07. Let's Go!

1.2K 98 1
                                        

"Koper?"

"Ada!"

"Tas kamu?"

"Ada!"

"Dompet?"

"Ada!"

"Obat sama vitamin kamu?"

"Siap sedia di tas, sayang!"

"Cintamu padaku?" Tanya Jungkook mengakhiri absensi dari barang yang mereka bawa. Asyiela terkekeh, "Selalu ada dan tumbuh semakin besar, sayang." Jungkook ikut terkekeh, memasukkan barang-barang itu dalam bagasi mobil mereka. Jungkook memilih tempat wisata yang tak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka bukan tanpa alasan. Tentu saja alasannya adalah karena mengingat Asyiela yang sedang hamil besar dan adanya kemungkinan bayinya lahir prematur. Kalau terjadi sesuatu, Jungkook bisa langsung tancap gas menuju rumah sakit. Andai kata tak bisa ditangani di rumah sakit yang ada di tempat mereka berlibur, Jungkook bisa langsung melarikan istrinya ke rumah sakit di kota mereka yang jelas peralatan medisnya lebih lengkap.

"Perjalanan kita itu cuma satu jam. Tapi, kalo kamu ngerasa mual atau---"

"Aku baik-baik aja, sayang." Tegas Asyiela membuat Jungkook tersenyum kecil. "Pokoknya, kalau ada yang sakit atau aneh, bilang ya sayang." Asyiela hanya mengangguk mengiyakan. Jungkook sendiri sudah memasang sabuk pengamannya dan bersiap untuk menyetir. Berbeda dengan Asyiela yang mulai ngemil jajanan. "Kamu ga pake sabuk pengaman, sayang?" Asyiela mengunyah makanannya cepat, menjawab suaminya dengan omelan. "Kamu gak liat perut aku gimana? Pake seatbelt bikin aku sesak, Kook."

Yah, seperti biasa, Jungkook hanya mengiyakan. Ibu hamil memang harus diiyakan saja perkataannya. Kalau tidak, bisa-bisa omelan serta ocehan akan terus terdengar selama sehari penuh. Darimana Jungkook tau? Jelas dari pengalaman pribadi.

Mereka mulai berangkat, saling bertukar cerita satu sama lain selama di perjalanan. Sesuai saran dari dokter, Jungkook memgeluarkan semua curhatannya dan menceritakannya pada Asyiela. Asyiela menimpali curhatan itu dan memberi nasihat serta saran untuk Jungkook. Begitupun Asyiela, wanita itu menceritakan betapa takutnya ia menatap dunia luar. Takut di cap sebagai seorang ibu yang gagal di mata masyarakat luas.

"Sayang, gak ada ibu yang gagal di dunia ini, kecuali 'mereka' yang buang anaknya sendiri hanya karena hasil dari hubungan gelap. Kamu udah merawat Genie dengan baik, kok." Ujar Jungkook mencoba memberi semangat. Asyiela mulai sedikit tersenyum, merasa tenang. Kata-kata dokter itu benar. Selain menghilangkan stres, curhat seperti ini juga terbukti memperdekat hubungan mereka serta membuat mereka lebih mengerti satu sama lain.

Asyiela kembali merogoh tas berisi keripik kentang yang ia bawa. Memakan jajanan yang dibungkus kemasan berwarna hijau dengan lambang yang menunjukkan merek serta gambar rumput laut yang menjelaskan varian rasa makanan tersebut. Jungkook yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mulai berceramah. "Makan micin itu gak baik, sayang."

"Aku gak makan micin tuh." Bantah ibu hamil itu pada suaminya. Jungkook menaikkan alisnya, membuat Asyiela kembali bicara. "Ini keripik kentang rasa rumput laut. Bukan micin." Menghela nafas, Jungkook sedikit terkekeh. "Sama aja, sayang. Itu tuh makanan penuh micin. Kamu mau anak kita jadi generasi micin?" Komentar Jungkook membuat Asyiela kesal. Ia memakan makanan itu dengaj cepat, tak mau membalas ucapan Jungkook. Ia mengalihkan pandangannya pada jendela mobil, menatap pemandangan. Tak sampai lima menit wanita itu menatap jendela mobil, wanita itu telah terlelap. Jungkook tersenyum kecil melihat Asyiela yang tertidur. Wajah Asyiela yang sedang tidur adalah hal favoritnya. Begitu damai dan imut, tak peduli bahwa sekarang Asyiela bukan lagi anak SMA yang beberapa tahun lalu ia pacari, wanita itu tetap terlihat seimut dulu dan secantik dulu.

Tapi melihat Asyiela yang tertidur setelah melakukan permainan panjang dengannya adalah hal yang lebih Jungkook favoritkan. Asyiela yang seperti itu terlihat sepuluh kali lipat lebih imut dan seksi di saat yang bersamaan. Membayangkannya saja sudah cukup untuk membangkitkan semangatnya. Apalagi melihat langsung. Duh, sungguh nikmat Tuhan yang luar biasa untuknya.

Sudah setengah jam perjalanan berlalu. Artinya, tinggal setengah jam lagi waktu yang tersisa untuk sampai ke tujuan. Tapi, ternyata keberuntungan tak memihak Jungkook. Jalanan macet, membuat waktu perjalanan yang harus ditempuh lebih lama dari biasanya.

Niat mau lepas stres, malah makin stres liat macet gini. Batin Jungkook mengeluh. Tapi, seperti yang disarankan oleh dokter, Jungkook tetap mencoba untuk berpikir positif.

Tapi, apa hal positif yang dapat diambil dari macet sialan ini?

Ayolah, Kook. Pasti ada sesuatu hal yang patut kau syukuri. Batinnya mencoba menyemangati dirinya sendiri. Setelah beberapa lama berfikir, Jungkook mulai paham apa hal yang dapat ia syukuri.

Setidaknya, ia dapat merenggangkan tubuhnya sementara menunggu kemacetan usai. Jungkook mengatur posisi kursinya agar dapat berbaring dan tentunya melepas sabuk pengamannya. Jungkook baru saja merenggangkan tangannya, namun suara klakson dari arah belakang berbunyi.

Macet telah usai.

Jangan emosi, Jungkook. Stay positive. Seenggaknya kita bisa cepet sampai dan istirahat di hotel. Batin Jungkook kembali bersorak. Pria itu mengembalikan posisi kursinya, memakai kembali sabuk pengamannya dan mulai kembali berkendara.

Lima menit berlalu dan jalan benar-benar renggang. Jungkook tersenyum cerah, sedikit bangga karena sudah berhasil untuk tetap berpikiran positif. Namun, senyum cerahnya berganti ketika di menit berikutnya, kemacetan kembali terjadi.

Baru lima menit.

Jungkook menarik nafas dalam, mencoba untuk tetap tersenyum. Kali ini, ia tak memundurkan posisi kursi seperti tadi dan tak pula membuka sabuk pengaman. Ia menunggu, namun tampaknya mobil sama sekali tak bisa bergerak. Sudah sepuluh menit berlalu, namun satu inci pun mobil yang dikendarai Jungkook dapat bergerak.

Yasudah, istirahat aja dulu. Batin Jungkook kembali bersuara. Namun, baru saja Jungkook merilekskan tubuhnya, mobil-mobil di depannya sudah dapat bergerak maju tanpa hambatan. Mobil di belakangnya pun tampak tak sabaran, terlihat dari bagaimana suara klakson bersahut-sahutan.

Ia mencoba tersenyum, namun ia tak tahan untuk memendam perasaan kesalnya.

"SIALAN!"

"Kook, kamu bilang apa?"

Mampus sudah saia. Batin Jungkook pasrah.





-Mama, Don't Cry-

Utukutuk kacian Jungkook
Baru aja istirahat, mobilnya jalan. Baru aja mobilnya jalan, macet.

Kasian kamu nak

Absurd gak sih part ini?

Maaf kalo part ini justru kurang memuaskan ye. Saya lagi badmood, ga tau kenapa:(

Maafkan saya:(

Silahkan vote dan beri komentar untuk menambah mood saya, ya:D

Kalau mau share ke temen-temen kalian juga boleh banget:D

Dan buat kalian ataupun temen kalian yang tukang halu, berharap masa SMA seindah dunia wetped yang colorful ini, ayo berkunjung ke cerita aku yang judulnya Sasikirana. Cocok banget buat kalian yang demen halu.

Kayaknya cukup sampai sini curhatan dan promosi saya, yak. Kalo kebanyakan ntar takutnya kalian eneg.

See you!

Mama, Don't Cry (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang