SELAMAT MEMBACA❤
PART INI ADA KEKERASAN(15+)
------
Mobil sport merah Danika berada di parkiran salah satu club terkenal di pinggir kota, di samping kemudi ada Nikan tengah sibuk melihat beberapa orang memasuki club atau pun keluar. Mereka hanya mencari satu orang dan menyeretnya untuk memasuki mobil ini.
"Dasar jalang, minum di tempat murah. Palingan cuma oplosan!" Pemuda bertindik hitam tersebut memukul stir seraya tertawa. Nikan ikut tertawa, matanya melirik kaca mobil memantulkan jok belakang. Raihan duduk menyamping, pandangannya lurus seakan tidak sabar bertemu mangsa mereka lebih tepatnya mangsa Raihan.
Pandangan mata cowok berkacamata bulat itu lalu jatuh pada ponsel yang terus menyala di sisi paha sahabatnya itu.
"Rai, hape lo bunyi."
Raihan mengerjap tanpa pikir panjang meraih benda pipih itu, mendadak khawatir karena telpon ini dari Lovia. Dia sudah berpesan jika sesuatu terjadi pada Naura, Lovia harus menelponnya.
Kekhawatiran Raihan terjawab, raut wajahnya terlihat muram. Tidak bertemu Naura seharian adalah sangat salah, seharusnya dia bisa mempercayai Nikan dan Danika untuk mencari Gemina. Raihan lebih baik mendengarkan kata Nikan satu jam lalu sebelum memasuki mobil, lebih baik dia menjaga Naura.
"Siapa?"
"Lovia."
"Kenapa? Semuanya, oke. Kan? Muka lo tegang."
Raihan tersenyum paksa kemudian menjambak rambutnya, semua masalah benar-benar terus menyerang ke keluarga kecilnya. Mereka seakan tidak punya hak untuk bahagia.
"Ara hampir bunuh diri."
Nikan menahan napas begitu pun Danika terperangah, belum sempat keduanya kembali bertanya Raihan tiba-tiba keluar dari mobil membanting pintu. Di kaca spion melihat Raihan berlari dan sebelah tangannya memegang ponsel menempel di telinga.
Di mobil itu setelah kepergian Raihan, keheningan cukup lama hingga di menit kedua puluh. Danika berseru membuat Nikan terlonjak kaget. "GADIS GILA ITU, UDAH ADA. LO YANG NYETIR! TUGAS GUE BUAT DIA JERA!"
Nikan menurut, membiarkan Danika meninggalkannya, Danika menghampiri seorang gadis berpakaian minim hendak memasuki club. Pakaiannya ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya, rambut itu diikat tinggi.
"Pembunuh!" desisnya sambil meraih pergelangan tangan Gemina, pertemuan pertama mereka saat itu Danika syok sebab Naura berteriak kesakitan dan Lovia memintanya menyiapkan mobil, kemarahan Danika pudar begitu saja. Istri sahabatnya lebih penting walaupun begitu bayinya tetap tidak selamat.
Gemina berusaha melepaskan diri, namun pemuda yang Gemina tau namanya Danika ini semakin kuat menariknya, saat Gemina ingin berteriak seakan tau Danika membekap mulut Gemina.
Nikan sudah bersiap di kemudi, tepat ketika Danika mendorong kasar gadis itu setelahnya Danika duduk, menyumpal mulut Gemina dengan sapu tangan Nikan langsung melanjukan mobilnya, membelah jalanan kota yang cukup ramai.
******
Gudang tua bekas produksi kayu itu bertambah menyeramkan saat suara jeritan perempuan melengking. Di tengah hujan deras, sudut gudang tersebut ada dua orang. Jika Danika berdiri memasang senyuman manis beda Gemina yang bersimpuh di kaki pemuda itu.
Ujung dua pisau berlumuran darah, pipi mulus Gemina terkoyak di mana Danika berjongkok penuh ketelitian membuat karyanya. Setengah jam lalu Danika mengusir Nikan, dia tak suka permainannya di ganggu.
Gemina mengeratkan jaket yang menutup pahanya walaupun tangannya luar biasa gemetar bercampur pedih pisau tajam itu menghunus kulit pipinya.
"Kenapa lo diam?! Minta maaf, sialan! Lo itu pembunuh! Bayi perempuan Raihan mati gara-gara lo!" teriak Danika.
"M-minta maaf?" Mengerti kenapa dirinya berakhir seperti ini Gemina tertawa, balas menatap Danika. "GUE CUMA DENDAM SAMA ARA, KENAPA SAHABAT BEGO LO ITU JUGA IKUT! PALINGAN BAYI ITU BUKAN ANAK SI BEGO!"
Danika mengumpat kasar, emosinya yang berusaha dia kendalikan gagal ditahan.
"LO YANG BEGO!" Tangan kekar itu menarik kasar rambut Gemina. "Kayaknya lo enggak akan membusuk di penjara atau jadi buronan polisi. Lebih baik lo mati, gue dengan baik hati mengantar lo ke malaikat maut!" desisnya geram.
Gemina seakan tak gentar walaupun rambutnya sakit. "Lo bunuh gue, tapi lo yang masuk penjara. Kalau pun lo sadar yang lo lakuin ke gue dan membebaskan, gue bisa kasih tau bokap!"
Kali ini giliran Danika yang tertawa, tawanya keras. Terdengar menyeramkan di telinga Gemina, kepalanya di paksa mendogak ke atas. Dari sini Gemina melihat atap gudang banyak kelelawar bergelantungan.
Gemina tersedak darahnya sendiri, air matanya mengalir justru semakin membuat pedih luka menganga di pipi.
"Sayang sekali gue nggak akan nyuruh lo minta maaf lagi. Harusnya lo langsung minta maaf dan gue merekam permintaan maaf lo..." Danika berujar sambil merapatkan tubuhnya. "Yaudah, di sini gue mewakili Raihan. Raihan nyuruh gue buat lo bahkan berdiri pun nggak bisa! Tapi gue juga ga mungkin patahin kaki lo."
Gemina perlahan mundur, kembali memekik saat jaket kulit yang dia rebut dari seorang cowok berkacamata tadi di lempar.
"Penampilan lo kaya gini jelas banget buktiin lo itu udah ga perawan lagi!" bisik Danika tersenyum miring. Hati Danika bersorak, di antara dua sahabatnya maka dia lah yang paling berbahaya.
Badan Gemina gemetar hebat, rambutnya berantakan. Air mata Gemina mengalir deras, sebatas jemari Danika bergerak membelai paha Gemina.
"GUE MINTA MAAF, BILANG KE KAK ARA DAN KAK RAI. GUE MINTA MAAF! LEPAS. GUE MASIH PERAWAN!" Gemina berteriak histeris.
Sayangnya Danika tidak peduli lebih tepatnya sama sekali tidak punya hati, mati rasa. Danika bukan hanya melukai Gemina dengan dua pisau sekaligus, tapi juga merebut keperawanan Gemina. Danika sedikit kaget perkataan Gemina jujur adanya, gadis ini masih perawan.
Danika bersikap tuli sampai dirinya harus puas, sesuai permintaan Raihan. Gemina berdiri pun tidak akan mampu, memuaskan berahinya. Malam dingin itu untuk pertama kalinya Gemina layaknya benar-benar frustasi di bawah kukungan Danika.
*****
Duar....panas bund part ini 🔥🔥 puas kan Gemina udah dibalas ya walaupun diwakilin Danika 😤 semoga Ara gak kenapa-napa :")
Ramein vote dan komennya ya. Vote aja nggak papa itu udah buat aku semangat😍
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
Roman pour AdolescentsNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)