Chapter 66

122 36 2
                                        

Alfia menggeliat kecil di posisi tidurnya, punggungnya terasa sakit seperti ia tengah tertidur di atas sesuatu yang tajam. Kemudian tangannya digunakan untuk menggosok mata dulu baru setelah itu membukanya. Alfia langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Semuanya gelap dan dingin menusuk kulitnya serta suara-suara yang tak enak didengar mulai bermunculan. Alfia meraba-raba sekitarnya. Banyak batu-batu disini. Ah pantas saja punggungnya tadi terasa sakit.

Alfia berdiri lalu bercelingak-celinguk, lalu kepalanya menunduk dan lebih terkejut ketika melihat ia tengah mengenakan baju putih polos dengan berdarah-darah dan terdapat tulisan 'Sorry'.

"Lho, kok gue pake baju putih? Bukannya sebelumnya gue pake baju tidur ya dan juga gue lagi tidur di kamar. Ini ngapa lagi ada darah-darah begini, emangnya gue abis ngapain coba?" Alfia berjalan pelan mengamati sekitarnya, lama-lama sedikit terang. Hanya ada batu-batu kecil dan hamparan tanah saja.

Tiba-tiba muncul rasa takut yang hebat. "Gue dimana? Gak mungkin gue tidur sambil jalan dan terus nyampe-nyampenya kesini. BUNDA ADA DIMANA?" Alfia terus berjalan dengan lambat mengikuti arah.

"Alfia." Terdengar seseorang yang memanggil namanya dari belakang. Alfia berhenti berjalan dan langsung menengok ke belakang, namun ia tidak mendapati apa-apa. Bukankah tadi ada yang memanggil namanya?

Alfia tidak salah mendengar suara itu. Bulu kuduknya langsung merinding, tapi anehnya dia tetap diam disitu seakan ada yang menahannya. Ia mencubit dan menabok diri sendiri, berharap segera terbangun jika ini hanya sebuah mimpi.

Tapi tidak ada yang terjadi. Semuanya tetap sama. "Apa ini asli? Bukan mimpi, kah?" Alfia termenung sendiri dan beberapa detik kemudian dia langsung berteriak, "AAAA, GUE MAU PULANG!"

"Alfia." Dari belakang terdengar suara kembali membuat tubuh Alfia mematung dan matanya langsung melotot. Baru sadar suara ini dengan yang pertama kali ia dengar, ternyata ia sudah sangat mengenalinya.

Dengan cepat Alfia berbalik badan. Alangkah terkejutnya melihat Kakak kelasnya dulu waktu SD yang sangat dekat bahkan ia telah menganggapnya saudara sendiri tengah berdiri di hadapannya dengan memakai baju serba hitam. Kepala dia menunduk. Hanya saja ada sebuah kejadian tragis, yang membuat Alfia harus kehilangan satu orang terdekatnya.

"K-kak I-va? K-kenapa... kenapa... bisa..." Alfia terbengong sehingga dia tidak bisa berbicara dengan lancar. Nada suaranya gemetar dan akhirnya dia memilih tidak melanjutkan ucapannya.

Masih terkejut, Alfia memajukan langkahnya secara perlahan, namun Iva segera menghentikannya. "Berhenti! Kamu jangan mendekat Alfia!" Perintah Iva lalu dia menaikkan wajahnya yang pucat bersinar dan tersirat emosi di dalam nada suaranya.

Mendengar perintah itu, Alfia langsung menghentikan langkahnya. "Kenapa aku tidak boleh mendekat? Kenapa--kenapa aku bisa ada disini? Apakah ini ulah Kak Iva? Tolong kembalikan aku ke dunia ku, Kak! Dunia kita udah berbeda! Apa mungkin karena aku belum menemukan adiknya Kak Iva, jadinya Kak Iva marah? Tolong Kak kembalikan aku ke dunia ku. Aku takut. Hiks." Ia menangis tersedu. Entahlah diantara rasa senang saat berjumpa dengan Iva dan rasa takut berada disini tercampur menjadi satu.

"Maaf." Satu kata, empat huruf berhasil membuat Alfia kebingungan dengan ucapan permohonan maafnya. Iva tidak menjawab pertanyaan dari Alfia. Apa arti maaf yang diucapkan Iva barusan?

"Kenapa Kakak minta maaf? Kak Iva gak punya salah, jadi enggak usah minta maaf. Seharusnya aku lah yang minta maaf, karena aku---aku." Tak bisa menahan tangis, akhirnya Alfia menangis lagi. "Aku lah yang membuat Kakak kehilangan dunia, kehilangan segalanya. Padahal aku lah yang punya masalah, tapi Kak Iva yang kena. Maaf kak. Maaaafff. Seharusnya aku yang ada di posisi kakak. AKU EMANG BODOH!"

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang