Chapter 55

116 32 2
                                        

Mobil berhenti tepat di depan halaman rumah yang lumayan luas. Alfia pun turun turun dari mobil Bundanya terlebih dahulu lalu ia cepat-cepat menunggu di depan pintu, baru kemudian Sinta menyusul dan wanita itu menggeleng melihat anaknya yang sangat semangat. Padahal pertamanya Sinta mengira Alfia akan marah-marah atau ngambek akibat Sinta yang tidak memberi respon apa-apa.

Sinta mengambil kunci yang diselipkan di dalam dompetnya. Kunci rumah itu diarahkan ke lobang pintu lalu wanita itu memegang gagang pintu dan membukanya perlahan-lahan.

Alfia melepas sendalnya dan menaruh di rak, lalu ia berjalan mengekori Bundanya. Alfia pikir sepertinya Sinta akan segera memberitahunya kalau dilihat dari ekspresi wajahnya itu.

Tepat seperti dugaan Sinta duduk di sofa ruang tengah, lalu menepuk sofa sebelahnya bertanda Alfia disuruh duduk disitu. Alfia menurutnya.

"Maaf kalo selama ini Bunda punya satu rahasia yang belum Bunda ungkap sampai saat ini." Ujar Sinta dengan memasang wajah lesu dan menghela napas, berkali-kali Alfia lihat seperti itu. Mungkinkah benar?

Alfia memilih diam menunggu Sinta melanjutkan omongannya. "Bahkan Ayahmu saja, Bunda tak beritahu."

"Maksud, Bunda?" Alfia langsung membelalakkan matanya.

"Sebenarnya Ayah kandung kamu--bukan Ayah Adi, Tapi...." Sinta menggantung omongannya dan menunduk. "Ayah kandung kamu adalah Ayah Faiz."

BOOM!

Seperti ada bongkahan batu besar yang menimpa kepala Alfia, kenapa-- kenapa Bundanya merahasiakan ini? Sebenarnya sakit memang, Ayah yang sudah sangat ia sayang, ternyata bukan ayah kandungnya. Bunda, kenapa jahat banget sama aku, nutupin rahasia ini? Kenapa aku tidak diberi tau?

"Apakah Papanya Clarissa itu Ayah kandungku?"

"Ya."

Alfia terkejut. Ia melanggar janjinya yang akan menerima keputusan apapun dengan hati lapang dada. Tetaplah Alfia tidak terima dengan kenyataan ini dengan semudah itu. Dan kenapa bisa begini?

Tanpa sadar keluarlah cairan merah dari hidung Alfia karena ia terlalu banyak berpikir. Sinta menaikkan kepala dan langsung tersadar, "Kamu..." Kemudian dengan cepat Sinta mengambil tisu lalu wanita itu membersihkan darah di hidung Alfia.

Alfia hanya diam dan memperhatikan Bundanya.

"Kamu jangan terlalu banyak berpikir, Al. Bunda khawatir kamu terjadi apa-apa. Bunda sayang kamu. Bunda gak mau kalo kamu sakit." Ucap Sinta cerewet lalu ia berdiri dan membuang tisu itu ke tempat sampah. Tak lama Sinta kembali dan duduk di tempat semula. "Apa akhir-akhir ini kamu terlalu banyak berpikir?"

"Bunda kepo banget sih!" Jawab Alfia yang tiba-tiba saja nadanya langsung ketus.

Hati Sinta langsung merasakan nyeri mendengar jawaban anaknya.

"Kamu harus jaga kesehatan kamu, Al. Tubuh kamu sangat lemah."

Alfia menjawab sambil mendesis, "Aku gak peduli dengan kesehatan aku!" Lalu ia berkata kembali, "Bunda jangan ngalihin topik napa! Jelasin kenapa Ayah Adi bukan Ayah kandungku!" Biar saja hilang kesopanan Alfia karena jujur Alfia sangat emosi sekarang.

Sinta menghela napas kembali, sebenarnya Alfia tak tega karena sudah membentak, tapi mau gimana lagi? Alfia sangat malas karena Bundanya itu telah berbohong bertahun-tahun lamanya.

"Sebelum Bunda menikah sama Ayah Adi, Bunda udah menikah duluan sama Ayah Faiz. Dan lahirlah kamu."

"Kenapa aku gak inget sama sekali, Bun?"

"Shtt. Kamu jangan memotong ucapan Bunda.” Perintah Sinta kepada Alfia agar tidak banyak bertanya disaat wanita itu sedang menjelaskan.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang