Arka berdiri disamping motornya menatap ke arah rumah Aeera. Matahari belum menunjukkan dirinya tapi Arka sudah kembali kesini. Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan Aeera. Ditambah dengan puluhan pesan dan panggilan tak dijawab darinya membuat perasaan bersalah semakin muncul dalam dirinya.
Tubuhnya masih mematung ditempat yang sama. Ini masih terlalu pagi untuk bertamu, tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya untuk tetap berdiam diri disini. Arka mulai melangkahkan kakinya membuka gerbang lalu mendekat ke arah pintu. Meninggalkan motornya diluar sana.
Pintu rumah Aeera sudah didepan mata. Ia hanya perlu mengetuk pintu, kemudian ia bisa bertemu Aeera. Tapi apakah tidak apa-apa bertamu sepagi ini? Arka kembali mengurungkan tangannya yang akan mengetuk pintu. Ah kenapa jadi serba salah seperti ini?
"Astagfirullah!"
Arka tersentak mendengarnya. Pikirannya buyar begitu saja karenanya.
"Aden ari aden ngapain didepan pintu bibi reuwas atuh!" Kata Bi Asih sembari memegangi dadanya.
Arka menyengir kuda. Bukan hanya Bi Asih, ia juga sama kagetnya dengan Bi Asih yang tiba-tiba muncul. "Maaf bi."
"Kenapa diem disini atuh?" tanya Bi Asih lagi.
"Ara ada-"
"Allahuakbar, tuh kan lupa bibi teh mau nyari taksi ya Allah!" Kata Bi Asih panik, lalu berjalan meninggalkan Arka.
"Bi mau kemana? Arka anter aja ya gimana?"
"Bukan buat bibi aden! Buat neng Ara, bibi mau bawa neng Ara ke rumah sakit." Raut wajah Bi Asih terlihat sangat cemas.
"Ara? Ara kenapa?" Arka ikut panik sekarang.
"Demam tinggi, semalem pulang basah kuyup, udah bibi kasih obat tapi gak ngaruh apa-apa."
Arka mematung mendengar penjelasan Bi Asih. Apa Aeera seperti ini karena menunggunya semalam? Bodoh! Benar-benar bodoh! Ia seharusnya datang dan melindungi Aeera bukan membuatnya seperti ini.
"Arka boleh masuk bi?"
"Iya sok neng Ara dikamarnya, bibi nyari taksi dulu." Bi Asih segera pergi meninggalkan Arka, dan Arka segera berlari masuk ke dalam rumah Aeera.
Tangannya memegang handle pintu kamar Aeera dan mulai membukanya perlahan. "Kak," suara bergetar itu menyambut dirinya pertama kali. Hati Arka mencelos begitu saja melihat Aeera sekarang. Barusan Aeera mengigau, terbukti dari matanya yang masih tertutup.
Tangan kiri Arka menggenggam tangan kanan Aeera. Tangan kanannya menyingkirkan kompresan didahi Aeera dan menempelkan punggung tangannya, mengecek suhu tubuh gadis itu. Tubuhnya terasa begitu panas, benar kata Bi Asih, Aeera demam tinggi.
"Ra," Arka menepuk pipi Aeera pelan.
"Ini aku, aku disini." Lanjutnya. Melihat kondisi Aeera membuat hatinya teriris.
Aeera membuka matanya perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk memfokuskan pandangannya. Memastikan yang ada didepannya sekarang adalah Arka, bukan khayalannya lagi. "Kak Arka?" tanya Aeera memastikan dengan suara yang terdengar lemah dan bergetar.
"Iya ini gue." Jawab Arka sembari memaksakan senyumnya.
Aeera ikut tersenyum mendengarnya sembari menatap Arka lekat. Meneliti tubuh laki-laki dihadapannya ini. "Kakak nggak apa-apa? Baik-baik aja kan?" tanya Aeera lagi. Semalaman ia memikirkan bagaimana keadaan Arka.
"Engga Ra, harusnya gue yang nanya gitu ke lo. Maaf gue gak nepatin janji gue, sampe bikin lo kaya gini." Arka menggenggam tangan kanan Aeera dengan kedua tangannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Arkaeera
Teen FictionArka si lelaki tampan namun dingin yang terjebak masa lalunya. Dan Aeera gadis cantik yang berusaha menempati ruang dihati Arka. Apakah dengan 3 kartu permintaan bisa membuat Arka terlepas dari belengggu masa lalunya? *** Cerita ini hanya fiktif bel...