Chapter 54

102 36 3
                                        

Cukup lama Ajeng masih tetap di posisinya, menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan. Sifatnya yang baperan membuat Ajeng sulit menghentikan tangisannya berulang kali. Lalu Ajeng menekan tombol back pada layar ponselnya. Dan matanya langsung melotot ketika melihat jam 08.40. Gawat ia telat 3 menit.

Kemudian Ajeng mencari kontak guru yang mengajar ekstrakulikuler paduan suara. Ia mulai mengetik beberapa kalimat di keyboard dengan sangat cepat.

Me:
Maaf, Pak, saya izin 8 menit telat masuk ke kelas karena saya lagi ada keperluan.

Setelah menulis pesan itu akhirnya Ajeng bisa menghembuskan napasnya merasa lega. "Gue emang terlalu baperan orangnya, dikit-dikit nangis." Ucap Ajeng mengakuinya, lalu dihapus lagi air matanya yang masih tersisa agar tidak ada yang mengira ia habis nangis. Namun kantung matanya nampak sedikit berwarna hitam melingkar seperti mata panda.

"Gue gak boleh nangis, kalo misal Alfia liat keadaan gue kayak gini, nanti dia malah balik membenci gue." Lalu Ajeng menatap pantulan wajahnya lewat kamera ponsel. Hidung dan matanya merah, bahkan Ajeng tak sanggup melihat keadaan wajahnya.

"Wajah gue jelek amat."

Dengan cepat Ajeng memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Ke toilet dulu deh buat cuci muka. Nanti gue malah diketawain, dikira lagi ngelawak." Pikirnya, kemudian ia menggeleng kepalanya cepat menghapus pemikiran yang aneh-aneh. Pasti sangat memalukan masuk ke ruangan eskul padus dalam keadaan seperti ini. Bukan hanya itu, nanti pasti ada yang mengira Ajeng Joker. Lay lay lay. Orang jahat berawal dari orang baik yang tersakiti.

Ajeng kembali menggeleng, kali ini lebih cepat. "Kenapa gue jadi mikirin joker, ya? Gak ada waktu buat mikirin itu. Lo hanya punya waktu tiga menit." Ujarnya dan ia langsung melupakan Lagu Joker yang tadi sempat memenuhi otaknya.

Lalu Ajeng segara meninggalkan kelas ini tanpa membawa tas. Karena juga nanti ia akan balik kesini kembali, toh, lagipula jarak toilet dan kelasnya tidak terlalu jauh.

***

Suara tawa Clarissa melengking dengan tatapan penuh kebencian. Bersamaan dengan angin yang berhembus kencang hingga menggerak- gerakkan daun pada semua pohon. Disini, tidak ada orang lain lagi selain dia dan Alfia karena semua murid sudah disibukkan dengan kegiatan eskulnya masing-masing sehingga tidak ada saksi mata yang melihatnya.

"Kali ini Lo yang menang, Al." Ucap Clarissa, jangan lupakan sorotan mata yang sangat sinis menatap Alfia yang memasang wajah bingung, seolah tidak mengerti maksud ucapan Clarissa. "Sekali lagi Lo berhasil ngancurin hidup gue."

Lho, kok Clarissa yang merasa hidupnya hancur? Bukannya seharusnya Alfia?

Perkataan Clarissa sangat tidak masuk akal. Namun Alfia masih memilih membisu. Alfia hanya memakai baju lengan  berwarna putih bertuliskan Best friend dan celana jeans panjang, tanpa membawa tas, sebenarnya memang Alfia tak ada niat pun pergi ke Sekolah.

"Apa Lo tau letak kesalahan Lo dimana?" Tanya Clarissa dengan nada suara sangat dingin seakan mengintimidasi.

Alfia menjawab, ketidaktahuannya. "Maksud Lo apa sih, Sa? Lo kalo ngomong yang jelas napa! Dan gue ngerasa gue gak punya salah apa-apa."

Dia mendengus sebal dan memutar bola matanya malas. "Mau tau kenapa gue dendam sama Lo!?"

Jantung Alfia langsung berdesir ketika ditanya itu. Tentu jawabannya iya, Alfia ingin tahu kenapa Clarissa dendam dengannya sehingga ia begitu dibenci. "Ya, gue ingin tau!" Jawab Alfia penuh penekanan tanpa berpikir dulu. Buat apa berpikir? Dia sendiri toh yang menawarkannya.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang