"Dadah Mama! Dadah Papa!" Seru Eunwoo sambil melambaikan tangannya. Baik Asyiela maupun Jungkook balas melambaikan tangan, tak lupa dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya. Leo menutup pintu apartemen tersebut. Sepasang suami-istri itu mulai berjalan menuju parkiran, tempat dimana mobil mereka berada.
"Dia kelihatan senang banget," komentar Asyiela membuat Jungkook terkekeh. "Dia jarang main keluar ataupun punya temen buat main. Wajar dong kalo dia seneng." Balasnya membuat Asyiela jadi terdiam. Tersenyum kecut, Asyiela jadi sadar.
Yah, ia sendiri telah memenjarakan putranya.
"Bakal aku coba deh." Ucap Asyiela tiba-tiba membuat Jungkook mengernyit. "Coba apa?"
"Biarin dia main sama temennya." Balaa Asyiela dengan senyum merekah. Jungkook mengacak rambut Asyiela gemas, "Pinter istriku." Pujinya yang malah membuat Asyiela cemberut. "Jadi selama ini aku bodoh, gitu?"
"Bukan gitu sayang."
"Huft!"
Mereka akhirnya sampai di parkiran. Segera mereka memasuki mobil dan kembali mengobrol. Di tengah obrolan, Asyiela menggigit bibirnya kembali. "Ada apa?" Tanya Jungkook membuat Asyiela merespon. "Aku masih takut."
Mendengarnya membuat Jungkook menghela nafas. Sama seperti Asyiela, ia pun sebenarnya takut jika hal itu terjadi. Tapi yang ia bisa lakukan sekarang hanya berpikir positif dan menenangkan istrinya, meyakinkan Asyiela bahwa semua akan baik-baik saja.
Lagipula, ada Mild, keponakan dari Dineka yang menurut Jungkook pasti akan melindungi anak-anak mereka. Di tambah dengan Leo, putra Taehyung yang memegang sabuk hitam bela diri karate.
Ya. Semua akan baik-baik saja.
-Mama, Don't Cry-
"Mi---"
"Panggil Je aja, Tante." Koreksi Mild bernada datar. Lisa hanya tertawa garing sebentar.
Ini sudah kali ke sepuluh ia salah menyebut nama panggilan gadis itu.
"Atau Tante lebih nyaman panggil aku Mild?" Tanya Mild membuat Lisa tersenyum sumringah di seberang telepon. "Ah, ya. Gapapa, kan?"
"Iya, Tante. Ada apa nelpon aku?" Tanya Mild to the point yang dijawab Lisa dengan cepat, "Mama Eunwoo dari tadi khawatir. Kalian baik-baik aja, kan?" Mendengar itu Mild mengernyit. Padahal baru satu jam berlalu sejak Eunwoo diantar ke apartemen ini. Sebenarnya, seberapa paranoidnya wanita itu?
"Eunwoo lagi main bareng Daniel sama Judy, Tante. Mau aku panggilin?"
"Enggak usah katanya. Yaudah, baik-baik ya disana. Kalau Leo nakalin kamu bilang ke Tante. Dia genit, soalnya." Balas Lisa dari ujung sambungan. Setelah Mild mengiyakan, sambungan telepon itu terputus.
Mild berjalan gontai ke ruang televisi, dimana semuanya berkumpul. Satu-satunya yang ia kenal betul disini hanya Judy. Selainnya asing. Rasanya wajar, karena ia memang bukan anggota dari keluarga ini.
Ketika sedang memerhatikan Leo yang menjahili Eunwoo, pandangan Mild dan Leo bertemu. Hanya untuk beberapa saat karena berikutnya Mild mengalihkan pandangan ke ponsel pintarnya dan Leo sendiri kembali menggelitiki badan Eunwoo.
Mr. Cho is calling...
Dengan malas, Mild berjalan ke arah dapur. Setelah berada di dapur barulah ia dapat mengangkat telepon dari 'Kakeknya' itu.
"Mild, aku punya penawaran untukmu," Suara seorang pria berumur lima puluhan menyambut pendengaran Mild. Mendengus, Mild bertanya, "Apa?"
"Brand X menawari kontrak setahun untukmu. Kamu tahu, kan? Itu brand ternama. Bayaran yang akan kamu terima tidak main-main jumlahnya." Jelas 'Kakeknya' itu penuh semangat. Dengan malas, Mild menanggapi penjelasan itu. "Brand X itu brand untuk lingerie, kan?"
"Ya. Kenapa?"
"Tua bangka, apa kau tak ingat? Terakhir kali aku berpose memakai lingerie salah satu staff hampir memerkosaku." Protesnya kesal. Tapi, bukannya berpikir si tua bangka itu justru terbahak. "Wajar. Itu tandanya dia laki-laki normal, kan?"
"Aku menolak."
"Baiklah. Bagaimana kalau ini menjadi kontrak terakhirmu?" Tawar suara di ujung sana. Mild yang sudah tahu bagaimana liciknya pria itu menyeringai. "Tanda tangan di atas materai. Di rekam. Dan kita memberikannya ke polisi. Bagaimana?"
"Maksudmu, kau ingin aku menandatangani apa?"
"Perjanjian bahwa itu adalah kontrak terakhir yang harus kuturuti. Tandatangani di atas materai. Saat penandatanganan di rekam jelas dan rekaman tersebut di berikan ke polisi." Jelas Mild membuat pria tua terkesiap.
Mild memang benar-benar Tao versi wanita.
Bedanya, gadis ini tidak psikopat seperti Tao.
"Baiklah jika itu maumu. Besok, jam dua belas siang di ruanganku."
Tersenyum puas, Mild mengiyakan dan memutuskan sambungan. Tanpa ia sadari, di daun pintu seseorang sudah mendengarkan pembicaraan itu sejak tadi.
"Sudah ku duga."
"Leo?"
-Mama, Don't Cry-
Hai hai
Bertemu lagi dengan saya, DyLevy cans adiknya Ariana Grande kembaran Lisa Blackpink kesayangan Jungkook cintanya jodoh
#janganbakarsaya
Aku kebangun jam tiga tadi, ga bisa tidur lagi padahal nanti ada penjas.
Mampus lah raga ini:(
*coerhad
Bagaimana Part Ini?
Btw sepertinya kalian sudah tau deh ya siapa Mr. Cho yang nelpon Mild.
^eh readers yang ga baca cerita ku yang roleplay ga tau deng.
Silakan di cek jika berkenan
Terus aku mau nanya
Tau cerita ini darimana?
Kepo aku tuh
Seperti biasa, silahkan tinggalkan jejak berupa vote dan komen karena satu vote dan komen itu bener bener berarti buat author
Eaeaeaaaaaa
Sip, babay♡
KAMU SEDANG MEMBACA
Mama, Don't Cry (Completed)
Fan-Fiction[ C o m p l e t e d ] Sequel of Roleplay : Take Me To Your Real Life Jeon Jungkook Fanfiction | Lizkook -Mama, Don't Cry- Start : 23 Januari 2020 Finish : 20 April 2020 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Jungkook dan As...
