[26] Kemarahan

955 103 2
                                        

BRAK

Pintu putih itu di buka kasar, hanya sebatas satu dorongan dengan kaki. Sudut bibirnya mengalir darah tanpa peduli Raihan memasuki kamar perawatan itu, ekpresinya benar-benar dingin.

Pengawal keluarga Hayden sudah terkapar di depan, tentu saja itu semua ulah Raihan. Emosinya tak bisa dia tahan, dia lelah selama ini membiarkan mereka menyakiti gadis itu.

Di dalam ruangan itu tercengang, tidur mereka terganggu termasuk pria paruh baya yang berbaring di sofa.

Belum sempat Darel bangun lehernya tiba-tiba di cekik kemudian punggungnya membentur keras tembok, Riani memekik ketakutan, dan Gemina yang baru hendak menyentuh knop pintu toilet untuk bersembunyi langsung berteriak kesakitan.

"ARGH! KAKI GUE!"

"Jangan sekali-kali lo menghindar, tetap diam." Raihan berbisik tepat di samping telinga Gemina, menendang kembali kakinya.

Raihan menoleh membalas tatapan Darel sepenuhnya sementara kedua tangannya tetap berada di leher.

"Selama ini saya berusaha sabar dan berharap pertemuan berikutnya saya akan bersikap sopan, tapi Om menghancurkan semuanya."

Raihan benci memanggil nama menggunakan embel-embel, namun di sisi lain dia ke sini punya tujuan.

"Saya ke sini gak sendirian, pengawal Om udah pingsan di luar sana karena dua temen saya."

Wajah Darel memerah, napasnya mulai tak terkendali. Dia berusaha lepas dari cengkraman Raihan dan semua itu sekedar sia-sia.

"Le-lepas!"

"Ini yang Naura rasakan saat Om menyiksa dia, Ara yang berusaha tetap bernapas, kenapa anda harus menyiksa Ara?!" bentak Raihan.

"Anak itu... melakukan kesalahan, istri saya hampir... keguguran. Ternyata tebakan saya benar anak itu benar-benar tidak baik, sejak kapan dia kenal kamu? Selama ini yang dekat dengannya hanya tiga orang." Darel menyahut setelah Raihan mendorongnya kuat, kepalanya memandang lurus ke pintu. Tidak ada tanda-tanda pun akan ada orang yang datang.

Raihan tertawa keras, mengisi keheningan kamar itu. Sudah dia tebak Darel bahkan menyimpulkan hanya tiga orang yang dekat pada Naura padahal sebaliknya, Naura itu memiliki banyak teman yang tulus semasa dia masih di SMA Bintang, tetapi ada juga yang musuh dalam selimut tepat ketika Naura dihancurkan mereka berpaling dan memilih ikut menghujat. Lovia lah yang paling setia, selalu berteriak saat Naura di jelekkan. Naura pernah menceritakan hal itu.

"Sebenarnya saya punya niat buruk terhadap Om, tapi saya sadar niat buruk ini tentu salah! Sebentar lagi kan Om akan jadi mertua saya," ungkap Raihan terkekeh geli puas melihat wajah kebingungan Darel. Raihan telah mempersiapkan kata yang pas tidak bisa dibantah oleh siapapun.

Kedua tangan Raihan kini telah berada di atas bahu Darel, senyumannya berubah lembut, kilatan penuh emosi itu menghilang begitu saja.

"Saya ingin menikahi anak kandung Om Naura Rafia Hayden ... sebenarnya sayang benci mengatakan ini, bukannya Om memiliki ambisi aib keluarga Hayden tidak ada yang boleh tau atau membongkarnya." Raihan menjeda sejenak, tersenyum lebar lesung pipinya terukir jelas.

"...Om tidak perlu menyiksa Ara, tua terlalu cepat karena sering marah-marah. Lebih baik Ara menikah dengan saya. Jadi apa Tuan Darel merestuinya?"

Belum sempat Darel membuka mulut Riani yang duduk di atas ranjang lebih dulu menjawab tegas.

"Tentu saja kami merestuinya! Kamu yang sering menolong Ara, Ara sering menyebut nama kamu."

Raihan tertegun tak menyangka banyak yang tidak dia ketahui.

"Menyebut nama saya maksud, Tante. Gimana?" Raihan mendekat tertarik atas ucapan Riani.

Wanita yang bibirnya pucat tersebut tersenyum samar. "Saat Tante lagi bantu Ara buatin kue dia cerita tentang kamu dan kamu tau Ara pernah nyebut nama kamu di dalam tidurnya, mungkin saat itu Ara mimpi."

Yang pasti Raihan tidak bisa menjelaskannya, debaran dijantungnya semakin kuat. Memberikan rasa nyaman dan menyenangkan. Layaknya anak kecil tubuh itu lalu merapat sambil meraih jemari Riani.

"Tante gak bohong, kan? Ara pernah tidur nyebut nama saya? Ara cerita tentang saya gimana ekspresi wajahnya?" tanya Raihan beruntun.

Rania mengusap rambut hitam Raihan pancaran sosok keibuan Riani cukup diberikan tepuk tangan.

"Iya, Tante mana berani bohongin kamu. Kalau kamu serius Tante pasti restui kalian lagipula Ara sepertinya cinta sama kamu, perasaan kamu terbalas."

Raihan mengangguk kemudian berbalik badan hampir lupa tujuannya sekarang. Raihan tetap berdiri di tempat.

"Sekarang giliran, Om. Apa merestuinya? Saya tau anda tidak akan peduli bagaimana hidup Ara, tentu orang tua Ara masih hidup jadi saya perlu anda."

Darel berdecak kesal tertampar keras sementara Riani berharap Darel memiliki kepedulian seperti menolaknya, namun dengan alasan yang menyakinkan jika Darel menyayangi Naura layaknya pigur orang tua takut kehilangan anaknya yang hendak menikah.

Sahutan Darel berikutnya sebatas anggan bagi Riani.

"Saya merestui dan tanggung jawab saya sudah lepas. Tangan ini tidak perlu mengotori anak haram itu."

Raihan mengepalkan tangan, emosinya yang padam tersulut kembali. Raihan menerjang tubuh berumur tersebut menarik kuat kemeja Darel.

"Percayalah saya ingin sekali memperpendek umur anda! Menyiksa Naura karena istri anda mengira akan keguguran itu salah! Semuanya sebab anda, TUA BANGKA BAU TANAH!" teriak Raihan.

Gemina yang meringis di lantai tengah mengelus kakinya mendadak dibuat gemetar, kemarahan Raihan luar biasa menyeramkan. Sisi lembutnya berubah secara cepat. Di dalam hati Gemina berjanji tidak akan berurusan dengan Raihan Dipran.

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang