Badan Gemina rasanya hendak remuk sekedar bangun pun sama sekali tidak bisa bergerak, air matanya menetes untuk kesekian kali. Penyesalan hingga kini, apa semuanya separah itu? Gemina bersalah, tapi kenapa balasannya sangat menyakitkan. Dia juga tidak menyangka membunuh bayi kakak tirinya itu.
Sementara Danika duduk santai di kursi, sepasang matanya menatap lurus gadis itu. Berdecak kesal, jaket pemberian Nikan sudah banyak robek dan penyebabnya adalah Danika sendiri. Jaket kulit itu hanya menutup atas tubuh Gemina.
Dress warna merah tidak sampai selutut itu nyaris semuanya ikut robek yang kini di samping kaki Danika, tadi malam memori itu tak akan pernah Danika lupakan. Puas, melihat wajah kesakitan Gemina. Permohonan maafnya bagaikan angin lalu.
"Tolong!" Gemina berkata serak, susah payah mengeluarkan suara. Dalam posisi berbaring di karpet kotor sambil tangannya terulur.
Yang Gemina tangisi hinaan selalu di berikan kepada Naura berbalik, mental gadis itu semakin terganggu walaupun dia sering ke club. Keperawanannya tetap terjaga.
Namun, semuanya pudar. Mahkotanya direbut paksa cowok itu memperlakukan layaknya binatang, Gemina menangis terisak. Dia takut, menyesal, masa depannya hancur.
"To-tolong gue..." Gemina merintih nyeri sambil menangkup kedua tangan. Gemina ingin pulang tapi tak mungkin harus pulang dalam keadaan menyedihkan. Kakaknya Gian entah di mana berada, Gemina berharap Gian mencarinya.
Danika bangkit lalu berjongkok di samping Gemina.
"Gue enggak mau lo hamil, jadi sebelum itu terjadi. Lo harus minum obat ini." Danika berkata sinis sambil merogoh kantong celananya.
Gemina menurut dengan tangan gemetar mengambil tiga pil di telapak tangan Danika, intinya Gemina menurut saja apa kehendak Danika. Jangan sampai membuat pemuda sadis ini marah.
"Jangan lupa minum," ucapnya. Kemudian Danika memberikan botol air mineral, Gemina dibuat tertegun sebentar walaupun itu bekas Gemina menerimanya.
Obat itu telah Gemina teguk, berharap dirinya tidak berakhir hamil. Gemina mengulum bibir, rasa sakitnya semakin menjadi melihat Danika memasang wajah jijik.
"A-aku mau pulang."
"Pulang?" Danika menaikkan sebelah alis sambil tertawa. Telinganya tidak salah dengar kan? Pulang? Semuanya tak akan semudah itu. Jemari Danika merapikan rambut hitam Gemina, dapat Danika rasakan tubuh Gemina dingin dan tegang ketika jemarinya mulai turun.
"Gue ini orang jahat, waktu itu lo bilang ke Ara kalau Ara itu mainan lo! Sekarang gue jadi penasaran mainan itu kaya gimana? Mainan manusia hidup." Pemuda bertindik tersebut memiringkan sedikit kepalanya.
"Ma-maksudnya?"
Danika menjauhkan dirinya. "Karena sekarang lo udah buronan polisi. Gue bisa bantuin lo enggak masuk penjara dengan cara gue bisa memohon ke Ara dan Raihan untuk terima maaf lo." Dengan sengaja Danika menjeda ucapannya, melirik Gemina yang menunggu gelisah. "Lo harus jadi mainan gue, keluarga lo nggak akan tau hal ini. Kalau pun nanti lo di usir, pintu apartemen gue selalu terbuka asal lo berlabel MAINAN DANIKA NAGISWARA!"
Menerimanya sama menyerahkan diri, tapi jika menolak Gemina tau pasti setelah Danika. Raihan akan ikut serta membalaskan semuanya yang lebih menyakitkan. Di detik kelima Gemina mengangguk ragu, senyuman Danika mengembang sempurna. Bagi orang lain senyum di balik wajah rupawan itu layaknya pangeran yang tersesat, namun bagi Gemina senyuman itu penuh arti dan dia siap menanggung rasa malu yang tak pernah Gemina bayangkan.
Sekali lagi Gemina menyesal atas tindakannya, kebencian hingga menghilangan bayi kakak tirinya itu membuat Gemina harus masuk jurang kegelapan.
*****
Raihan menghapus sisa air mata di pipi istrinya itu, kelopak mata tertutup rapat. Naura mengatakan, kabar Lovia bahwa dia bunuh diri itu salah paham. Naura mengupas apel dan tanpa sengaja mengores telapak tangan bersamaan dengan Lovia yang membuka pintu setelah izin ke kantin rumah sakit.
Lovia berteriak tidak dibiarkan berbicara ditambahi Naura terlalu malas menjelaskan, di satu sisi katanya Naura merindukannya seharian tidak bertemu.
Raihan tidak mengerti semenjak kepergian Raina, Naura selalu menangis di tidurnya. Dia tau Naura belum mengikhlaskan sama halnya Raihan, namun jika mereka terus bersikap seperti ini semuanya tak membaik.
"Kamu kenapa nangis?"
Seharusnya Raihan yang bertanya, tapi suara Naura membuat Raihan tersentak kaget ditambahi sudut matanya berair lalu mengalir di pipi.
"Aku nggak tau," jawab pemuda itu serak. Naura tersenyum seraya meraih tangan Raihan.
"Kamu jangan nangis, mulai sekarang aku bakal ikhlasin semuanya."
Raihan balas tersenyum, mengelus pelan sebelah telapak tangan Naura yang diperban.
"Kita masih punya kesempatan untuk jadi orang tua, aku juga enggak mau Raina sedih," lanjut Naura lirih.
"Tidur lagi muka kamu masih kantuk." Raihan berdiri memperbaiki selimut Naura, dokter bilang keadaan Naura mulai membaik jika malam ini kesehatannya stabil maka besok istrinya di perbolehkan untuk pulang.
"Aku maunya tidur sama kamu ... muka kamu, Rai. Keliatan kurang tidur." Naura menarik ujung kaos Raihan.
Raihan tidak tega melihat air muka Naura kecewa, sekali anggukan Raihan menaiki ranjang. Berbaring berhadapan dengan Naura. Raihan melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu mempertipis jarak, mengamati lekat wajah cantik istrinya ini.
"Mendiang mama selalu ajarin aku memaafkan kesalahan orang lain. Aku ga mau kamu dendam sama Gemina, maafin dia ya. Kasian mama Riani," katanya.
"Yaudah, aku maafin." Berikutnya Raihan sedikit menunduk berakhir mempertemukan bibirnya pada bibir ranum Naura. Tidak ada yang perlu di khawatirkan sebab pintu kamar perawatan Naura telah Raihan kunci.
*****
X : kenapa semalam gaupdate?
Lupa, kalian boleh dm aku atau komen. Misalnya nanti aku lupa lagi hehe.
X : kenapa setiap part pendek?
Sengaja, partnya bisa panjang tapi updatenya seminggu dua kali. Lebih baik part pendek, update tiap hari.
Agak nyesek pembaca dan vote jauh ya 😪 kebanyakan sider, Pembaca gelap :") gpp. Aku yakin mereka akan muncul, yang selalu baik vote dan komen terima kasih sudah mendukung ceritanya❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
Novela JuvenilNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)