Bagian 23

220 23 4
                                    

Aeera kembali duduk dikursinya saat sudah mengumpulkan kertas ujiannya yang sudah selesai ia kerjakan. Tidak seperti saat SMP dulu, teman-temannya kali ini menatap Aeera heran, bagaimana bisa mengerjakan soal secepat itu? Terlebih soal matematika, apakah Aeera menghitung kancing karena sudah terlalu pusing?

Hanya beberapa orang yang dulu satu SMP dengan Aeera yang tidak kaget mengapa Aeera bisa secepat itu mengerjakan soalnya, mengerjakan ujian ini sudah seperti membersihkan debu saja bagi si juara olimpiade matematika 3 tahun berturut-turut. Begitu pikir mereka.

"Yang sudah boleh pulang." Kata pengawas didepan. Aeera tidak mengenalnya karena masih terbilang baru di sekolah ini. Dan Aeera yakin perkataan barusan ditujukan padanya, jika Aeera tetap diam disana Aeera bisa menjadi kunci jawaban untuk teman kelasnya yang lain.

Aeera terpaksa menunggu diluar kelas. Seharusnya bisa saja sekarang Aeera langsung pulang, tapi tadi Arka mengirimkan pesan bahwa hari ini Aeera pulang dengan Arka. Kesempatan emas tidak boleh di sia-sia kan bukan? Meskipun harus menunggu hingga sekolah sepi Aeera tidak keberatan asalkan bisa pulang bersama Arka.

Bel pulang akhirnya berbunyi. Pelajaran matematika disiang hari sukses membuat otak murid SMA Galaxy Andromeda memanas. Murid-murid berhamburan keluar kelas dengan umpatan-umpatan mereka pada soal matematika yang baru saja dikerjakan. Ada juga yang mengumpati guru pengawas yang sangat ketat tidak memberikan celah untuk sekedar melihat rumus. Menyontek maksudnya.

"Kenapa masih disini?" tanya Alger dengan tas yang di selempangkan disebelah tangan kanannya saja.

"Ara mau-," Aeera menjeda ucapannya berpikir sejenak alasan apa yang akan Aeera berikan pada Alger, tidak mungkin Aeera mengatakan akan pulang bersama Arka. "Ada janji, iya ada janji." Aeera tersenyum saat berhasil menemukan alasan yang cukup logis.

Alger mengangguk, "Gue duluan kalo gitu."

Aeera kembali memasuki kelas. Lebih baik menunggu didalam kelas sembari duduk daripada diluar membuat kakinya pegal harus berdiri lama. Setelah hampir 20 menit akhirnya ponsel Aeera berbunyi dan menampilakan pesan dari Arka yang mengatakan Arka sudah menunggu Aeera diparkiran. Dengan cepat Aeera pergi ke parkiran, tidak ingin membuat Arka menunggu lebih lama.

Aeera mengetuk kaca mobil yang ia yakini milik Arka. Beberapa kali Aeera pergi dengan Arka menggunakan mobil ini. Jadi Aeera sudah hafal. Aeera masuk ke dalam mobil dengan senyum yang mengembang. Berbeda dengan Arka yang memasang wajah dinginnya.

"Tumben," Aeera terkekeh sembari memasang seatbeltnya. Mungkin dalam beberapa bulan pulang bersama Arka dapat dihitung jari.

"Gak usah deket-deket sama cowok lain bisa?" Kata Arka saat mereka sudah keluar dari area sekolah.

"Engga kok, Ara gak deket sama cowok lain." Aeera sedikit takut sekarang karena tatapan dan ucapan dingin Arka. Kadang manis, kadang dingin Arka memang sulit ditebak.

"Alger." Hanya nama itu yang keluar dari mulut Arka dan Aeera langsung memahami kemana arah pembicaraan Arka. Ini pasti gara-gara minuman datang bulan yang Alger berikan, entah siapa yang mengadu pada Arka.

"Ara gak ada apa-apa sama Kak Al. Ara duduk sama Kak Al, tadi Ara udah chat kakak kan? Tadi ya Kak Al kasih Ara minuman dateng bulan tapi Ara gak minta, Ara mau ganti juga gak mau Kak Al nya, kasian katanya sama Ara." Jelas Aeera.

"Apapun alesan lo, gue harap lo tau batesan." Tatapan Arka masih fokus pada jalanan didepannya. Tidak berniat sedikit pun untuk melirik Aeera disampingnya. Arka seharusnya membiarkan Aeera dengan dunianya tidak melarangnya, lagipula sebagian besar hatinya masih dikuasai Thalia.

Tapi entahlah Arka tidak suka Aeera berdekatan dengan orang lain. Arka tidak suka jika harus berbagi miliknya dengan orang lain. Arka melakukan ini karena Aeera miliknya, bukan karena dia cemburu. Arka tidak mungkin cemburu, perasaannya masih untuk Thalia. Ya Arka yakin itu.

ArkaeeraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang