"Judy, tadi kamu bilang apa?" Tanya Jungkook dengan nada yang bergetar. Judy masih bicara dengan nada yang ceria, "Genie eonni, Om!" Jungkook berjongkok, menyamakan posisi dengan Judy. "Dimana dia?"
Judy memiringkan kepalanya, "Disini. Apa Om tidak melihatnya?"
Yang Jungkook lihat hanyalah udara kosong. Ia ingin menyentuh putrinya, namun tak tahu persis dimana putrinya. Seakan mengerti keinginan sang Papa, Genie menampakkan wujudnya hingga semua orang dapat melihatnya. Mungkin juga tak ingin Papa serta adik sepupunya terlihat aneh karena berbicara pada udara kosong.
"G-genie." Lirih Jungkook terbata. Setetes air mata berhasil lolos, membuat putrinya sendiri tersenyum perih.
"Genie?"
Semua pandangan kini tertuju pada Asyiela yang menggendong seorang bayi di atas kursi roda. Asyiela meminta perawat yang mendorong kursi rodanya agar mendekati putri kecilnya itu. Tangannya ia posisikan agar dapat menggendong putranya dengan baik dengan sebelah tangan, sedangkan tangannya yang satu lagi sudah terarah untuk mengusap pipi putrinya itu dengan lembut.
"Genie," lirih Asyiela nyaris tak bersuara. Genie sendiri tersenyum, kemudian mulai membuka suara. "Adikku sangat tampan. Persis seperti Papa. Ya kan, Ma?"
Air mata Asyiela sudah membasahi wajah wanita itu. Wanita itu mengangguk terpatah. Masih dengan senyuman yang menghiasi wajah pucatnya, Genie menatap semua anggota keluarganya bergantian. "Genie sudah tenang. Mama Papa berbahagialah, hanya itu yang Genie inginkan." Ujar Genie sembari meraih tangan Papa dan Mamanya, membuat tangan keduanya saling menggenggam.
"Boleh Genie memberinya nama?"
Jungkook segera mengangguk mengiyakan, mengelus puncak kepala putrinya dengan tangan yang tidak menggenggam jemari Asyiela. Genie tersenyum sanfat manis. "Baiklah. Kuberi ia nama Hong Eunwoo."
Genie melepaskan tangannya dari jemari orangtuanya yang ia buat saling menggenggam. Perlahan, ia mengusap puncak kepala adiknya, "Baik-baik, ya. Berbahagialah."
Setelahnya, Genie menunduk hormat. "Genie pergi dulu. Ingatlah pesan yang Genie titipkan. Jangan jadikan kepergian Genie sebagai beban. Dan untuk Om Rapmonster serta Tante IU, maaf Genie sempat membuat kalian repot. Terimakasih banyak." Ujar gadis kecil itu berusaha terlihat tegar walau air mata sudah mulai mengalir dari kedua matanya. "Berbahagialah. Genie pergi dulu. Sampai jumpa nanti."
Setelahnya, gadis kecil mereka berbalik. Berjalan hingga akhirnya sosok itu melebur dengan udara. Perawat yang melihat itu jelas tak paham apa yang terjadi, berbeda dengan seluruh anggota keluarga pasiennya yang menatap gadis kecil itu dengan perasaan serta pikiran yang sama.
Genie telah benar-benar pergi.
-Mama, Don't Cry-
Jungkook mengurus dokumen kelahiran bayinya. Sesuai permintaan putrinya, anak laki-lakinya itu diberi nama Hong Eunwoo. Ah, mengingat bagaimana perjumpaannya dengan putri kecilnya membuat Jungkook kembali merasa sedih. Tapi, sesuai permintaan putrinya pula, Jungkook akan berusaha untuk tetap tersenyum. Genie meminta untuk tidak menjadi beban pikiran untuknya dan Asyiela. Maka itulah yang harus ia lakukan.
Berusaha untuk tetap bahagia.
"Apa kau sudah memberitahukan Asyiela tentang pesan dari Genie?" Tanya Rapmonster membuat Jungkook menggeleng. "Aku takut itu akan membebaninya." Jawab Jungkook yang sedikit-banyak dipahami oleh Rapmonster.
"Nama yang diberikan untuk anakmu cukup bagus," komentar Rapmonster membuat Jungkook tersenyum kecil. "Yah, Genie pandai memilih nama."
Rapmonster mengangguk setuju kemudian kembali berkomentar. "Yah, benar-benar tidak seperti ayahnya." Jungkook menaikkan alisnya, "Hah?"
Tersenyum jahil, Rapmonster menjelaskan. "Jeon Ha Ram. Kalau 'Jeon'-nya dihilangkan, berarti namanya HaRam. Syukurlah Asyiela punya inisiatif untuk memberi nama panggilan Genie untuknya."
Mendengar penjelasan itu membuat Jungkook terkekeh, "Berkomentar padahal dirinya juga sama."
Kini, Rapmonster yang menaikkan alisnya.
"Kim Judy. Jika 'Kim'-nya hilang, berarti namanya Judy. Masalahnya adalah bahkan istrimu tak berani memberi nama panggilan untuknya karena takut itu akan menyinggungmu." Jelas Jungkook membuat Rapmonster tersenyum sinis. "Oh, ternyata melawan balik?"
Jungkook menggedikkan bahu, "Tidak. Aku hanya ikut memberi komentar." Rapmonster mengangguk-angguk, kemudian membalas. "Yah, setidaknya komentarmu padaku merupakan jiplakan dari komentarku padamu." Jungkook menaikkan alisnya kembali, "Apa aku tak salah dengar?"
"Kalian sudah bapak-bapak, tapi tetap saja bertingkah seperti anak kecil." Celoteh Taehyung berlagak paling dewasa. Anggota keluarga lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ketiganya hingga akhirnya si bungsu menyeletuk, "Ayah, mengapa Aley harus ditakdirkan memiliki oppa bobrok seperti mereka?"
"Aley sayang, jangan begitu." Jawab sang ayah menanggapi, membuat ketiga anak lelakinya sempat terharu karena pembelaan dari sang ayah. Namun, ucapan ayahnya selanjutnya membuat ketiganya ngenes sendiri. "Orang bobrok masih lebih pintar dari mereka, sayang."
Yumi yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kayaknya memang cuma ibu yang waras, ya?"
Asyiela yang berada di kursi roda tertawa melihat itu. Jungkook menghampiri istrinya, mengacak rambutnya gemas. "Lihat Eunwoo, yuk?" Ajak Jungkook yang ditanggapi Asyiela dengan anggukan. Jungkook mendorong kursi roda istrinya, ke ruangan dimana putranya berada.
Putranya yang mungil berada dalam tabung inkubator. Asyiela bersyukur bayinya bisa terlahir dengan selamat, tetapi kondisi bayinya jelas membuatnya sedih. Berbeda dengan Genie yang lahir sesuai waktunya, Eunwoo justru lahir sebulan sebelum waktunya. Dokter sudah menjelaskan mengenai kondisi bayinya dan hal apa saja yang perlu diwaspadai, tetapi rasanya Asyiela masih terlalu takut. Asyiela takut ia akan gagal menjaga Eunwoo.
"Jangan takut, kita akan menjaganya bersama." Ujar Jungkook seakan membaca pikirannya. Pria itu memeluknya dari belakang, mencoba menenangkan dirinya.
"Maaf," cicit Asyiela pelan. "Maaf aku gak ngasih tau kalo aku udah ngerasain tanda-tanda kalo dia bakalan lahir lebih cepat. Padahal aku udah diingetin dokter kalo tanda itu muncul aku harus--"
"Ssh! Gak apa-apa, sayang." Jungkook memotong perkataan istrinya, mengeratkan pelukannya. "Kamu cukup ingat kata-kata Genie tadi," Jemari Jungkook menyentuh tabung inkubator itu, tersenyum kecil sebelum melanjutkan perkataannya. "Kita harus bahagia. Hanya itu yang Genie minta, kan?"
Asyiela hanya terdiam, berusaha tersenyum walau setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. "Ya, kita harus bahagia."
-Mama, Don't Cry-
Buat kamu yang masih mikirin mantan, ingat kata-kata Genie.
Kamu harus bahagia.
Ea.
Gimana part ini? Kasih tanggapannya dong:(
Jangan lupa ☆ nya, ya♡
See you!
KAMU SEDANG MEMBACA
Mama, Don't Cry (Completed)
Fiksi Penggemar[ C o m p l e t e d ] Sequel of Roleplay : Take Me To Your Real Life Jeon Jungkook Fanfiction | Lizkook -Mama, Don't Cry- Start : 23 Januari 2020 Finish : 20 April 2020 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Jungkook dan As...
