Tas berwarna biru milik Hany dan Alfia ditaruh asal begitu saja diatas lantai. Alfia kebingungan bagaimana membersihkan seragam yang tidak layak digunakan lagi untuk belajar di kelas nanti dan juga Alfia tidak membawa baju ganti.
"Kamu tunggu disini dulu ya." Tutur Hany yang ingin pergi dari toilet ini, tapi dicegat oleh pertanyaan Alfia. Mau tak mau Hany menunda kepergiannya dulu sebentar.
"Mau kemana?" Tanya Alfia justru berprasangka buruk. Takutnya Hany tidak balik kesini lagi, ya padahal jaraknya cukup dekat dengan kelas 7-2.
Hany tersenyum manis lalu menjawab, "Mau ke koperasi buat beli seragam batik baru." Kemudian Hany melihat penampilan Alfia secara keseluruhan. Hanya bagian seragamnya yang kena, sementara bagian rok masih terlihat bersih.
"Seragam kamu kotor banget begitu, yakin masih dipake sampe pulang sekolah?" Sewaktu sekarang Hany membawa banyak uang, Hany dapat membeli seragam batik yang tidak bisa dibilang murah. Namun jangan diragukan lagi kualitasnya.
Seragam batik berwarna biru dengan motif bunga menjadi ciri khas SMP Winanta.
"Besok aku ganti ya duitnya, soalnya sekarang aku gak bawa duit banyak." Aduh, kok Alfia merasa tidak enak ya. Jaket kemarin saja belum Alfia kembalikan karena masih belum kering dijemuran.
"Gak usah."
"Gak. Pokoknya gue ganti!"
"Yaudahdeh terserah kamu."
Setelah menjawab, Hany benar-benar pergi dari tempat ini. Jadi Alfia merasa lega disini tanpa seseorang pun yang tahu, sebenarnya dari tadi Alfia berusaha mati-matian menahan setetes air mata yang ingin turun dari pelupuk mata.
Kini lepas begitu, setetes bulir air berhasil turun dengan pelan dari pelupuk mata dan Alfia menatap dirinya yang buruk lewat pantulan cermin. Menangis tanpa bersuara sebagai pilihannya.
Seringkali merasa bersalah. Padahal jelas sekali bukan salahnya. Hampir setiap hari ia merasakan begitu.
Alfia memegang sehelai rambutnya yang lepek serta mengeluarkan bau tak sedap. Setetes bulir lagi lolos dari matanya dengan cepat. "Kenapa... Kenapa gue gak marah? semua temen pada bully gue?" Lagi-lagi Alfia hanya bertanya kepada diri sendiri.
Bingung, kenapa ia hanya diam? Kenapa ia tidak menampar pipi mereka satu per satu? Kenapa hatinya selalu berkata untuk cepat memaafkan mereka? Banyak kata kenapa yang sering bersarang di dalam otaknya.
"Semakin gue gak peduli, yang ada mereka makin gencar ngebully gue. Besok pasti lebih parah."
Keputusan yang sangat sulit Alfia terima untuk pindah sekolah sebab Alfia sudah kekeh agar bertahan di Sekolah ini. Biar bagaimanapun tak ada orang selain Hany yang meliriknya.
"Seandainya Doraemon itu nyata, gue akan minjem mesin waktu untuk mengulang kejadian di jurang."
"Gue gak kuat hidup begini terus!" Alfia merogoh saku rok dan mengambil cutter yang entah sejak kapan sudah berada disitu. Seperti dirasuki setan, Alfia nekat mendekatkan cutter itu ke nadi, really crazy.
Sedikit lagi ia menusuknya, namun tiba-tiba Alfia tersadar apa yang tengah dilakukannya. "Tanpa gue bunuh diri, hidup gue tetep gak akan bertahan." Ia tersenyum miris menatapi nasibnya selalu buruk dan Alfia hanya menggores lengan tangan kanannya dengan cepat. Tak ada rasa perih, tapi hatinya yang perih.
Namun bukannya lengannya yang berdarah, justru hidungnya yang mengeluarkan darah merah segar lebih banyak dari biasanya. Karena stres sering berpikir macam-macam, ia pasti akan mimisan.
"Ayok siapa lagi yang mau nyakitin gue, mumpung gue masih hidup! Gue gak bakal marah."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]
General Fiction"Persahabatan sejati kami tidak akan mudah hancur bila tak ada satu pengkhianat." Berawal dari Hany, Felina, Ajeng, Alfia, Luna dan Gifta memasuki SMP Winanta. Mereka menjadi sebuah sahabat sejati dan berjanji akan saling menjaga satu sama lain. Ala...
![Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/205211547-64-k671310.jpg)