Hari ini SMA Galaxy Andromeda kembali dipenuhi oleh siswa siswinya. Raut bahagia dan sedih menjadi satu. Bahagia karena bisa kembali ke sekolah dan sedih karena liburan selama kurang lebih 2 minggu dirasa belum cukup. Tapi begitulah manusia, tidak pernah merasa cukup dengan yang mereka miliki.
Hari ini juga menjadi hari pertama Thalia bersekolah disini. Bisa ia dengar sendiri, disepanjang koridor banyak yang berbisik-bisik membicarakan dirinya. Mulai dari memuji kecantikan parasnya, keelokan tubuhnya, juga yang merasa iri padanya.
Thalia tidak keberatan untuk itu sudah seharusnya mereka merasa iri padanya. Bukan karena kecantikan yang ia miliki, tapi karena seseorang yang sekarang berjalan disampingnya. Kebanyakan dari mereka pasti tahu kisah cintanya dengan Arka. Dan mereka pasti menginginkan posisinya, menjadi wanita yang Arka cintai.
Dulu Arka adalah salah satu ciptaan Tuhan yang mendapat julukan manusia es. Irit bicara dan jarang ada ekspresi diwajahnya, senang ataupun sedih tidak ada bedanya. Tampan tapi dingin, membuat banyak wanita gagal hanya karena sikap dinginnya. Dan Thalia, ia satu-satunya gadis yang berhasil mengenalkan Arka pada yang namanya cinta, membuat hari-harinya lebih berwarna.
Sejak Thalia berhasil menaklukan hatinya Arka banyak berubah. Ia lebih banyak tersenyum, banyak berbicara, dan friendly. Thalia memiliki kendali yang cukup besar pada diri Arka, dan sepertinya semua tahu itu. Thalia menunjukkan hal-hal yang selama ini terpendam dalam diri Arka. Bersamanya Arka selalu menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, pengertian, romantis, tidak kasar dan setia. Intinya Arka menjadi laki-laki idaman setiap wanita.
Dan setelah badai menerpa hubungan mereka. Arka kembali menjadi Arka yang dulu, bahkan lebih buruk. Ia menjadi kasar, sering memukul orang lain hanya untuk menyalurkan emosinya. Bagi Arka kehilangan Thalia seperti ia kehilangan kendalinya. Tidak ada yang bisa mencegah apa yang ingin ia lakukan. Hanya Thalia yang bisa mengembalikan dirinya, atau mungkin gadis lain yang berhasil menyentuh hatinya.
"Aku pengennya sekelas sama kamu, tapi gak bisa." Kata Thalia dengan nada sedihnya.
"Kelas kita kan sebelahan Ta, gak jauh."
"Tapi tetep aja gak bisa setiap saat liat kamu,"
"Kesekolah itu buat belajar bukan buat liatin aku." Kata Arka sembari menatap Thalia lekat.
"Ya iya sih, tapi kan kalo sekelas bisa liatin kamu setiap saat kan jadi motivasi buat aku."
Arka terkekeh mendengar perkataan Thalia sembari mengacak puncak kepalanya sekilas. "Ada-ada aja."
Mereka yang menatap insteraksi keduanya hanya bisa mengelus dada atau menggigit jari. Hanya ada satu gadis yang mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menahan emosi didalam dirinya yang ingin segera meledak. Terlebih melihat seorang gadis disampingnya yang justru mengangkat kedua sudut bibirnya.
"Mau sampe kapan sih Ra? Kuping lo gak panas apa denger omongan-omongan orang lain tentang mereka? Sumpah gue aja gak kuat!" Kata Gwen mencak-mencak.
Aeera menggeleng pelan. "Mereka cocok Gwen, kalo dipikir-pikir Ara jahat ya pengen pisahin mereka?"
Gwen membolakan matanya, "No, no, no! Yang jahat itu mereka bukan lo! Apalagi si Arka, gak ngerti gue kok bisa dia tega giniin lo, dan lo juga kenapa mau digini-gini?"
"Ah udah Gwen, Ara gak mau bahas ini."
***
Thalia mulai memasuki kelas barunya bersama seorang guru yang merupakan walikelasnya. Sorak sorai kembali ia dapatkan didalam kelas, terlebih dari kaum laki-laki, seolah kehadirannya dikelas ini adalah anugerah untuk mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arkaeera
Teen FictionArka si lelaki tampan namun dingin yang terjebak masa lalunya. Dan Aeera gadis cantik yang berusaha menempati ruang dihati Arka. Apakah dengan 3 kartu permintaan bisa membuat Arka terlepas dari belengggu masa lalunya? *** Cerita ini hanya fiktif bel...
