan Alifia hampir sama, banyak yang tertukar ketika memanggil mereka dan banyak yang mengira kembar. Padahal aslinya tidak.

Felina merasa penasaran dengan gadis berada dibelakangnya yang duduk bersama dengan Luna. Lantas ia membalikkan badan hendak memperkenalkan diri. "Hai, kenalin nama gue Felina. Nama lo siapa?" Tanya Felina.

"Gifta." Jawabnya dengan singkat dengan nada ketus.

"Namaku Hany." Tambah Hany juga menengok ke belakang.

"Oh." Jawab Gifta dan langsung melengos melipat tangan untuk menjadi tumpuan kepala. Gifta ingin menelungkupkan kepala sebentar menunggu kedatangan Guru.

Felina mengelus dada sabar mendengar jawaban bernada ketus dari Gifta. Baru kali ini ia bertemu orang yang cuek seperti Gifta.

"Kalo nama kamu siapa?" Tanya Hany menatap Luna dengan memasang wajah pura-pura lupa.

"Nama gue Siti." Jawab Luna asal sambil tersenyum. Tetapi, dalam hati ia terus menggerutu.

"Siti?" Tanya Felina penasaran.

"Lo Siti Ropeah? Ish gue ngefans banget tau sama lo. By the way, gue minta tanda tangan dong..." Sambar Alfia dan menghampiri meja mereka dengan membawa secarik kertas.

"Oh, tentu saja boleh." Ucap Luna dengan senang hati, lalu ia langsung mengambil bolpoin dari tempat pensilnya.

"Done." Ujar Luna lalu menyerahkan kertas itu ke Alfia.

"Wah, lumayan tuh." Ujar Ajeng juga ikut menghampiri dan pandangannya melihat kertas yang digenggam Alfia. Ajeng sedari tadi penasaran apa yang mereka perbincangkan disini.

"Iya dong." Sahut Luna dengan over pdnya sambil mengibaskan rambutnya ke belakang.

"Maksud gue lumayan kertasnya buat bungkusan nasi uduk." Ujar Ajeng kembali.

"Hahaha."

Lawakan Ajeng membuat tawa mereka pecah dan tanpa sadar semua murid di kelas ini sedang memerhatikan mereka. Terasa terganggu, May be.

Luna mencebikkan bibirnya kesal karena diledeki oleh teman-temannya. Ia bersumpah serapah akan membalas perbuatan mereka esok hari. Ia merasa tak terima akibat ada yang lawakannya lebih lucu darinya.

Gifta menaikkan kepalanya merasa terganggu dari posisi paling nyaman oleh suara tawa melengking masuk ke indra pendengarannya. Gifta menatap mereka tajam membuat mereka terdiam dan saling menyalahkan.

"Lo semua bisa diam gak sih?!" Tanya Gifta penuh penekanan di setiap kalimatnya.

Mereka pun terdiam.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang