Riani langsung memeluk suaminya itu dari samping setelah kepergian Raihan. Pembicaaraan lalu di rumah sakit dan ancamannya jika tidak merestui anak perempuannya membuahkan hasil. Riani tak menyangka ternyata Darel telah mengatakan melalui sambungan telpon, namun Raihan tidak puas. Untuk itu ke rumah, sekedar memastikan.
"Kamu luluh, makasih, Mas! Aku beneran bahagia. Apapun akan aku lakuin buat kamu," kata Riani.
Darel hanya memandang lurus satpam rumahnya itu yang menutup pintu gerbang.
"Asal kamu tau ... aku terpaksa, lebih baik aku merestui mereka daripada harus cerai sama kamu, Riani." Darel menyahut dingin.
"Padahal aku bercanda." Wanita muda tengah mengandung anak ketiga itu tertawa pelan, tapi disisi lain hatinya sakit mendengar kata terpaksa. Semuanya memang perlu waktu, semoga Darel menjadi sosok figur ayah yang baik. Jangan pernah membedakan antara Naura dan Gemina bahkan Gian.
Riani melepaskan pelukannya kali ini berdiri berhadapan dengan Darel. Kebenciaan Darel terhadap Naura benar-benar membuatnya sakit. Darel itu baik, dia selalu memberikan kasih sayang pada Gemina dan Gian walaupun bukan anak kandungnya, tetapi tidak pada Naura. Riani ingin bertanya, namun sekarang suasana hati Darel terlihat tidak baik.
"Kita hanya perlu menunggu kabar dari keluarga mereka, aku mau datang saat pernikahan itu," ujarnya sembari jemari Darel mengusap pipi Riani. "... kamu perlu istirahat, jangan lupa minum obat yang diberikan Dokter."
Riani mengiyakan berjalan kembali dibantu Mbak Anis sebelum melangkah menaiki anak tangga, Riani menoleh menatap punggung suaminya itu yang berdiri dalam diam. Bertanya-tanya keduanya hampir setahun berumah tangga tetapi Riani sulit mengerti atas sikap Darel selama ini.
"Nyonya." Mbak Anis di samping memanggil pelan.
"Apa saya boleh bertanya tentang Liana, mendiang mamanya Ara. Entah kenapa di sini ada yang salah." Riani dapat melihat wajah terkejut Mbak Anis walaupun sesaat bagaimana dia langsung mengangguk.
Tidak perlu menunggu lama sepuluh menit asisten rumah tangga sekaligus pengasuh Naura itu menceritakan semuanya. Riani bersandar di kepala ranjang, keningnya berkerut. Paksaan Darel menikahi Liana justru terdengar tak mungkin. Keduanya saling mencintai, tapi kenapa Darel malah mengatakan jika Liana hamil di luar pernikahan, bukannya Darel yang disalahkan di sini karena telah menghamili Liana.
"Dulu Tuan Darel sosok ayah yang menurut saya luar biasa baik, tapi ketika Nona Ara berumur tiga tahun Tuan Darel sering bersikap kasar lalu setelahnya meninggalkan mendiang Nyonya Liana di Bandung."
"Apa saat itu Ara ikut Liana?"
"Iya, sebenarnya Nona Ara tidak ikut entah kenapa mendadak Tuan Darel berubah pikiran kemudian kembali menyusul Nyona Liana dan menyuruhnya merawat Nona Ara."
Mbak Anis mengulas senyum tipis masih ingat bagaimana raut kebahagiaan perempuan itu ketika bertemu anaknya. Sayang sekali Naura telah melupakan jika dia dulu pernah merasakan kasih sayang Darel karena saat itu umur Naura masih balita.
*****
Naura merasakan tubuhnya sudah membaik terbukti sekarang dia bisa duduk walaupun nyeri masih terasa dipinggangnya jika dia terlalu banyak bergerak. Satu porsi nasi goreng telah habis buatan Kak Sila sangat enak bahkan Kak Dafa yang baru saja bangun dari tidur, membersihkan diri kini merengek minta dibuatkan. Sosok tegas di wajahnya langsung hilang.
"Jangan maksa!" Sila berteriak lalu mendorong wajah Dafa. Kekesalannya tak bisa ditahan lagi, persetan dengan seseorang kini tengah mengamati.
"Asal lo tau gue belum makan dari pagi." Dafa berdecak kesal, meraih pergelangan tangan Sila menariknya secara paksa. "Gue ini sahabat lo!"
Sila tersenyum masam akhirnya mengalah, berpamitan pada Naura. Laki-laki seperti Dafa harus dituruti jika tidak, akan merengek sepanjang hari.
Sementara Naura di atas brankar menggeleng heran, kepala itu sedikit tertunduk menatap tangan kirinya yang diperban. Hasil pukulan sang papa melalui ikat pinggang memberikan luka bekas bukan hanya biru. Kak Sila mengatakan ada kulitnya terkelupas.
"Naura nggak mau dendam sama Papa." Gadis berkulit pucat tersebut berucap lirih, menahan bening hangat di sudut matanya.
Baru saja Naura hendak berbaring dia dibuat kaget mendengar pintu kamar di buka keras, Naura melotot siapa berdiri di sana dengan senyuman dan binaran mata itu menunjukkan perasaan lega bercampur bahagia.
"Kamu sadar?" Cowok berjaket abu-abu itu berlari tak membiarkan berbicara, dia langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadisnya, bibir merah itu sedikit bergetar.
"Argh..." Naura meringis kesakitan, Raihan memegang lukanya yang pasti tidak sengaja. Raihan buru-buru melepaskan, termundur dengan air muka bersalah.
Perlu waktu Naura berbicara dan Raihan terus meminta maaf, dia tidak tega melihat raut wajah Raihan tapi sekarang punggungnya benar-benar sakit apalagi mengingat kejadian Darel menyiksanya tanpa ampun.
"Aku baik-baik aja, Rai. Kamu tenang aja, oke?" sahutnya. Naura menarik sudut bibirnya berusaha menenangkan agak geli sikap Raihan layaknya anak kecil.
Raihan balas tersenyum kemudian menangkup kedua pipi Naura, saat Lovia mengirimkan pesan jika Naura sadar Raihan berbelok menuju rumah Sila.
"Mas Ian..."
Keduanya tersentak, kompak menoleh ke sumber suara. Raihan mengerjap sesenang itu sampai tak menyadari meninggalkan Kahfi.
Balita itu menghampiri sambil menangis terisak. "Ninggalin Ahfi, Mas Ian. Aduin daddy," katanya.
"Jangan, emang mau Mas Ian di cincang." Raihan menghapus air mata Kahfi, mencoba menenangkan walaupun sia-sia karena Kahfi semakin menangis histeris dan menolak niatnya yang ingin memeluk.
Barulah Naura yang berhasil menenangkan, balita itu sekarang duduk di pangkuan Raihan, tangan mungil itu terulur menyuapi Naura apel yang telah dipotong.
"Nanti kalau kita udah nikah punya anaknya lima ya, sayang!" ujar Raihan tiba-tiba sembari menatap tepat Naura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
Roman pour AdolescentsNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)