[38] Para Mantan

926 107 4
                                        

Malam harinya, tepatnya di taman belakang hotel itu lebih mewah, dekorasi berwarna putih di tambahi kelopak tulip bertebaran. Lentera menggantung indah kuning keemasan, kebahagiaan terpatri di wajah mempelai. Tangan itu saling menggengam erat.

Gaun tanpa lengan melekat pas ditubuh Naura walaupun beberapa jam lalu Naura sempat risih merasakan gaun dipakainya ini terlalu terbuka. Rambut hitam Naura dibiarkan tergerai, puncak kepalanya terdapat makhota terbuat dari batu berlian. Hari ini Naura benar-benar merasakan jadi Ratu sehari.

"Aku lebih suka liat kamu senyum."

Naura menoleh senyumannya tidak memudar. "Makasih, kamu beneran pelangi buat aku," sahutnya. Raihan yang malam ini memakai jas pastel, rambut hitamnya tersisir rapi. Aroma parfum khas Raihan tercium bukan hanya sampai ke hidung Naura melainkan tamu undangan yang mendekat ke arah mereka, jika Naura adalah Ratu maka Raihan lah Rajanya.

"Kalau aku pelangi berarti kamu cahaya, yang akan menerangi hidup Raihan selamanya dan harum layaknya di taman seperti arti nama kamu."

Naura dibuat tertegun tak menyangka jawaban suaminya itu, mengusai diri Naura berusaha untuk tidak menitikkan air mata bahagianya, Raihan lah selama ini Naura cari.

"Aku mau kenalin kamu ke orang-orang yang nggak percaya sama pernikahan kita," ucap Raihan sambil menunjuk gerombolan perempuan berjalan ke tempat duduknya. Raihan merapatkan tubuh pada Naura. "Akhirnya kalian datang, gue udah nungguin. Acaranya udah tadi pagi tapi nggak papa malam ini puncaknya."

Naura tidak mengenal satu pun tetapi dalam keadaan seperti ini Naura bingung harus merespon, bagaimana dia ditatap penuh intimidasi.

"Selamat, ternyata beneran! Huhu ... dasar mantan ninggalin pas lagi sayang-sayangnya." Seorang gadis berambut sebahu berkata kesal setelah itu dia mendorong gadis di sebelahnya yang menatap Naura dan Raihan tidak berkedip.

Tidak ada bergerakan sedikitpun hingga tiga orang di belakang lebih dulu mengucapkan selamat pada Naura yang hanya dibalas Naura dengan kikuk, mendadak dirinya gugup. Lain halnya Raihan terus berbicara sombong.

"Gue Fina."

"Kenalin Arini."

"Lo cantik, nama gue Karin."

"Semoga kita menjadi teman baik, nama aku Azura." Gadis berambut sebahu yang pertama kali mengucapkan selamat pada Naura meraih tangan Naura.

"Ka-kamu mantan Rai?" tanyanya ragu. Berikutnya empat orang di hadapan keduanya mengangguk serempak.

Berarti selama ini benar ejekan Danian dan Nikan terhadap Raihan, cowok di sampingnya ini menunjukkan raut santai memang playboy dan jangan lupa pikiran Raihan selalu mesum.

"Nggak usah sok dekat sok kenal sama istri gue." Raihan menyingkirkan tangan Azura. "Sayang, kamu jangan mau temenan sama dia. Otaknya rada miring." Kali ini Raihan menoleh pada Naura.

Azura yang tidak terima langsung menyikut perut Raihan setelah itu pergi begitu saja, menghentakkan kakinya di ikuti yang lain kecuali gadis sedari tadi memandangi Naura penuh kesinisan dan bergeming di tempat.

"Ngapain lo masih di sini? Tamu yang lain juga mau ngucapin selamat, minggir!" ketus Raihan baru menyadari ada Lira di dekatnya.

"Aku nggak nyangka kamu nyakitin aku, kamu pengkhianat!" desis Lira seraya bersedekap.

Sikap Lira sukses membuat Naura terkejut begitupula Raihan yang melotot, ketenangannya terganggu. Ingin sekali Raihan meneriaki perempuan ini, tapi mengingat dia di mana sekarang Raihan harus tahan.

"Kalau lo gamon sama gue, terima nasib. Saat gue kasih kepercayaan dan beneran udah ngerasain cinta ... lo yang selingkuh!" balas Raihan tajam. "Gue nggak bego ya, empat bulan lalu lo selingkuh. Selama ini gue tau, sialan!" sambungnya.

Raihan ogah sekali mengungkapkan hal ini, dia tidak bisa mengelak Raihan pernah membuka hatinya pada Lira namun Lira justru mengkhianatinya, cara selingkuh dengan adik kelas mereka.

Lira terperangah hilang kata-kata, semuanya berbalik dan tertampar keras. Perlahan wajahnya memerah di tambahi bisikan tamu yang di dekat Lira.



*****

Menjelang tengah malam acaranya selesai, di dekat kolam renang kedua orang itu sibuk saling memaki.

"Kurang ajar lo, Danian!" jerit Lovia buru-buru dia mengusap pipi. Lovia tidak tau apa yang menempel di pipinya.

Danian terbahak kemudian sengaja menggoyangkan pantatnya ke kiri dan kanan, sosok Danian seperti itu menghancurkan imagenya jika seandainya dia melakukan itu di SMA Ragian.

"Itu tai burung."

"Sini lo, anjir!"

Lovia berjanji akan menjambak rambut Danian, tangannya sudah lengket dan bau.

"Kenapa lo nggak tanya gue dapat tainya di mana?"

"Sekali lagi lo ngomong itu, gue sumpalin mulut lo!"

Kejadian itu tidak luput dari kedua keluarga yang mengamati di meja tengah, tawa pelan terdengar di meja bundar tersebut.

Dara dan Kiara kompak menyemangati Lovia yang akhirnya mengejar Danian, tangan itu terus terulur hendak menarik kemeja Danian ketika jarak keduanya hampir dekat.

Obrolan Raihan dengan Naura terganggu mendengar setiap raungan Lovia.

"Dasar nggak punya malu," gumam Raihan. Naura di sebelah Raihan menoleh.

"Lovia kalau marah udah gak peduli gimana kondisi sekitarnya." Naura tersenyum geli. Pandangan Naura jatuh pada papanya yang baru saja duduk bersama Gemina. Papanya seharian ini begitu berbeda.

"Mau ke mana?" Raihan memegang pergelangan tangan Naura karena mendadak gadis itu berdiri.

"Mau pelukan sama Papa seengaknya aku harus salaman, jika malam ini beruntung pengan banget pelukan."






******

Maap ya baru update sekarang, lagi sibuk ngerjain matkul. Tenang sekarang udah selesai.

Ramein vote dan komennya dong. Vote aja nggak papa itu udah buat aku semangat, biar besok update lagi 😍

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang