Mamanya Luna, Rania baru saja selesai memasak makan malam dibantu oleh para maid. Rania beranjak untuk memanggil suaminya dan kedua anaknya bahwa makanan telah siap dihidangkan.
Ketika giliran untuk mengetuk pintu kamar Luna, untuk memanggil anaknya beserta sahabat anaknya untuk turun ke bawah. Namun tangan Rania tercekat melayang di udara saat mendengar suara tawa melengking yang begitu jelas terdengar dari balik pintu. Entahlah apa yang ditertawakan oleh mereka.
Tok... Tok... Tok...
"Luna, ayo turun. Semuanya sudah menunggu kamu dibawah untuk makan malam. Sekalian kamu ajak sahabatmu." Teriak Rania dari luar kamar, membuat suara tawa itu melenyap dalam sekejap.
"IYA, MA." Luna menyahuti dengan suara teriakan. Rania menggelengkan kepala ketika anaknya sering berteriak menurunkan sifatnya dari kecil.
Rania pun segera pergi dari situ.
"Woy cepet, itu makan malemnya udah siap." Ucap Ajeng sedikit berteriak.
Alfia terkejut dengan Ajeng yang mendengar makanan saja dapat langsung bersemangat. "Apaan sih?!" Tanya Alfia meninggikan nada suaranya.
"Ayo kita turun ke bawah. Kan kita juga disuruh ikut makan malam." Jelas Ajeng juga ikut meninggikan nada suaranya.
"Yeuhh, giliran denger makanan aja langsung sadar. Dasar perut karet."
"Lah daripada lo perut gajah."
"Sembarangan ya Lo kalo ngomong."
"Lo juga, ngapain ngatain gue perut karet?"
"Emang bener kan? Denger makanan langsung teriak. Lo bilang katanya gue suka teriak, nyadar mbak Lo juga sama."
"Tapi suara teriakan gue lebih merdu ya dari suara teriakan lo!"
"Enggaklah gue yang paling merdu. Suara gue itu bikin orang terkagum-kagum."
Luna tak mengerti dengan Ajeng dan Alfia yang suka berdebat hanya masalah kecil namun berujung di besar-besarkan. Akhirnya Luna memilih memisahkan mereka daripada terus bertengkar sampai besok atau bahkan selamanya karena tak menemukan ujung dari perdebatan. "AJENG! ALFIA! TOLONG JANGAN BERDEBAT DULU!!" Teriakan Luna ternyata bisa membuat mereka terdiam dan tidak melanjutkan perdebatan yang tidak ada faedahnya sama sekali.
"Sebenarnya kalian berantem beneran atau gak sih?" Tanya Hany penasaran dengan mereka yang baru bertengkar, tetapi tidak sampai lima menit sudah berbaikan.
"Gak kok, kita gak berdebat. Tapi cuman berselisih sedikit doang." Jawab Ajeng dan Alfia secara bersamaan dan saling menyodorkan bahu.
Tetapi Ajeng langsung melepas dan menabok pipi Alfia karena kesal ia dikatain 'perut karet'. Ajeng memang baper dan sensitif bila dikatain sedikit.
"Ini sebenarnya pada mau ngomong atau kebawah sih?!" Tanya Gifta membuat mereka tersadar.
"Sabar, Gif. Jangan ngomel-ngomel mulu nanti wajah Lo jadi muda Lho." Ucap Felina---aneh yang sepertinya ketularan virus kudet Hany.
Pletak!
Gifta menjitak kepala Felina pelan. "Nih! Kali-kali gue jitak kepala Lo. Biar bener seperti biasa, gak ngikutin kebiasaan Luna dan Alfia, juga kudetnya Hany." Ucapnya dengan bijak. Sepertinya menjitak orang akan menjadi kebiasaan Gifta setiap harinya.
"Jitakan nya mantep, euyy. Walaupun pelan tapi kerasa banget." Felina mengelus kepalanya yang bekas dijitak oleh Gifta. Terasa sakit sedikit sih. Tapi tetap saja Felina menggaruk kepalanya bertanda bingung. Aneh ya, kepalanya sakit kok jadi bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
Ficțiune generală"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)