Keesokan harinya di perpustakaan sekolah, Alfia dan Clarissa membawa buku tulis masing-masing lalu keduanya duduk di kursi yang telah disediakan. Pandangan murid yang sama halnya berada disitu tertuju kepada Alfia dan Clarissa, oh lebih tepatnya tertuju kepada Clarissa. Tapi Clarissa harus tak peduli dengan sekitarnya!
Alfia menyiapkan buku IPS kelas 4. Kenapa harus kelas 4? Dikarenakan Clarissa bilang sendiri kalau dari mulai kelas 4 Clarissa bingung menghapal semua isi buku ini, padahal sudah dibaca. Bukannya hapal malah kepalanya jadi pusing.
"Sa, sekarang Lo kelas 6 apa?" Tanya Alfia. Di sekolah ini, setiap kelas di kelompokkan. Misalkan; 6a, 6b, 6c dan 6d.
Clarissa menjawab. "6d."
Alfia menjawabnya dengan anggukan. "Kalo gue---"
"6a?" Sambar Clarissa, menebak-nebak.
"Tau aja." Jawab Alfia tak percaya. "Oke. Jadwal kita hari ini adalah IPS. Pasti Lo akan bertanya, gimana caranya menghapal semua pelajaran? Menurut gue sih, gak terlalu sulit. Caranya, kita harus merangkum setiap mata pelajaran yang bagian pentingnya aja. Kayak gini nih." Alfia memberikan bukunya kepada Clarissa. Perlahan dibolak-balik lembaran buku itu. "Sa, Lo bawa kertas ulangan IPS kelas 4 kan?"
Clarissa meletakkan bukunya Alfia diatas meja. "Ba-bawa sih, tapi..." Dia menyerahkan kertasnya dengan ragu-ragu.
"Tapi apa sih?" Alfia langsung merebutnya. Tertera nilai 30 disini, mengetahui itu Clarissa tertunduk ketika Alfia sudah melihat hal yang paling memalukan menurutnya. "Gue janji bakal ajarin semua pelajaran kelas 4, 5, 6 dan gue ajaran matematikanya sedikit aja karena gue sendiri juga gak terlalu bisa. Gimana?'' Tawarnya kemudian memberikan kertas tersebut kepada Clarissa.
"Mau." Dengan senang hati Clarissa menyetujuinya.
Kemudian keduanya belajar bersama dan menyatat hal yang penting dengan serius di jam istirahat ini. Alfia tersenyum ketika melihat Clarissa sangat bersemangat.
Beberapa hari kemudian Clarissa datang ke kelas Alfia dengan tersenyum cerah, membawa satu lembaran kertas, tanpa mendengar bisikan sana-sini.
"Alfia..." Clarissa menghampiri Alfia yang tengah memakan bekalnya. Alfia merasa terpanggil langsung menengok ke asal suara. "Al, tebak sekarang gue ulangan harian ips dapat berapa?'' Tanyanya girang.
"Gak tau. Coba sini gue lihat." Pinta Alfia mengulurkan tangannya bermaksud melihat kertas itu. Lalu Alfia langsung tersedak melihat angka di kertas ini yaitu 80. "Wah selamat Clarissa, akhirnya lewat dari 70." Ia membuka botol air dan meminumnya.
"Makasih. Walaupun gue gak bisa balap nilai Lo, tapi gue tetep bersyukur. Tadi gue juga ulangan Matematika dapet nilai 50, gue seneng banget karena ada peningkatan." Cerita Clarissa.
"Oh ya?"
"Iya." Clarissa memegang tumpukan buku di meja Alfia. "Buku Lo kok banyak banget?" Herannya.
Alfia menutup kotak makannya sejenak, ditaruh di dalam tasnya. "Bukan punya gue doang, tapi sama temen-temen gue. Disuruh sama wali kelas buat bawain bukunya ke kantor guru." Jawabnya.
"Gue bantuin bawain ya." Tumpukan ini dibagi dua secara sama rata, Clarissa mengambil buku-buku tersebut.
"Yok!" Ajak Alfia setelah mengambil tumpukan bukunya yang satunya.
Disepanjang perjalanan menuju ruang guru yang terletak lantai dua, Alfia sadar kalau Clarissa sekarang malu bertatap muka dengan mereka. Alfia berusaha mengalihkan pemikiran dia. "Sa, setelah UN nanti, gue lomba nari lagi." Ucapnya.
"Enak banget." Benar saja Clarissa langsung terkagum. "Al, Lo bisa ajarin gue nari gak?"
Alfia langsung mendelik. "Gak." Jawabnya singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
Fiksi Umum"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)