Chapter 39

120 35 0
                                        

"Al, gue seneng banget dapet juara satu. Maaf ya, Al, gue udah rebut posisi Lo."

"Santai aja, Sa, gue mah gapapa yang kedua."

"Duh, gue jadi ngerasa gak enak nih."

Sore ini Alfia sedang menelepon Clarissa di seberang sana. Ia menutup tirai kamarnya lalu duduk di pinggir kasur. "Gue masih curiga siapa yang ngambil buku rangkuman gue." Walaupun Alfia sudah ikhlas kalau ia bukan juara satu lagi, tapi tetap saja ia kesal kenapa diwaktu dekat ini bukunya hilang secara tiba-tiba.

"Ehh--kalo itu emm gue juga gak tau hehe. Oh ya, Al, gue boleh ikut lomba nari gak, pendaftarannya masih dibuka kan? Kata Lo sendiri kalo gue bisa jawab soal dengan baik, gue boleh ikutan lomba."

"Emangnya Lo bisa nari?"

"Enggak sihhh. Tapi Lo bisa ngajarin gue nari kan?"

Alfia terkejut. "Gue gak bisa ngajarin Lo. Lo tau sendiri kan perlombaannya kapan? Gue juga butuh latihan sendiri."

"Yaampun, ajarin sebentar doang apa susahnya sih!"

"Ck. Lo jangan egois, Sa. Emang Lo ikut lomba buat apa?"

"Ya--emm--biar menang lah sama kayak Lo."

Entah kenapa Alfia jadi kesal sendiri. "Denger, Sa. Lo kan tadi udah dapet juara. Apa Lo belum puas?"

"Kok jadi nanya gitu? Apa jangan-jangan Lo gak ikhlas ngajarin sahabatnya sendiri?"

Ingin sekali Alfia mengeluarkan emosinya, tapi ia berusaha meredamkannya. "Bukan begitu, Sa. Lo pasti gak bakal bisa kalo cuman latihan satu hari. Udah pokoknya mending Lo jadi penonton aja. Gue mau latihan dulu, bye." Ia mematikan teleponnya secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari Clarissa.

Alfia menggenggam erat ponselnya. "Kenapa Lo terus ngikutin gue, Clarissa?"

***

Hari ini lomba menari yang telah dinanti oleh Alfia telah tiba. Kini Alfia dengan ditemani Sinta sudah sampai di tempat yang telah dihias semenarik mungkin dan seperempatnya terbuat dari kaca. Alfia sudah mengganti pakaiannya menjadi baju khusus menari. Nanti ia akan menampilkan tari jaipong.

Alfia mengalihkan pandangannya ke penjuru mencari keberadaan seseorang. Dari kejauhan terlihat Clarissa dan kalau salah lihat sepertinya bersama Mamanya Clarissa menuju kesini

"Lo cantik banget pake baju ini." Clarissa terkagum-kagum, nampaknya ia ingin seperti Alfia.

"Gak kok biasa aja." Jawab Alfia merendahkan dirinya.

Perlahan keduanya berjalan kesana meninggalkan orang tua mereka yang mengobrol. Clarissa menghentakkan kakinya kesal berkali-kali. "Ihh... Kenapa Lo gak ngajak gue ikut lomba dari awal sih?!" Protes Clarissa.

"Lo-nya aja yang gak bilang, cuman minta ngajarin doang." Ujar Alfia kemudian ia mendengar pengumuman bahwa semua peserta disuruh berkumpul dibelakang panggung. "Sa, gue tinggal Lo disini ya, gue mau ke belakang panggung." Alfia berjalan dengan cepat menuju kesana setelah Clarissa mengangguk.

"Semoga---sukses." Ucap Clarissa. "Dan tunggu kejutan dari gue." Gumamnya sambil tersenyum sinis.

Tak terasa sekitar satu jam lebih telah berlalu. Juga sudah ditentukan pemenangnya dan Alfia bersyukur kalau ia masih bisa menampilkan bakatnya dengan baik sehingga mendapat juara satu. Tangan Alfia kini memegang sebuah piala.

Kami Sahabat Sejati [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang