[68] Heroik

736 68 1
                                        

Naura jatuh ke lantai, mengerang sakit. Malam ini cukup dingin, badannya hanya melekat kemeja tipis dengan bawahan rok hitam. Naura benar-benar merasa tersiksa, dia menggigit ujung bibir. Dua tangannya terasa kebas setelah terikat dengan Gian menurut melepaskan ikatan itu.

"Aku mohon, lepasin aku..."

Cukup Gemina jangan kedua kalinya Gian membuatnya kembali kehilangan. Naura bahkan tak mampu lagi untuk hidup jika itu terjadi.

"Gemina, aku udah maafin kamu ... tapi aku mohon biarin aku pergi dari sini."

Gadis kurus yang sedang duduk sambil menunduk itu kemudian menyahut pelan. "Gue enggak punya berhak buat lepasin lo, Kak. Gue juga dendam sama Danika, dia udah buat gue seberantakan ini dan lo caranya agar dia dapat balasan atas perbuatannya."

Jawaban Gemina semakin membuat Naura kehilangan kata, susah payah menahan sakit. Naura di selimuti ketakutan namun berusaha untuk bersikap biasa agar kedua orang itu tidak curiga, kontraksi di perutnya menjadi, lebih sakit dari sebelumnya. Bibir Naura terkulum dalam, merapal doa. Naura yakin, Raihan akan datang.

Telapak tangan Naura mengusap perut buncitnya seraya bersandar di ujung kursi, napasnya mulai terengah-engah. Tidak mungkin Naura melahirkan keadaan seperti ini, tak pernah terbayangkan apalagi di tempat gudang bekas ini lebih cocok tempat bersarang para hantu.

"Satu lagi, sinar kamu selalu terang. Sekali pun banyak orang yang membenci. Tidak pernah redup walaupun jatuh berkali-kali."

Air bening jatuh membasahi pipi Naura, lebih menyakitkan mengingat ucapan Raihan.

"Sa-sakit..."

Naura bergerak gelisah menyesuaikan rasa perih menjalar di pinggang dan pinggulnya, dia terisak tertahan. Detik berlalu memberat.

"Lo kenapa?"

Ingin sekali Naura tertawa mendengar suara itu, berkat mereka dia menderita. Sudah cukup sang papa, Naura mencoba tidak punya hati, mati rasa tersentuh. Namun itu terlalu sulit.

BRAK

Benturan keras terdengar nyaring hingga atap gudang itu ikut bergetar, tak lama bunyi langkah kaki berlarian bersamaan dengan umpatan kasar.

Di sana keempat laki-laki dan dua perempuan di belakang berhenti, berpusat ke tengah gudang.

"ARA!"

"Lo cari gue, kan. Lo yang banci sialan."

Danika tersenyum sinis lalu mengeluarkan sesuatu di balik celana jeansnya, sementara Gemina termundur dengan raut syok. Danika sama halnya malaikat maut, dia berniat menarik Gian justru tangannya di tepis.

"Cara lo beneran banci, gue harus balas semua perbuatan lo ke adik gue."

"Udah terlambat! Adik elo, gak perawan lagi!"

Tangan Gian terkepal kuat. "APA YANG KALIAN LIAT, HANCURIN MEREKA!" teriaknya meradang. Tujuh pria berbadan kekar itu langsung menurut, Danika lebih dulu melompat. Tujuannya hanya satu membuat Gian terkapar tanpa memedulikan Nikan dan Dafa kini sibuk bertarung.

"Lo lawan gue, sialan! Berani banget lo culik Ara. Urusan lo itu gue bukan dia." Danika menoleh sekilas ke arah istri sahabatnya itu yang kini memeluk Raihan erat melihat jelas bahu Raihan yang bergetar, cukup sampai sini semuanya. Tidak ada kata maaf, menghilangkan nyawa pun akan senang hati Danika lakukan.

Naura yang tadinya pasrah kini seolah kembali tau bahwa apa yang terjadi sebatas sementara, tangan Naura melingkar erat di punggung Raihan, dibuat lega di sisinya Lovia dan Kak Sila.

Lovia mencium jemari Naura berkali-kali, sudah tenang walaupun dia tidak bisa menahan amarah di dadanya. Lovia sebisa mungkin harus menahan, jangan sampai kecolongan lagi.

"Aku sayang sama kamu." Raihan menangkup pipi Naura, mengecup lama keningnya.

Naura mengangguk cepat, napas Raihan terdengar ngos-ngosan. Raihan pasti cemas dan takut.

"Kak Sila, Via. Jagain Ara ... gue bantuin mereka." Raihan berdiri, mendapati Nikan dan Gio kewalahan menghadapi ketujuh orang itu.

"Jangan...." Naura mencengram kuat jaket Raihan, intinya Raihan tidak boleh pergi. Sekedar satu langkah pun, firasatnya meraung keras itu berbahaya.

Raihan justru kembali berjongkok dan mengecup kening Naura sambil berbisik. "Mereka butuh aku, kita bisa keluar tumbangin mereka dulu, oke? Jangan nangis, aku itu gak suka liat kamu nangis." Setelah itu Raihan pergi tanpa menoleh ke belakang, satu tendangan mendarat di perut Gian. Dua lawan satu, di dekat pintu gudang. Dua lawan tujuh.

Secepat itu. Naura ingin sekali berteriak memanggil Raihan namun yang ada dia menoleh pada Kak Sila dengan tatapan memelas.

"Perut aku sakit, Kak."

Sila melotot sama halnya Lovia menyadari bulir keringat dan air muka Naura merah padam.

"Tarik napas kamu ambil dari hidung, keluarinnya di mulut pelan-pelan." Sila mengitari sekitar. "Kamu bisa jalan, kan? Kita ke sana!" sambungnya.

Naura mengiyakan, perlu pegangan menuju sudut gudang yang di tunjuk Kak Sila dibantu Lovia yang kebingungan setelahnya Naura bersandar ke tembok, Naura bergerak gelisah dengan posisi setengah duduk.

"Kak Sila, Ara kenapa?" Lovia bertanya membalas pegangan Naura yang melenguh.

Sila bergeser kemudian menyibak rok Naura dan membuka pahanya lebar-lebar.

"Perkiraan kita salah, Ara. Kamu harus kuat, Kakak bakal bantu kamu."

"Jangan bercanda Kak Sila!"

Lovia berdecak kesal walaupun wanita itu dokter lebih aman lagi Naura melahirkan di rumah sakit.

"Aku gak papa, demi bayi aku. Apapun ... kita lama nunggu ini, gak beda jauh ... sama Raina. Iya, Kak." Kening Naura berkerut dalam, rambutnya basah oleh keringat. Naura mengikuti instruksi Sila, sudut mata Naura mengarah ke Raihan.

Sedangkan Raihan, mengusap bibirnya yang berdarah. Tersenyum puas memandangi Gian yang kelelahan.

Bugh

Pukulan Danika melayang tepat di dagu Gian, bunyi patah di rahang dan pekikannya.

"Kakak dan adik parasit!"

Keduanya mendekat, Raihan meletakkan kaki ke perut Gian di detik ketiga memutar sepatunya di perut itu.

"Argh!"

"Lo kurang ajarnya sentuh istri gue."

"Musnah!"

"ELO YANG MUSNAH, RAIHAN DIPRAN!"

Danika di sebrang Raihan melotot belum sempat menarik tangan Raihan, kakinya di injak keras. Danika mengumpat kasar.

"DI BELAKANG LO RA--" Danika terperangah, terlambat. Matanya tiba-tiba panas. "RAI!" Danika menjerit kalut.

Tubuh Raihan berbalik paksa, tak bisa mengelak dan di kejutkan dengan Gemina menerjang, baru hendak melayangkan tamparan. Sesuatu di perutnya terkoyak dan dingin, perih. Ujung mata pisau itu semakin sengaja di tekan ke dalam, Raihan tercengat, kakinya gemetar.

Dia jatuh berlutut, telinganya berdengung sesaat. Nama-nama yang memanggilnya terdengar samar.

"GUE BENCI LO! LO ITU PENYEBAB KESUCIAN GUE DI AMBIL!"

Gemina meraung dan ujung pisau itu menancap kedua kalinya tapi di punggung Raihan, Gemina tertawa keras. MATI!

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang