EXTRA PART

584 15 14
                                        

Happy Reading!

Setahun kemudian...

Hingar bingar memenuhi gedung yang penuh dengan dekorasi bunga kertas berwarna putih yang berpadu dengan bunga kerta berwarna pink.

Para tamu undangan memenuhi area gedung, ada yang asik bercengkarama, yang sibuk memuji pasangan baru di atas pelaminan dan sebagian tengah asik menikmati hidangan yang ada.

Di atas pelaminan terdapat sepasang insan yang baru saja mengganti statusnya menjadi suami istri. Mengenakan tokedo putih bersih yang dilengkapi dasi kupu-kupu warna senada, Alif sang mempelai pria tampak semakin tampan. Di sebelahnya terdapat perempuan cantik dengan gaun putih panjang tanpa lengan nampak sangat pas di tubuh rampingnya, tatanan rias wajah yang semakin membuat perempuan bernama Sita Larasati itu terlihat anggun.

Di sisi lain ada Sella dengan gaun di atas lutut berwarna marron berdiri tak jauh bersama Andi di smapingnya.

"Cantik banget, ya, Sita," gumamnya terkagum-kagum.

Andi berdeham karena terlalu sibuk menguapi mulutnya dengan kudapan-kudapan di hadapan.

"Sayang," panggil Sella mengguncang lengan Andi.

"Kenapa?" tanyanya.

"Aku mau deh..."

"Kamu mau ini?" tanya Andi menyodorkan cup cake ke hadapan Sella.

Sella menyerngit sebal dengan bibir mencuat. "Ih bukan mau itu."

"Terus mau apa?"

Sella tersenyum lebar, bergerak lebih dekat pada Andi. "Mau nikah," bisiknya di akhiri kikikkan geli.

"Oh, nanti," sahut Andi santai.

Tentu saja Sella dibuat sumringan. "Kapan?" tanyanya antusias.

"Kapan-kapan."

"Kamu mah, yang," cibir Sella memukul lengan Andi keras.

"Gue masih gak nyangka dia duluin gue," ujar Anton.

Roni meraih gelas yang terdapat di meja di sampingnya. "Makanya cari cewek."

Anton melirik sengit. "Situ ada cewek?"

"Ada dong," jawabnya cepat.

"Wih serius? Sejak kapan?"

"Barusan," Roni meminum menimannya. "Liat arah pukul tiga," lanjutnya memberi arahan.

Anton menurun, kepalanya ia arahkan pada titik yang Roni beri. "Yang mana?"

"Itu loh yang pegang kamera," tunjuk Roni.

"Itu sepupu gue anjir," cibir Anton sengit.

Roni menggeleng-gelengkan kepalanya memperhatikan gadis bergaun gold itu berada. "Andini cakep banget ya lord."

"Cakep-cakep, awas aja kalo lo naksir," ancam Anton menangkat tangan yang mengepal di udara.

"Auto ajak nikah nih."


"Dulu aku cantik kayak Sita nggak?" tanya Sarah dalam gandengan tangan Panji.

"Kamu mah nggak ada tandingannya," ujar Panji penuh kharismatik.

Sarah tersenyum malu, memukul pelan lengan Panji. "Kamu tuh bisa aja."

"Apalagi kalo masalah bikin anak, aku paling bisa," tuturnya bergurau.

"Bang Panji," panggil satu suara.

Merasa terpanggil, Panji serta sarah menoleh ke samping kanan tempat suara itu berasal.

Singgah [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang