Naura tidak menangis kali ini hanya memandangi wajahnya dipantulan kaca. Tisu yang terpegang dia usap pelan di kening tak ada ringisan sakit dari bibirnya. Dia kira semuanya sudah selesai Naura akan kembali tidur meninggalkan rasa sakit di dadanya kemudian besok membuka lembaran baru lagi, namun bunyi pintu terdobrak paksa berhasil membuatnya kaget.
BRAK
"Kak Ara..." Panggilan Gemina terdengar lembut, tapi Naura tau apa yang akan gadis itu lakukan setelah ini tanpa ragu Gemina memasuki kamar dengan dagu terangkat angkuh.
Rasanya Naura lelah. Melawan satu orang seperti Gemina pun sekedar sia-sia dan pasti akan mengadu pada papanya.
"Kenapa?" Naura berbalik badan menghadap adik tirinya itu. Sudut bibirnya melengkung tipis.
"Gak usah senyum! Emang lo cantik apa?! Secantik apapun pas udah pernah ditidurin dan gak perawan udah mirip sampah!" bentaknya.
"Kamu bicara itu seharusnya sadar diri dulu baru mengatakan hal itu padaku," sahut Naura ketus.
Gemina melototkan matanya tidak menyangka jika Naura berani menjawabnya. Langkah kaki Gemina semakin maju, rahangnya mengeras.
"Berani banget lo!"
"Aku berani karena kamu di rumah ini sekedar numpang. Kamu tau aku bisa saja mengusir kalian jika ingin." Naura bersedekap.
Jemari Gemina terkepal kuat kenyataan tersebut seakan menamparnya. Jelas sekali Naura mengejek dan dia tau sampai sekarang sang mama belum diterima di rumah mewah ini.
"Dasar jalang! Sampah! Papa lo sendiri bahkan sering siksa lo, Naura. Bikin anaknya sendiri menderita. Bagaimana bisa lo mengusir gue dan Gian!" teriaknya sembari meraih pergelangan tangan Naura. Tindakan cepat itu membuat Naura kaget, dia tidak mengelak ketika punggungnya sudah merapat ke tembok.
Naura merintih sakit berusaha mendorong tubuh Gemina, bahunya dicengram kuat.
"Lepasin!"
"Kenapa lo itu nggak mati? Jangan sok cantik." Jemari lentik Gemina perlahan turun dapat dia rasakan orang di depannya kini menegang.
Air mata Naura mengalir, janjinya untuk tidak menangis lagi sudah pupus. Perutnya di tekan kuat oleh tangan Gemina. Sekarang Naura yakin hidupnya tidak aman lagi.
"Gue gak yakin perut lo sekarang nggak ada isinya. Masa sih pakai pengaman. Beruntung gue sebatas kagum sama Abian awalnya gue emang kaget pas dia pacaran sama lo." Gemina tertawa puas memandangi wajah pucat Naura. "Lo yang harus keluar dari rumah ini. Papa lo sendiri nanti yang akan usir, Kakakku sayang."
Naura tersenyum pahit sepasang matanya balas menatap Gemina. Dia masih ingat perkataan mamanya dan satu terlintas juga di pikiran yaitu laki-laki berlesung pipi itu.
"Jika kamu emang puas, boleh. Aku beneran berharap tau ke mana arah pulang. Rumah ini bukan tempat pulang," jawabnya lirih.
Tawa Gemina semakin nyaring benar-benar puas. Kakinya mundur perlahan menjauh lalu tubuh itu perlahan luruh ke lantai.
"Aduh, pasti perutnya sakit ya! Maap, katanya pake pengaman."
Mata Naura terpejam sembari mengatur napasnya, dada kirinya kembali sesak bahkan mungkin seluruh tubuhnya. Dia hanya mendengar suara derap langkah kaki yang menjauh dan pintu kamar di banting.
Kebencian Gemina sangat besar untuknya. Naura tidak berani menatap kulit perutnya di balik dress pasti nanti akan ada memar di sana.
"Kamu kuat, Ra. Yakin tempat pulang itu memang ada, tapi butuh waktu kamu harus mencarinya."
****
Gadis berpiyama setulut itu menjelaskan secara rinci. Menunggu respon seseorang di sebrangnya kini.
"Jadi Abian itu mantan Ara?" tanya Raihan memainkan kotak coklat yang ada di meja tanpa menatap Lovia walaupun gadis mungil itu meminta agar dirinya tidak ikut campur Raihan tidak menurut.
"Iya, pas lo bilang liat Naura nangis di taman itu tepat Abian mutusin dia. Gue benci banget sama toh cowok! Namanya numpang tenar atas nama Naura sekalian nyingkirin olimpiade di SMA Bintang." Lovia menjelaskan kesal.
Sebelum di DO sahabatnya sangat berprestasi. Naura pernah mendapati Darel tersenyum sekedar lewat di lemari yang tersusun rapi piala, piagam, dan medali di ruang tengah. Saat itu Lovia masih ingat bagaimana binaran wajah Naura menceritakannya dengan raut bahagia.
"Tengah malam gini ke idekos gue cuma nanya tentang Ara. Jangan naksir! Gue sebagai sahabatnya orang yang paling pertama bakal pukul lo Rai. Sampai yakitin Ara," tutur Lovia sinis.
Raihan tertawa.
"Susah jelasinnya ... gue ngerasain kaya pernah ketemu Ara. Sayangnya gue lupa, hati gue mengatakan buat selalu jaga Ara dan air mata gak boleh lagi jatuh dipipinya."
Lovia memicing curiga laki-laki seperti Raihan sangat tidak cocok dengan sahabatnya. Lagi pula pertemuan Raihan dan Naura kesan tengilnya bangkit dan membuat Lovia jijik.
"Lo mikirin apaan, sih? Buaya! Ara nggak mungkin lah mau sama lo. Jauh dari tipenya apalagi nih dia kaya benci gitu sama cowok."
"Gue nggak pernah biarin sahabat lo itu trauma."
Lovia tersenyum tipis ada kesungguhan dari raut wajah Raihan. Satu yang Lovia harapkan selama ini mengeluarkan Naura di rumah itu tanpa kekerasan. Dia tau Naura selama ini tersiksa atas apa yang dilakukan Darel, caranya berbicara memberikan luka membekas di hati karena Lovia pernah melihatnya.
"Gue berharap banyak, jujur gue takut mental Ara terganggu. Selama dua tahun ini banyak penderitaannya ditambah setelah kejadian Abian."
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
Teen FictionNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)