[20] Terlanjur

977 105 2
                                        

Teriakan bersahutan di dekatnya kini benar-benar mengganggu. Naura tentu ingat apa yang terjadi tadi malam, dirinya benar-benar syok. Kenapa tubuhnya menerima saja perlakuan Raihan? Tidak ada paksaan sama sekali, lembut namun sepasang mata kelam tersebut penuh gairah dan menuntut.

Setiap perlakuan Raihan bibirnya akan ikut berbisik lirih lalu membandingkan dengan apa yang dilakukannya dengan Abian, memori kelam berusaha dia lupakan. Awal hancur impiannya selama ini.

Tentu semuanya berbeda jauh, Raihan melakukan tanpa pemaksaan. Suara ribut itu kembali terdengar kini lebih keras, Naura di balik selimut tipis menutupi tubuhnya hanya bisa mendengarkan.

"Oke, gue nginap di rumah Mang Cio kan hujan jadi gue sekalian bantu beres-beres. Eh! Malah ketiduran!" jelas Lovi geram.

"Sekarang lo perempuan simpanan penjual martabak ya?" Jawaban Raihan sukses menyulut emosi Lovia lebih tinggi.

Berkacak pinggang Lovia langsung menendang kaki Raihan tanpa peduli suara minta ampunnya, tingkah kedua orang itu yang bergelut berat sebelah tidak Naura sia-siakan. Gerakan cepat dia membuka selimut, tak lama matanya melotot baru sadar tidak ada pakaian melekat di tubuhnya.

"Bodoh, kenapa kamu jadi telanjang gini, Ara." Naura bergumam, membasahi bibir. Wajahnya memerah seiring detik berlalu, Raihan sialan! Naura tidak tahan mengumpat.

Berdiri dengan langkah pasti selimut tipis itu Naura ambil, menutupi semuanya. Segala pikiran mulai dia susun menjadi ingatan, perasaannya campur aduk. Kesal, malu dan takut. Bagaimana nanti kedepannya? Apa Naura akan kembali terluka dan cobaan sebelumnya bukan lah akhir.

Tidak harus menunggu lama Naura sudah berada di dalam kamar mandi. Dia menghadap ke cermin kecil yang sengaja Lovia tempeli menggunakan lem perekat.

Naura menatap lekat tanda-tanda merah di lehernya, sebelah tangan Naura membuka pelan selimut menutupi dada dan perut, kali ini dia sungguh ingin membenturkan kepalanya.

Gagal!

Tangan Naura menggosok kuat bekas tanda merah itu tapi berujung pedih. Dia serba salah, seharusnya tadi malam Naura mendorong Raihan atau setidaknya menampar justru--Naura menggeleng kuat.

"Oke, Ara. Mandi dulu ... setelah ini pasti kamu bisa lupa." Naura berjongkok, dia tidak mau mengingat kejadian bersama Abian itu lagi tapi setelah Naura melakukan itu dengan Abian tubuhnya terasa lelah, dan sekarang Naura tidak merasakan itu bersama Raihan. Lagi-lagi Naura gagal melupakannya!

Gayung sudah berisi air itu perlahan luruh membasahi rambut hitam Naura hingga ujung kakinya, dia membersihkan diri. Sudut bibirnya terangkat tipis, bohong. Jika perasaan Raihan sebenarnya tidak terbalas.

*****

Pertama, setelah keluar dari kamar mandi Naura termundur kaget, tiga detik berikutnya wajah Naura kembali memanas, jantungnya berdebar kencang seperti hendak keluar. Naura menunduk, lebih tertarik pada tangannya berkerut menegaskan seberapa lama Naura mandi.

Naura butuh Lovia, tolong jauhkan dia terhadap pemuda berambut acakkan ini.

"Minggir."

"Kalau gue gak mau?"

"Aku bakal tendang kaki kamu."

"Emang kuat?"

"Iya."

Raihan menyeringai semakin melangkah maju sebelum itu dia lebih dulu meraih kunci kamar mandi lalu mengungcinya. Bisa saja Naura langsung masuk ke dalam. Jelas gadisnya ini berusaha menjauh. Sepasang mata coklat tersebut bergerak liar, wajah cantik tersebut kalut.

"Kita sekarang berduaan."

"G--gak usah bohong, aku tau Lovia lagi di meja makan."

Raihan terdiam. Benar sekali sahutannya, sekarang bunyi piring diletakkan keras. Raihan yakin itu bentuk kekesalan Lovia.

"Naura..."

Nama yang dipanggil mendadak merinding suara Raihan sengaja dibuat serak, senyuman itu semakin mengejek tetapi disisi lain menawan.

"Orang ganteng kaya gue pasti bertanggung jawab." Jemari Raihan terangkat membelai rambut basah Naura, jarak keduanya menipis. Tatapan netra berbeda warna itu sama-sama terkunci.

Susah payah Naura menyahut, "Terserah." Dia menelan ludah. "Ini bukan hal yang bisa diajak bercanda, Rai. Aku gak pernah selalu berharap ... kamu boleh pergi. Jangan kasih aku kebahagiaan," lanjutnya.

Entah kenapa Naura menyesal mengatakannya ketika mata kelam cowok itu berubah redup, binaran yang Naura tidak mengerti. Apa dirinya salah?

Raihan tersenyum kecut, mengerjap pelan. Mengambil napas sebanyak mungkin, kepalanya kemudian menunduk. Mengulang kembali bibirnya bertemu bibir ranum itu.

Mata Naura melotot, ciuman ini bukan paksaan melainkan lembut. Mengusai diri, Naura refleks terpejam, bibirnya merasakan cubitan pelan.







"RAIHAN BEGO! LEPASIN SAHABAT GUE, ANJIR." Teriakan melengking bersamaan derap langkah berlari, Raihan mendesis sinis. Menurut begitu saja, sudut matanya melirik Naura yang sibuk mengambil napas sampai di buat terbatuk.

Lovia kemudian memukul Raihan dengan sapu ijuk dipegangnya.

"Lo udah perkosa Ara sekarang mau lagi. Dasar buaya muara! Sialan, gue tau cowok kaya lo ini gimana. Apa lo bertanggung jawab kalau nanti Naura hamil!" bentaknya.

Naura tersedak, cara bicara Lovia terlalu frontal. Di sisi lain ucapan Lovia benar adanya, mereka berdua tanpa pengaman.

Raihan mengaduh kesakitan sembari menangkup kedua tangan. "Gue cinta sama Ara, sekali gue jatuh cinta dan udah bucin. Apapun bakal gue lakuin, termasuk gue bersedia bertanggung jawab. Aw, yaampun. Pantat gue!"

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang