"Ini testpacknya. Kalian bisa kasih itu bukti kalau kamu hamil, Ara. Tanpa mencurigai siapapun." Sila memberikannya pada gadis di sebrang, raut wajah itu memperlihatkan keraguan.
"Positif?" Raihan bertanya bingung bertambah bingung lagi mendengar tawa dari Sila, apanya yang lucu? Mendadak Raihan kesal sementara Naura tadinya tegang mendelik.
"Itu compast memang positif. Kamu tenang aja itu pemberian temanku, jangan salah sangka. Semalam dia ke rumah terus ketinggalan. Katanya gak percaya kalau dia hamil," jelas Sila.
Naura sadar Kak Sila anti menjelaskan lebih dalam, tapi dia bersyukur wanita muda itu mau membantunya.
"Kamu hamil muda jaga kesehatan, dari pemeriksaan tekanan darah dan semuanya baik termasuk kandungan kamu. Apa ada perubahan yang terjadi selama kamu hamil?" tanya Sila.
"Dia lebih banyak makan," sahut Raihan terkekeh geli sambil menusuk pipi Naura yang memang lebih berisi.
"Maksud kamu ngidam?"
Raihan menggeleng. "Gue juga gak paham, semuanya Ara makan. Emang itu termasuk ngidam kak? Setau gue ngidam pengen sesuatu secara tiba-tiba." ucapnya.
Gadis yang sedang dibicarakan hanya mengamati obrolan keduanya, Raihan memang menyebalkan. Makan semuanya? Naura tidak mungkin seperti itu, Raihan saja lebay biasanya pulang kerja membawa jajanan maka Naura lah yang menghabiskan.
"Terserah kamu." Sila menggeleng heran, jalan pikiran Raihan tak dia mengerti. "Emang kamu pengen banget Ara ngidam, misalnya yang susah gimana? Kamu disuruh makan durian sekalian sama kulitnya."
Raihan terdiam, benar perkataan Sila jika Naura ingin sesuatu antimainstream Raihan berakhir menyesal lebih baik Naura mengidam sesuatu yang gampang dicari dan tidak membahayakan.
"Oke, lupakan." Sila menoleh sepenuhnya pada Naura. "Selama ini nggak ada yang curiga kan kamu hamil? Perut kamu juga udah membesar."
"Rai selalu bantu aku, di rumah aku selalu diledeki Rai badan aku tambah gendut di depan mereka jadi nggak ada yang curiga." Naura menyahut jujur, benar adanya. Kini mereka tinggal di rumah baru Kak Neon saat berkumpul Raihan akan berceletuk bahwa badannya gendut.
Sila terbahak keras menurutnya itu lebih baik daripada terbongkar semuanya. Mungkin ada menerima, tapi pasti di keluarga keduanya memandang ini dengan buruk. Sila tau keluarga Naura pastinya.
"Ingat ya kalau orang lain termasuk keluarga kamu, setelah pulang ini kamu bilang, Ara. Kamu hamil, jangan ada yang elus perut kamu."
"Itu pasti gue bakal lempar ini tespact ke Kak Dara terus peluk Ara, intinya menjauh. Setiap pertanyaan gue akan jawab." Raihan berkata yakin, menatap Naura dengan senyum manisnya. Raihan tidak ingin Naura banyak pikiran, semuanya harus tetap rahasia.
"Kamu enggak hamil, Ara yang hamil."
Raihan memutar bola matanya malas, kenapa Sila terus membuat kesal dirinya. Raihan harus tahan, jika dia mendamprat Sila tentu Naura akan marah apalagi Sila sudah berjasa.
*****
Sesuai ucapan Raihan tetapi tidak melempar benda itu, namun memberikan langsung pada Kak Dara yang tengah duduk santai di teras berikutnya Kak Dara berlari heboh memasuki rumah, Naura melihat itu menatap tak percaya. Segitunya respon wanita itu.
"Aku ... merasa bersalah, Rai."
Raihan mengeratkan genggamannya, ternyata dia gagal menenangkan istrinya itu. Wajah Naura semakin tegang bahkan Raihan dapat melihat kedua kaki itu sedikit gemetar.
Dari tempatnya Naura melihat perubahan di ekspresi Kak Neon hingga bertemu pandang dengannya, laki-laki itu tersenyum lembut. Senyuman yang jarang dia tunjukkan, mengingat Kak Neon selalu memasang wajah datar apalagi sifat laki-laki tersebut pendiam.
"Selamat, kalian tidak menundanya. Jaga kesehatan kamu, Ara." Hampir persis perkataannya dengan Kak Sila. Naura mengangguk kaku, mereka tau usia kandungannya seminggu namun faktanya kini hendak memasuki tiga bulan.
Raihan berdehem, rasa bersalah Naura bisa Raihan rasakan. Seandainya waktu dapat berputar di mana kejadian pada hujan itu dan Raihan tidak berambisi Naura harus melupakan masalah yang semuanya berawal dari Abian, pasti Naura tidak akan setakut ini.
"Aku punya ide." Dara tersenyum cerah. "Gimana kita buat pesta. Pesta kecil-kecilan, undang Lovia dan dua temen kamu itu Rai."
"Apaan sih, Kak? Katanya sayangku ini harus jaga kesehatan lah malah di bawa si anak rusuh itu. Mereka nggak kalah heboh sama lo." Raihan mundur kemudian memeluk Naura dari belakang tanpa peduli pelototan Dara.
Pada akhirnya permintaan Dara tetap dituruti bagaimana Neon juga setuju, Raihan mengacak rambutnya frustasi melihat Naura bersikap pasrah itu berarti dia harus menjaga Naura, jangan sampai ada yang berani mendekat lalu berniat mengelus perut istrinya itu.
*****
Oke, aku update lagi. Diusahakan untuk selalu update. Biar cepet tamat walaupun kayaknya masih lama.
Jangan bosan ya sama cerita ini, masih banyak yang belum terungkap. Makin lama makin uwu, bisa jadi hihi. Semoga bisa tiap hari update, amiin.
Ramein vote dan komennya ya. Vote aja nggak papa itu udah buat aku semangat😍
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
Teen FictionNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)