[3] Kemarahan Darel

1.9K 182 11
                                        

Sejak kejadian di ruang makan dua hari lalu Naura tidak berani lagi sarapan pagi bersama papa. Saat papanya itu pergi ke kantor baru ia akan keluar kamar. Sebelumnya Darel tetap menerima Naura jika makan bersama walaupun bersikap dingin, tapi sekarang justru berubah.

Kebencian sang papa semakin bertambah terlebih kejadian memalukan dirinya harus di DO dari SMA Bintang.

Naura menuruni tangga yakin di meja makan tidak orang lain dan benar saja, belum sempat Naura menarik kursi suara derap langkah kaki berlari sembari berteriak memanggil namanya.

"Itu di depan rumah pacar Nona lagi dipukul sama Tuan! Katanya pengen ketemu Nona," adu Mbak Anis.

Gadis berkucir rapi itu melebarkan matanya. Abian? Jika memang iya ia terlalu berani ke rumah ini, hubungan mereka sudah kandas. Abian memutuskan secara sepihak walaupun begitu Naura tetap menerimanya. Perkataan Abian sebatas anggapan tentang ia barang bekas yang harus dibuang terasa sakit di ulu hati.

"Mbak, terus sekarang ... Tante Ria mana?" tanyanya gagap.

"Nyonya udah berusaha biar cowok yang namanya Bian itu nggak ketemu Tuan, tapi dia keras kepala. Kebetulan nyonya lagi siramin bunga." Mbak Anis menjelaskan dengan raut tegang. Naura paham setelahnya apa yang terjadi. Darel sang papa bukan lah seseorang bisa menahan emosi.

Naura menepis pelan pelukan Mbak Anis dari lengannya, buru-buru ia berlari walaupun Naura harus berpikir jernih ia tidak boleh gegabah seperti menyelamatkan Abian dari amukan Darel, itu sama saja semakin membuat papanya marah. Untuk itu Naura hanya berada di depan jendela dekat pintu menyingkirkan gorden tipis.

Sementara di luar rumah.

Pemuda berjaket abu-abu tersebut termundur, ia menahan kepalan tangan yang sudah berkerut itu. Berusaha kuat agar dirinya tidak kelepasan.

"Oh, jadi kamu orang yang merusak anak saya! Kenapa kamu berani kerumah saya?" bentaknya.

"Merusak? Kita berdua pakai pengaman, lagipula anak om saat saya melakukannya tidak menolak."

Jawaban Abian berhasil membuat semua orang yang mendengarnya melotot termasuk Naura, tidak. Jangan sampai ia kembali menangis.

Hingga tamparan keras mendarat di pipi kanan Abian seakan belum puas Darel menendang lutut pemuda di depannya kini.

"Kamu kira saya tidak tau arti tatapan mata kamu, jangan meremehkan saya!"

Riani yang berdiri di belakang Darel memeluk lengan suaminya itu, seperti jadi penenang. Keduanya mundur perlahan.

"Aku bukannya meledek kamu, Mas, tapi ingat umur," bisiknya lembut.

"Singkirin dulu kotoran ini dari rumah aku sekarang! Cuih, jika kamu ingin bertemu anak saya lihat saja setelahnya leher kamu akan putus!" Darel menatap bengis, kakinya nyaris terayun kembali tapi sebelum itu Riani lebih dulu menarik tubuh Darel.

Abian membalas tatapan Darel, warna mata laki-laki itu mengingat pada seseorang. Tidak lain Naura. Abian sama sekali tidak menyesal melakukan itu, siapapun pesaing kuat Olimpiade harus menyingkir. Gelap mata dan ambisi memenuhi kehidupan dirinya.

Naura berbalik, ia tidak sanggup mendengar setiap perkataan Abian dan Darel itu terasa menyakiti dadanya.

"PAPA TAU KAMU ADA DI SANA, SEKARANG KAMU KE SINI!" Teriakan Darel tersirat penuh ancaman menghentikan langkah Naura. Apa ia harus menuruti papanya? Itu sama saja ia kembali menyerahkan diri untuk dipukul.

PLAK

Naura sampai harus memejamkan matanya padahal belum sempat ia benar-benar di luar rumah.

"Jalan kamu terlalu lambat, apa kakimu sekurus itu?!" teriak Darel sembari menarik tangan Naura, menyeretnya menuju Abian.

Abian tidak menyangka dimana dirinya sekarang berada, seorang ayah menampar anaknya sendiri. Terlebih wajah dan tangan Naura terlihat biru, pikirannya mulai berkelana. Ia menangkap tubuh Naura yang didorong kasar Darel.

"Sekarang kamu mau ikut pacar perusak ini atau ikut saya?! Dengan senang hati saya menyerahkan kamu pada pacar bajingan kamu itu!"

Naura mendogak, matanya berkaca-kaca. Lebih menyakitkan ketika papanya berkata tanpa beban seakan ingin membuangnya daripada Abian. Naura menjauhkan dirinya dari Abian.

"Aku ... cuma punya papa, ikut papa," sahutnya menahan tangis. Naura berjalan tertatih ke arah Darel, berdiri di sampingnya.

Pria paruh baya tersebut mengangkat dagu angkuh tersenyum sinis pada Abian.

"Saya ingin berbicara serius dengan Naura bukan merebutnya dari anda," ketus Abian.

Darel meraih pergelangan tangan Naura, tatapan matanya menusuk kemudian ia berbalik memasuki rumah.

"Jika saya liat kamu sama dia, kamu pasti tau setelahnya apa yang terjadi! Jangan sekali-kali bertemu bajingan itu."

Naura menurut patuh, merapatkan bibirnya menahan sakit. Genggaman papa begitu kuat cukup jeritan ngilu saja tidak akan dilepaskan justru semakin kuat dan tulangnya terasa patah. Bahkan papa mengabaikan istrinya itu yang terus berteriak marah.

"Kamu benar-benar tidak tau terima kasih, sekali lagi jangan pernah sekali pun mengintip apalagi bertemu si bajingan!" Darel mendorong Naura ke sofa lalu menampar pipi kirinya.

"Maaf, Ara janji."

Riani di tempatnya terisak. Ia harus melihat anak itu disiksa, entah sampai kapan Darel puas. Kesalahan apa harus berimbas pada Naura, nyatanya darah daging Darel sendiri walaupun keduanya menikah lima bulan lalu, semua pertanyaan tidak pernah terjawab.

****

Isakan di dalam kamar beruansa hitam putih itu terdengar sakit. Sepasang matanya yang bengkak terlihat jelas di pantulan kaca.

Keyakinan Naura jika semuanya sebatas sementara, kata itu menjadi penopang. Niatnya ingin perbaiki semuanya justru kejadian yang Abian lakukan semakin bertambah rumit.

Siapa yang suka rela membawanya pergi dari rumah ini, menerimanya apa adanya. Gadis yang telah ditiduri seperti dirinya akan dipandang sebelah mata dan hina.

Tangan penuh darah kering itu meraih kotak tisu di laci, seiring air matanya mengalir deras.

"Kamu kuat, Ara. Papa kaya gitu sementara. Nanti besok papa pasti gak marah lagi."

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang