01. Kabar Itu

5.3K 249 6
                                        

"Kook, aku tahu kabar ini akan membuatmu merasa terpukul. Tapi ku harap kau mampu menerimanya." Ucap Kai dengan suara yang terdengar sedikit parau dari seberang telpon. Jungkook mengernyit lantas bertanya, "Ada apa?"

"Putrimu telah tiada."

-Mama, Don't Cry-

Keheningan menyelimuti pasangan suami istri itu. Mata keduanya memerah, jejak dari air mata mereka telah mengering. Keduanya memikirkan hal yang sama, tentunya. Apalagi kalau bukan kematian putri mereka?

Kabar tentang meninggalnya putri mereka jelas membuat Jungkook syok. Ia segera pulang ke rumah untuk menemui istrinya. Asyiela yang tak tahu apa-apa menyambut Jungkook seperti biasa. Tak ada yang berbeda. Namun, wajah panik dan pucat pria itu membuat Asyiela merasakan firasat yang buruk dan benar saja, putri mereka telah tiada. Begitupula dengan Ayah dan Ibu Asyiela, serta Suga yang turut serta dalam mobil yang ditumpangi oleh gadis kecil mereka.

Segera mereka menuju rumah orangtua Asyiela, tempat dimana semua orang telah berkumpul untuk menyampaikan duka cita. Asyiela melihat bagaimana kondisi Ayah, Ibu, serta saudaranya dan juga anaknya merasa lemas. Ia tak sadarkan diri selama beberapa saat. Syukurlah Kai langsung menangkap tubuh wanita itu karena Jungkook sendiri tak mungkin untuk menangkap istrinya yang tengah mengandung anak kedua mereka saat itu. Jungkook masih tak percaya melihat putri kesayangannya terbaring dengan kulit yang benar-benar tanpa rona. Putrinya yang ceria yang akan menyambutnya dengan pelukan dan senyuman hangat ketika ia pulang kini telah tiada, terbujur kaku dan akan segera terkubur dengan tanah. Hal ini terjadi begitu cepat, membuat Jungkook sama sekali tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Putrinya.

Putrinya, Jeon Ha Ram, telah tiada.

"Kita sudah sampai," ujar Jungkook terkesan dingin dengan tatapan yang masih kosong. Asyiela membuka pintu mobil dan segera memasuki rumah mereka. "Aku akan mandi. Jangan ganggu aku." Lanjut Jungkook membuat Asyiela hanya mengangguk.

"Jangan lama-lama, ya. Udah malam, kalo aku kemalaman mandi nanti takutnya sakit." Balas Asyiela sembari mengunci pintu rumah mereka. Jungkook terdiam, berbalik kemudian menyudutkan Asyiela, "Apa tadi kamu bilang?"

Mengerjapkan mata berkali-kali, Asyiela mencoba menjawab, "E-eh? Erm, jangan lama-lama--"

"Takut sakit?" Potong Jungkook membuat Asyiela mengangguk. Jungkook tertawa sinis, "Memangnya aku peduli?" Asyiela menatap Jungkook tak mengerti. Apa ada yang salah pada dirinya?

Tatapan Jungkook terkunci pada perut Asyiela yang membuncit. Menghela nafas, Jungkook mengusap wajahnya kasar. "Maaf, sayang. Aku--"

"Ga apa-apa. Aku lap badan aja deh biar ga sakit. Kamu mandi, gih. Aku buatin makan malam dulu, ya." Balas Asyiela tanpa mau memandang Jungkook. Ia keluar dari kungkungan Jungkook, menuju dapur. Jungkook meraih handuk, menuju kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia mengacak rambutnya frustasi. Ia terlalu emosi dan terbawa perasaan hingga bersikap kasar pada wanita itu.


Usai mandi, ia segera memakai pakaiannya di kamar. Kemudian segera ke ruang makan untuk menjumpai istrinya. Namun, setibanya disana, Asyiela tak ada. Hanya ada tudung saji dengan sticky notes tertempel di sana.

Jungkookie oppa, makanlah lebih dulu. Aku pergi ke luar sebentar, mencari udara segar.

Tangan Jungkook meremas sticky notes itu. Ayolah, seorang wanita pergi sendiri ketika malam telah larut itu berbahaya. Bukannya mendapat ketenangan, istrinya itu bisa saja celaka. Banyak rampok serta preman berkeliaran di luar sana. Dapatkah wanita itu sedikit berpikir?

Segera Jungkook mengambil jaketnya, melenggang keluar dari rumah. Ia meraih ponselnya, menelepon wanita itu. Namun, yang ia dapati adalah getaran pada saku jaketnya.

Asyiela, kenapa kau membuat pikiranku semakin kacau? Batin Jungkook kesal. Kakinya mulai berlari, menuju arah taman yang terdapat di kompleks perumahan mereka. Dan benar saja, Asyiela ada disana.

Dugaan Jungkook benar, Asyiela dikepung oleh beberapa preman. Kepalan tangannya mengerat, segera menuju istrinya dan membantai habis preman-preman disana. Tinju ia layangkan sekuat tenaga, sembari menyuruh Asyiela agar berlari kembali ke rumah. Asyiela mengangguk, berlari sekencang yang ia bisa ke rumah.

-Mama, Don't Cry-

"Maaf, sayang." Lirih Asyiela yang sedang mengobati luka Jungkook. Jungkook meringis, "Jangan kuat-kuat tekan kapasnya, Syiela." Asyiela mengangguk, menatap luka suaminya ia ikut meringis.

"Maaf," ucap wanita itu lagi. Ia menunduk, air matanya kembali menetes. "Aku membuatmu khawatir. Aku memang tidak berguna. Aku bahkan tak becus menjaga Genie. Aku--"

Jungkook yang tak sanggup mendengar ucapan istrinya itu segera memeluk istrinya erat. Diusapnya punggung wanita itu lembut, berusaha memberi ketenangan. Tangisan Asyiela semakin menjadi, terlebih ketika mengingat bagaimana tubuh putrinya telah terbujur kaku. Putrinya yang selalu riang dan tersenyum. Putrinya yang cerdas, putrinya yang akan selalu bercerita mengenai bagaimana aktivitasnya di sekolah setiap sore.

Belum lagi wajah ayahnya dan Suga yang masih segar di memorinya. Asyiela teringat tentang momen-momen yang ia miliki bersama keluarganya. Tak terkecuali ibu tirinya. Walau hanya sempat bersama dalam sepuluh tahun terakhir, ibu tirinya itu memerlakukam dirinya sama dengan Dineka yang mana merupakan putrinya sendiri.

"Bukan salahmu," ujar Jungkook membuat Asyiela mendongak. "Kamu mengurus Genie dengan baik. Kematiannya bukanlah kesalahanmu. Sudah waktunya ia pergi."

Asyiela kembali menunduk, melepaskan peluknya dari Jungkook dan menatap perutnya sendiri.

"Tenanglah, sayang. Kalau kamu sedih Genie dan adiknya juga akan sedih. Kita istirahat, ya?"

Asyiela mengangguk, menuruti suaminya. Ada sepercik rasa takut muncul dalam hatinya.

Bagaimana jika kelak ia harus kehilangan anaknya lagi?

-Mama, Don't Cry-

Heyho!

Jadi, gimana cerita ini menurut kalian?

Di cerita ini mungkin lebih banyak sedihnya dibanding yang roleplay. Semoga kalian kuat bacanya,ya.

Seperti biasa, vote dan komen sangat diperlukan bosque

Tekan tombol ☆dan komen itu ga bayar, kok

Ga makan waktu juga

Berikanlah apresiasi kalian pada para author

Satu vote dan komen dari kalian sangat berharga, sungguh

Oh, ya

Say hello to Jeon Ha Ram a.k.a Genie

Yang ada di mulmed itu Genie ya

See you!

Mama, Don't Cry (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang