Raihan memberikan tas cukup besar itu ke Mbak Anis, jam sepuluh pagi keduanya sampai di rumah. Raihan berencana akan mempekerjakan Mbak Anis di rumah seharian, sebelum itu dia lebih dulu izin pada ayah mertuanya itu.
"ARA!" Teriakan histeris membuat nama yang dipanggil tersentak kaget, Naura di balik punggung Raihan menoleh ke sumber suara, tertegun begitu saja ibu sambungnya itu bersimpuh di lantai dengan wajah banjir air mata.
"Tan--Mama kenapa?" Naura meminta turun, Raihan menurut lalu berjongkok. Tidak membiarkan berjalan sendiri Raihan menuntun Naura memasuki rumah. Dari tempatnya Raihan melirik Darel duduk di sofa.
"Maafin, Gemina. Mama mohon! Mama tau Gemina salah! Raihan, mama mohon maafin anak mama!" katanya menangkup kedua tangan. Naura menarik pelan tubuh mamanya untuk berdiri, hatinya sakit melihat mamanya memohon. Naura sudah memaafkan begitu pula Raihan.
"Mama jangan minta maaf, kita maafin Gemina. Anggap semuanya musibah," sahut Naura mendekap ibu sambungnya erat, mendengarnya Riani terisak. Dia tidak menyangka video itu merekam semua kejahatan putrinya yang sungguh keterlaluan dan sekarang entah di mana berada, Gemina hilang sebatas meninggalkan surat mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
Perlu sepuluh menit Naura mengatakan dia telah memaafkan dan tangisan mamanya berhenti. Di ruang tengah itu Raihan dan Naura duduk bersebelahan, baru sadar ada yang aneh.
"Itu box bayi siapa?" tanya Raihan akhirnya. Raihan mengingat sesuatu kemungkinan tempat tidur bayi itu milik adiknya Naura.
"Untuk kalian," sahut Darel tenang. Riani tersenyum tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu.
"Mama juga nggak ngerti, padahal Azka udah punya. Papa kamu sebelum ke sini tiba-tiba pengen berhenti di toko peralatan bayi, katanya buat kalian." Riani menjelaskan hati-hati. Baginya cukup di rumah sakit Riani melihat wajah sedih Naura.
"Hadiah buat kalian, Azka di rumah sama pengasuhnya. Saya yakin kalian tidak akan selalu terpuruk," kata Darel.
Tubuh Naura bergetar, merasakan gejolak di dadanya. Bebannya seolah meringan apalagi senyuman papanya terbit. Balas menatap Naura, papanya setiap berbicara padanya menunduk tetapi di detik ini pertama kali Naura mengartikan tatapan hangat itu.
"Saya minta maaf atas kelakuan Gemina. Anak itu luar biasa keterlaluan kalian tenang saja dia akan saya berikan bal---"
"Enggak perlu, Pa. Sekali lagi semuanya selesai. Aku dan Raihan memaafkan." Naura menyela lembut sambil tersenyum lebar.
Sementara Raihan menatap lekat tempat tidur bayi itu berwarna abu-abu lengkap dengan penutupnya. Hadiah ayah mertuanya juga memberikan mainan kecil yang sering Raihan lihat tergantung di langit-langit kamar berbentuk bulan sabit.
Naura tidak menyiaka-nyiakan, dalam keadaan seperti ini sulit kembali terulang maka setiap pembicaraan bersama sang papa sepasang mata coklat madu tersebut berbinar-binar.
*****
"Kita boleh menangisi Raina, disatu sisi terus menangisi Raina. Bayi kita ikut sedih liat mamanya lemah kaya gini."
Setiap malam Raihan berbisik sebelum keduanya benar-benar tidur, itu pula kekuatan terbesar Naura. Dia tidak bisa mengelak kejadian yang dilakukan Gemina menjadikan Naura trauma, berjalan menuju lantai dua di anak tangga membuatnya sering gemetaran.
"Kamu tega banget, Yang. Ninggalin aku."
Naura berdecak kesal, kebiasaan Raihan datang tiba-tiba mengangetkannya kemudian melingkarkan tangan di perut ratanya, Naura menunduk tersenyum tipis dan kebiasaan Raihan tidak pernah berubah walaupun dirinya tak hamil.
"Salah kamu sendiri tidur kaya orang mati. Untung aku liat dada kamu naik turun yakinin aku kalau kamu masih hidup," jawabnya.
Raihan merapatkan tubuhnya. "Semoga Mbak Anis datangnya terlambat, aku pengen manja-manja dulu sama kamu."
Permintaan Raihan akhirnya di terima Darel jika Mbak Anis bekerja di rumahnya seharian, janji Kiara mencari satpam pun ditepati. Pria kekar yang kata Naura lebih mirip preman pasar.
"Gimana menurut kamu Mang Adam orangnya?"
"Baik."
"Bukannya kemarin kamu bilang takut, mukanya mirip preman pasar minggu."
"Aku salah nilai Mang Adam."
"Makanya liat orang itu jangan dari luarnya, Mang Adam ramah gitu di bilang galak."
Raihan mencibir ketus, Naura bahkan berceletuk tadi malam berniat memecat pria berbadan kekar dan tambun itu alasannya seperti diawal wajah Mang Adam layaknya pria kasar.
"Iya, maaf. Napa kamu marah ... adiknya ya?" tanya Naura terkekeh geli.
Raihan mendelik, bagaikan lampu menyala di atas kepala. Raihan tersenyum usil, mengabaikan protesan Naura karena dia memaksa gadis itu berbalik menghadapnya.
"Ciuman pagi," ucap Raihan sambil jemarinya menekan-nekan bibir.
"Apaan? Mesum banget!" balasnya membuang muka. Naura mendorong pelan tubuh Raihan, di jam begini biasanya Mbak Anis datang bagaimana nanti pengasuhnya sejak kecil itu memergoki.
"Kamu wajib tau kemauan suami itu harus dituruti selama baik."
Naura terdiam. Apa dia yang perlu memulai? selama ini Raihan yang duluan, pipi Naura terasa panas membayangkannya.
*****
Ramein vote dan komennya ya. Vote aja nggak papa itu udah buat aku semangat😍
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
TienerfictieNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)