[27] Perubahan

978 104 1
                                        

Danika dan Nikan saling berbisik tak menyangka pemuda di hadapan mereka kini rajin, terus membolak-balikkan lembaran buku paket di meja, keningnya sesekali berkerut seperti orang berpikir keras. Tangan kanannya ada pena yang tergenggam ikut bergerak menggaris lurus rumus dan setiap kata di lembaran.

Raihan belajar?! Ini kah tanda-tanda akhir zaman. Pentolan SMA Ragian itu dulu lebih melempar semua tugas dan PRnya ke orang yang lebih pintar, namun sekarang benar-benar kebalikannya.

"Kenapa kalian liat muka gue kaya gitu!" Raihan menatap tajam, sedikit risih. Sudut matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya, pukul enam lewat sepuluh menit. Masih sekitar dua puluh menit bagi Raihan menyelesaikan PR matematika.

Nikan berdehem. "Tumben banget lo belajar, palingan lo belajar kalau udah di jewer Bu Minah itu pun pura-pura."

"Gue beneran pengen lulus secepatnya, seenggaknya nilai gue akhir-akhir ini bagus! Siapa tau para guru, sadar gue udah tobat." Raihan menyahut santai, kenakalannya memang sering membuat mereka mengomel bahkan diancam dia tidak diluluskan.

Danika mengiyakan saja sembari menyuap nasi goreng ke mulutnya, apapun yang diinginkan Raihan harus terpenuhi dengan segala cara. Sekarang si sulung Dapran pun sudah berada di Indonesia yang Raihan minta untuk membantunya dalam pernikahan.

"Gue boleh tanya."

"Hem." Raihan tetap menunduk dan Nikan yang melihatnya menghela napas. Sekarang mereka bertiga berada di kantin.

"Lira mantan terakhir lo mau ke sini?" ucap Nikan nyaris seperti berbisik yang dapat didengar Raihan. Raihan tersentak lalu mendogak, benar saja gadis jangkung memasang wajah arogan beberapa detik kemudian sudut bibirnya melengkung lebar. Senyumannya hanya untuk Raihan.

"Kamu ngapain?" tanya gadis tersebut mendaratkan pantatnya di sebelah Raihan.

Ekpresi Raihan seketika berubah dingin dengan biasa dia menggeser duduknya, tanpa peduli Lira yang merengek. Raihan luar biasa risih tapi dia tak bisa berbuat banyak. Terakhir saat membentak Lira dirinya harus berurusan pada Pak Yogi.

"Kamu jangan menjauh, emang mau aku aduin sama Papa." Lira menatap kesal, yang dimaksud Raihan Pak Yogi adalah kepala sekolah SMA Ragian. Lira sering mengadu secara berlebihan tentu hal itu membuatnya marah.

"Kita udah putus empat bulan lalu!" jawab Raihan geram. Akhirnya dia benar-benar tak tahan, buku matematika di meja sudah tidak tertarik lagi dimatanya.

Sementara Nikan merapatkan bibir lain halnya Danika malah mengompori yang langsung di hadiahi Raihan lemparan pulpen di puncak kepalanya.

"Tapi aku masih sayang sama kamu." Lira segera memeluk lengan Raihan, kepalanya bersandar di bahu tegap Raihan. Tidak menyadari orang yang tengah disandari air mukanya memerah dengan kedua tangan terkepal kuat.

Nikan dan Danika bersikap waspada hendak berdiri dari tempat duduk telah terlambat karena... Raihan sudah mendorong kasar Lira hingga jatuh dari kursi.

"LO TULI, GUE BILANG KITA UDAH PUTUS EMPAT BULAN LALU! KENAPA SEKARANG MASIH GANGGUIN GUE!" teriaknya meradang. Emosi Raihan kembali naik, pikirannya tercampur aduk. Raihan butuh ketenangan, tetapi semuanya hancur. Raihan khawatir gadis dicintainya kini belum sadar, masih harus bernapas dibantu masker oksigen.

Lira tercengang, siku dan lututnya mengenai lantai keramik dia jatuh di posisi hampir seperti bersujud. Rata-rata kantin dipenuhi adik kelas atau mungkin tidak, lebih mereka yang tugas piket.

"Sekali lagi jangan pernah ganggu gue, persetan lo aduin sama bokap lo itu. Gue gak peduli! Kalau pun di tendang dari sekolah ini justru gue bahagia itu berarti gue bisa cepatnya nikah!" ungkap Raihan sukses membuat orang yang mendengarnya kaget.

Raihan mengacak rambut setelah puas menyalurkan semua emosi yang dipendam, keluar kantin dengan langkah lebar. Semua orang sama saja.

*****


Neon menyelimuti anak tunggalnya itu dengan selimut, balita berusia tiga tahun tersebut tertidur nyenyak. Neon berbalik badan sadar sang istri kini menunggu di sofa yang terus bergerak gelisah.

"Aku mau bicara sama kamu, Mas. Tentang Raihan. Apa dia serius dengan pernikahan ini? Kamu tau sendiri adik kamu itu gimana?" Dara jelas khawatir Raihan sudah Dara anggap adik kandungnya. Entah kenapa dia khawatir apalagi mendengar cerita Raihan tentang gadis bernama Naura itu yang masih belum sadar.

"Justru karena perempuan itu membuat cara pandang Raihan berubah, aku yang mengurus dia sejak kecil. Mendiang orang tua aku yang sibuk banget sama pekerjaan." Neon memandang lurus tembok kamar pembicaraan ini membuatnya mengingat kembali kenangan lama itu. "...Rai selalu bersikap sesukanya, kasar. Dia nyakitin perempuan, tapi kali ini beda. Raihan tulus!"

Neon menoleh tersenyum lembut sambil meraih jemari Dara.

"Nanti kamu bisa liat sendiri, malam ini atau besok secara perdana kita liat calon istri Raihan. Kamu liat tatapan adik aku ke perempuan yang bernama Ara itu, semua rasa cemas kamu pasti akan hilang." Neon terkekeh geli sadar sang istri yang tetap menatap keterbingungan.

Wajah Dara yang imut semakin lucu seperti layaknya anak kecil yang bingung harus memilih boneka karena semuanya terlalu bagus, binaran mata secerah mentari tersebut berkedip-kedip polos.

"Aku gak paham."

Neon terbahak lalu menarik hidung pesek Dara hingga si empunya kesakitan, merengek kecil. Tak puas Neon mengacak rambut Dara dengan tangan kanannya yang langsung dibalas Dara tendangan kuat di paha.

Tindakan Raihan, Neon maklumi. Dulu dia pernah diposisi adiknya, bisa dibilang Neon sering dikatakan bucin terhadap Dara sampai sekarang. Segala cara Neon lakukan agar Dara jadi miliknya dan kini telah sah sebagai istrinya. Jadi tak heran Raihan bersikap seperti itu.

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang