happy reading
........................
Di ruang tengah, di rumah dua wanita pecinta bunga, suasana haru baru saja mengawang ke langit-langit.
Ibu Naya dan uminya Izzu kini tengah berbahagia. Bagaimana tidak, rencana mereka jauh sebelum putra-putri mereka tumbuh dewasa akhirnya sebentar lagi akan menjadi kenyataan. Menjodohkan mereka dan menjadi besan. Ikatan persahabatan diantara kedua wanita paruh baya itu akan berganti status menjadi ikatan kekeluargaan. Bukankah bahagianya tak terkatakan?
Sandra dan Davin sudah dari tadi berdiri. Karyawan yang dianggap anak kandung oleh ibu Naya itu sedang menyiapkan makan siang di ruang makan. Mereka akan menjamu tamu spesial Naya.
Sepasang muda-mudi yang sudah bekerja di toko bunga Naya selama empat tahun benar-benar sudah seperti anggota keluarga bagi Naya. Yah, meski pun ketidak-adaan kabar mereka berdua tadi pagi sempat membuat Naya kesal.
"Sandra, bagaimana kalau kita tambahkan satu pot camellia di tengah meja ini?" Davin yang tangannya masih cekatan menata makanan bertanya pada Sandra yang sedang menuang air ke gelas.
"Bagus." Sandra menjawab singkat.
"Kalau mawar saja bagaimana?" Davin mengemukakan saran lain.
"Juga bagus." Sandra masih sibuk dengan tugasnya.
"Mmmmm, kemboja putih sajalah, biar ku tata. Bunganya kan netral warnanya, cukup sejumput saja tidak akan makan tempat di atas meja." Davin kembali mengganti idenya.
Namun kali ini, mendengar kalimat itu Sandra menatap Davin sambil menautkan alisnya dan berkata ketus, "Kau mau ngundang kunti makan bareng haaa?"
"Ups.." Davin mencibir, "Berarti tidak cocok ya kalau kemboja putih. Kan di halaman kak Nay ada. Tinggal diambil saja."
"Cocok kok," Sandra mendekat ke arah Davin, lalu menyambung kalimatnya, "Tapi makannya sambil ruqiyahan yaaa." Sebenarnya Sandra hanya bercanda. Benar-benar bercanda.
Namun mendengar itu Davin sedikit merengut dan membalas, "Kata-kata mu buat hati adek potek, kak."
Seketika, usai Davin berkata seperti itu Sandra tertawa terbahak-bahak, dan kembali bercanda "Siapalah jodoh adek potek kakak ini besok yaa?" "Hahahahaha"
Keduanya masih bersemangat mempersiapkan makan siang. Tak mau membahas peristiwa mengharukan tadi. Cukup. Tak perlu diungkit, toh Naya sudah punya keputusannya sendiri.
.....
Di ruang tengah masih ada empat orang yang sedang duduk.
Suasananya masih terlalu sulit untuk dijelaskan.
Memang benar saat ini ibu Naya dan uminya Izzu merasa sedikit lega dengan keputusan Naya. Hanya saja itu bukan berarti satu-satunya hal yang membahagiakan. Toh Naya menjawabnya seperti tanpa ada perasaan.
Ingin kedua muda mudi itu sedikit memiliki hubungan yang cair, ibu Naya berkata pada umi Izzu untuk meninggalkan ruang tengah dengan cara mengajak temannya melihat-lihat album foto semasa sekolah dulu di kamarnya.
Serasa konek dengan yang dipikirkan sahabatnya, Mirna, ibunya Izzu langsung menyetujui.
Dua sahabat sejati itu berdiri, meninggalkan ruang tengah, sebelum utuh menghilang, Dinar, ibunya Naya berpesan pada anaknya, "Layani tamu dengan baik, nak. Nanti kita kumpul lagi di ruang makan. Sandra dan Davin pasti ada di sana sedang siap-siap."
Naya tak menjawab. Ia hanya mengangguk.
Setelah dua ibu-ibu itu benar-benar masuk kamar, Naya dan Izzu utuh hanya tinggal berdua saja. Lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZuNaya
Humor[CERITA KE 1] Follow biar Teman bisa baca semua chapter 🤗 🔥kategori : baper stadium akhir🔥 Naya's scene : - Lo orangnya ribet ya Zu! Ngomong irit. Otak gue mesti kerja keras setiap lo ngomong. - Nggak usah sok baik. - Iya pak ustad, serah lo aja...
