Jungkook memerhatikan putranya yang tampaknya sudah mulai tertidur. Tersenyum kecil, ia bangkit dari tempat tidur anaknya kemudian menyelimuti tubuh mungil putranya itu. Tak lupa, ia mengecup kening Eunwoo dan mengucapkan selamat malam sebelum akhirnya mematikan lampu serta menutup kamar anaknya.
Jungkook melihat ke arah jam yang ada di dinding ruang tengah. Sudah pukul sepuluh malam. Artinya, sudah satu jam lamanya Asyiela menunggu dirinya di rumah sakit. Menghela nafas berat, pria itu meraih kunci mobil serta kunci rumah yang tadi ia letakkan di meja.
Baru saja Jungkook akan menaiki mobilnya, seseorang memanggil namanya. "Ah, bukankah kau Jungkook?"
Jungkook menoleh pada seorang gadis muda yang berdiri di teras rumah yang setahu Jungkook kosong dan kebetulan berada di sebelahnya. Gadis muda yang Jungkook perkirakan masih SMA itu tersenyum ramah, "Biarkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Kieu Trang. Saya baru pindah ke sini."
Jungkook mengangguk kecil, kemudian gadis itu melanjutkan. "Ah, ya. Itu abang saya yang sedang berada dalam mobil. Dia seorang ulzzang. Panggil saja ia dengan sebutan Dei."
Pandangan Jungkook mengikuti arah yang ditunjukkan gadis bernama Kieu itu. Dalam mobil tersebut, seorang pemuda melambaikan tangannya.
Hanya ada satu hal yang mengganggu pikiran Jungkook dan hal itu tak lain dan tak bukan adalah warna dari mobil tersebut yang berwarna merah. Jujur saja, setelah mendapat potret surat Genie dari Rapmonster, Jungkook sedikit banyak merasa takut ketika melihat mobil berwarna merah ada di sekitarnya. Ia jadi parno terhadap setiap mobil berwarna merah, bahkan menolak untuk syuting video klip maupun drama jika dalam video tersebut ia harus mengendarai atau berada di dekat mobil berwarna merah.
"Ah, maafkan saya." Ujar gadis berkacamata bulat itu tiba-tiba. Jungkook menaikkan alisnya, seolah sedang menanyakan alasan gadis itu meminta maaf. "Ku dengar, Anda memiliki trauma dengan mobil berwarna merah." Belum lagi Jungkook bertanya, gadis itu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu disana. "Aku melihatnya di artikel ini."
Jungkook lagi-lagi hanya mengangguk kecil, entah kenapa merasa malas untuk membuka suara pada gadis ini bahkan hanya untuk membalas 'ya'. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya merasa harus menjaga jarak dengan tetangga barunya ini.
"Saya masuk dulu, besok harus sekolah. Sampai jumpa, Om." Pamit gadis itu sebelum memasuki rumah. Jungkook menatap pada mobil yang katanya dikendarai oleh Dei, abang dari Kieu. Dei tampak melajukan mobilnya begitu saja ketika Jungkook menoleh padanya.
Jungkook tak mau berburuk sangka ataupun berniat untuk mencurigai semua orang yang memgendarai mobil berwarna merah. Tapi, ia punya firasat.
Kieu bisa jadi adalah orang yang menghilangkan nyawa putrinya dalam kejadian empat tahun silam.
-Mama, Don't Cry-
"Jungkook, apa kau marah?" Tanya Asyiela ketika melihat sosok suaminya berada di ambang pintu. Jungkook tetap berusaha tersenyum, "Tidak. Hanya saja, perkataanmu sudah keterlaluan." Asyiela tampak cemberut, "Lalu kenapa kau lama? Aku takut."
Terkekeh, Jungkook duduk di kursi yang tersedia di samping tempat Asyiela berbaring sekarang. Asyiela sendiri memposisikan dirinya agar duduk. "Aku menemani Eunwoo tidur dulu." Asyiela mengangguk mengerti. Jungkook teringat pada pertemuannya dengan tetangga baru tadi. "Ah, ya. Asyiela, apa tadi kau sudah sempat bertemu tetangga baru?" Mendengar pertanyaan Jungkook, Asyiela menjawabnya dengan gelengan dan balik bertanya. "Ada tetangga baru?"
Memgangguk, Jungkook mulai bercerita. "Ya. Kalau tidak salah ingat, namanya Kieu dan Dei. Kieu sepertinya masih SMA dan Dei tampaknya sudah kuliah."
"Ah, apa mereka tidak tinggal bersama orangtua mereka?" Tanya Asyiela yang ditanggapi Jungkook dengan alis berkerut. "Tidak tahu. Yang ada tadi hanya dirinya dan Dei, abangnya." Asyiela menatap Jungkook curiga, "Apa alasanmu lama datang sebenarnya karena mengobrol dulu dengan gadis SMA itu?"
Menghela nafas kasar, Jungkook berdecak. "Tentu tidak, sayang. Dia hanya memperkenalkan diri lalu aku berangkat ke sini." Asyiela tampak murung. "Tetap saja itu namanya kau mengobrol dengannya." Cicit Asyiela kesal. Jungkook mencoba mengalihkan pembicaraan. "Kembali ke permasalahan tadi, aku harap kamu gak keterlaluan sama Eunwoo. Dia masih kecil, sayang. Dia juga menyesali perbuatannya."
"Kenapa kamu mengubah topik pembicaraan?" Tanya Asyiela yang masih menyimpan curiga. Pertanyaan itu jelas Jungkook paham apa maksudnya. Ia mengusap wajahnya kasar, bertanya dengan nada yang sedikit membentak, "Aku cuma bahas apa yang menurutku penting, sayang. Bisa gak sih gak usah curiga terus?!"
"Kok kamu marah? Aku kan cuma nanya!" Balas Asyiela membuat Jungkook berdecak kesal. "Terserah kamu!" Seru Jungkook membuat tangis Asyiela pecah begitu saja. "Aku ikut kamu pulang!"
Asyiela hendak mengikuti Jungkook, namun ketika berdiri ia justru terjatuh dan menghasilkan suara berdentum antara dirinya dan lantai yang cukup kuat. Jungkook menghentikan langkahnya, berbalik menuju Asyiela dan menolong istrinya itu. "Maaf," lirihnya di telinga sang istri.
Jungkook baru saja akan membaringkan kembali tubuh istrinya itu di kasur yang tersedia. Tapi Asyiela justru mengalungkan tangannya pada Jungkook semakin erat. "Aku mau pulang!"
Baiklah, sebaiknya Jungkook mengikuti kemauan istrinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mama, Don't Cry (Completed)
Fanfiction[ C o m p l e t e d ] Sequel of Roleplay : Take Me To Your Real Life Jeon Jungkook Fanfiction | Lizkook -Mama, Don't Cry- Start : 23 Januari 2020 Finish : 20 April 2020 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Jungkook dan As...
