Terpaksa dijodohin sama siKetos letoy, Elisa rasanya hampir gila!
Elisa si troublemaker disekolahnya. Suatu hari dijodohkan dengan Reynald ketos ramah namun judes hanya pada Elisa saja.
"Senyumnya gak usah lebar-lebar kali entar robek tuh mulut baru...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa Elisa bisa punya trauma buruk kek gitu?"
"Eh liat tuh! Itu orangnya dateng! si Elisa!"
Baru juga Elisa melangkahkan kaki keluar dari kelas. Ia sudah lagi mendengar bisik-bisikkan tak menyenangkan dari banyak orang disekolah. Ya meskipun dikelas juga tadi banyak.
"Tuh liat! Tas sama sepatunya semua bermerekkan?!"
"Jangan-jangan bener dia simpenan om-om!"
"Mungkin osn biologi kemarin dia menangin karna ngerayu panitia."
"Ck! Murahan!"
"Jalang!"
Mereka saling membicarakannya dan tak segan untuk menatap bengis kearah Elisa. Apa mereka tidak tau kalau bisikan mereka itu sebenarnya terdengar? Atau memang sengaja diperdengarkan?
Elisa yang berjalan menundukkan kepala dikoridor hanya bisa mencoba menutup dua telinganya dan berusaha tak peduli. Tapi orang mana sih yang bisa gak peduli sama rumor tentang diri senditi yang gak bener?
Entah darimana dan kapannya muncul rumor tersebut, yang pasti dunia Elisa dimasa SMP ini benar-benar bagai dineraka. Banyak orang yang berkomentar pedas dan jelek padanya. Bahkan mereka juga terang-terangan mengatakan agar Elisa mati saja.
Disekolah Elisa memang tampak biasa namun setiap malam Elisa selalu tersiksa dengan banyak julitan itu. Apalagi ia juga banyak mendapatkan masalah. Seperti Nadya dan gio yang kini menjauhinya. Bara pun sama tapi ia tak peduli pada pemuda yang berani melukai hati Imel.
Mereka semua juga tau tentang Bara yang mengatakan suka padanya. Disaat ia masih memiliki hubungan dengan Imel. Tapi mereka tidak tau tentang Elisa yang langsung menolak dan membencinya.
Meski begitu Elisa bersyukur karna bahkan setelah tau itu, imel tidak menjauhinya seperti yang lain.
Sakit? Tentu! Difitnah seperti itu siapa yang tidak sakit. Tanpa semua orang tau kalau Elisa bahkan berani melukai pergelangan tangannya dengan sebuah cutter. Elisa depresi, mungkin.
"Elisa." seru seseorang dari jauh mengambil atensi Elisa. Gadis itu berbalik dan menemukan sosok Yepin berjalan kearahnya setelah melambai.
Sahabatnya itu langsung menarik tangan Elisa membawanya pergi kekoridor yang lebih sepi.
"Elisa, gue—— Astaga tangan lo berdarah!" Yepin membulatkan mata melihat darah merembes dari lengan seragam Elisa yang panjang.