Happy Reading!
Lagi-lagi menghembuskan nafas kasar yang Sita lakukan. Masih berada di atas kasurnya, cewek itu menatap layar ponsel penuh harap. Berharap orang yang sejak semalam mengisi otak kosongnya memberi kabar.
Dengan posisi tubuh meringkuk, lengan yang di tekuk menjadi bantal, Sita menatap nanar layar yang tengah ia gulir menampilkan room chat dengan Juan.
Suara decakan kembali keluar. Si gadis semakin gundah di tempatnya. Padahal posisi dirinya saat ini menjadi korban, namun mengapa harus dia yang tidak enak hati.
Efek cinta memang dasyat. Orang bisa menjadi buta walau sudah tahu yang mereka cintai tak baik untuknya.
Efek cinta juga yang saat ini Sita rasakan, ia hilang rasa untuk sekedar marah dengan Juan. Ia terlalu menikmati peran menjalin hubungan pertama kalinya, walau tahu dia sudah dibohongi.
"Yang seharusnya marah 'kan gue, kenapa malah gue yang nunggu kabar dia sih?" Gerutu Sita masih dengan iris mata menyorot layar ponsel di genggaman.
"Masa dia nggak ngerasa bersalah sama sekali?" Monolog Sita.
Karena kesal sendiri, Sita pun membanting ponselnya pada permukaan kasur. Dia masih waras untuk tidak membanting gadgetnya di lantai.
Sita merubah posisi tidurnya menjadi tengkurap, pusing sendiri mengenai hubungannya.
Tok... Tok...
Ketukan pintu mengintrupsikan Sita, kepalanya ia miringkan menghadap asal suara. Cewek itu menggeram di tempatnya, sudah lebih sepuluh kali pintu kamar diketuk.
Entah itu Ayahnya yang beralibi ingin melihat koleksi buku miliknya, Ama yang nekat ingin masuk namun dengan keras Sita tolak, Bang Bagas yang mengaku AC di kamarnya mati dan berniat untuk ikut ngadem, sampai Andini yang bolak-balik merengek masuk namun tetap Sita abaikan.
"Kak, Buka dong," suara Andini terdengar lagi setelah beberapa waktu lalu mengganggunnya.
Sita yang menjadi tujuan utama Andini mendatangi kamarnya masih tak bergeming di tempat.
"Kakakku tersayang, buka dong buka," Andini masih setia dibalik pintu sana.
Pintu kembali diketuk, Andini rupanya tak mau menyerah. "DOBRAK NIH," ancamnya yang justru mendapat decihan Sita.
"SILAHKAN," tanggap Sita meremehkan.
"Berantem sama Juan kenapa kita yang diambekin sih?" Andini menghela nafas, lelah sendiri membujuk kakaknya agar keluar kamar.
Jika saja Sarwanti tak meninggalkan pesan sebelum pergi pasti Andini tidak perlu repot-repot menguras kesabarannya.
"Ayolah buka pintunya. Kakak belum makan loh dari pagi," kini suara Andini mulai lemah. Tubuh gadis itu sekarang menempel pada daun pintu. "Keburu Ama pulang dulu loh, Kak. Kan aku juga yang kena semprot."
Sita di dalam membalikkan tubuhnya lalu berungsut duduk. Sejujurnya ia juga lapar sangat lapar. Makan malam serta sarapan pun harus ia lewati karena moodnya yang buruk menjadi masalanya.
Si gadis yang memakai piyama bermotif beruang itu meraih jepitan rambut di atas nakas sebelum beranjak menemui Andini yang semakin memelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Singgah [TAMAT]
Novela Juvenil[Part lengkap dan belum revisi] Sita Larasati, gadis cantik yang mencintai apa adanya pemuda bernama Juan. Pria berkekurangan itu sanggup merubah prinsip hidup Sita yang monoton. Kisah sederhana dari pertemuan tak terduga menjadi kisah cinta pertama...
![Singgah [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/216310551-64-k428957.jpg)