[16] Air Susu DiBalas Dengan Air Tuba

1.1K 112 3
                                        

Kejadian tadi siang Naura tidak bisa merespon apapun, tubuhnya mendadak kaku yang pasti Naura menganggap perkataan Raihan adalah sebuah guyonan.

Di balik bantal Naura menutupi wajahnya, kedua pipinya kembali terasa panas. Jika memang benar dia dan Raihan sudah mengenal lama, Naura sedikit tenang walaupun sekarang rasa penasarannya lebih besar. Kemungkinan Naura mengenal Raihan sebelum berumur delapan tahun sebab Naura saat itu masih berada di Bandung, tinggal bersama almarhumah sang mama, namun ketika mamahnya pergi untuk selamanya dia harus menerima kenyataan, terpaksa pindah kerumah besar yang mengatakan jika Darel ialah papanya.

Awalnya Naura bahagia, sosok yang dia kira sebatas ilusi tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah sebentar lagi akan Naura rasakan. Namun, nyatanya ketika dia tinggal bersama Darel kehadirannya justru dianggap kesalahan besar.

"Aku gak perlu percaya secepat itu sama Raihan walaupun kita emang pernah temenan dimasa lalu bukan berarti aku harus percaya sama dia," gumamnya. Naura mengubah posisnya menjadi duduk, bersandar di kepala ranjang.

Ketenangan beberapa jam di dalam kamar itu setelah pulang ke indekos Lovia, pecah ketika pintu kamarnya di tendang kuat. Naura yang hendak mematikan lampu di meja nakas terhenti dengan wajah kaget ke arah pintu.

Sepasang mata itu terus menceomooh. Selama lebih tujuh bulan Naura bersikap biasa saja, tidak mencari masalah apapun diam saja saat Gemina menuduhnya di rumah ini berakhir dia dibentak Darel.

"SEHARUSNYA LO TAU KESALAHAN LO ITU APAAN?!" Gemina berteriak, garis wajahnya memerah sembari menghampiri Naura.

Naura yang melihatnya segera bersikap waspada, dia beranjak turun dari ranjang. Menatap adik tirinya itu. Sebelum tangan Gemina teulur menarik rambut Naura lebih dulu menepisnya dengan buku yang tengah dia pegang.

"Maksud kamu apa?"

Gemina sedikit kaget detik berikutnya segera mengusai air muka dia membalas mata coklat madu itu yang juga terlihat linglung.

"KENAPA KUE COKLAT YANG DIMEJA GAK LO BUANG, KUENYA BASI BODOH DAN GUE MALAH KEMAKAN KUE ITU!" bentaknya.

"Hari ini aku gak bikin kue. Papa lebih sering di rumah, jadi aku gak berani lebih lama di dapur," sahut Naura pelan. Dimanapun Naura berpijak jika satu ruangan bersama Darel lebih lama pasti papanya itu akan mengatakan perkataan yang selalu memberikan luka tak kasat mata dihatinya.

"Terus lo salahin Mbak Anis gitu? Pengawal di rumah ini? Itu jelas banget lo, rasa kuenya yang pantas disebut pasir itu cuma lo yang bisa bikinnya. Nggak enak, lembek rasanya hambar lagi. BASI!"

Naura mengigit bibir, ucapan Gemina sukses menampar Naura. Padahal dia belajar dari sang mama, Mbak Anis yang menjadi saksi selalu mengatakan kuenya enak. Dulu, dia sering gagal namun silih berganti semuanya membuahkan hasil yang manis.

"Gemina, serius. Hari ini aku gak bikin kue kedapur pun pas tadi pagi setelahnya aku ke kosan Lovia."

"Muka lo udah keliatan nipu!"

Naura tidak bisa mencegah ketika tubuhnya terdorong kasar ke arah ranjang, dia menelan ludah. Mengatur napasnya yang mulai sesak.

"Lo itu, Kak Ara. Kata papa anak selalu nyusahin. Air susu dibalas dengan air tuba."

Naura menarik napas, tangannya terkepal kuat berusaha menyembunyikan kesakitan itu sama saja membuat Gemina kesenangan. Naura mengetahui sisi lain Gemina yang ternyata bahagia melihat orang lain menderita, itu yang satu minggu lalu yang di utarakan Mbak Anis karena Gemina memiliki kelainan mental.

"Seharusnya kata-kata itu untuk kamu. Keluarga kalian datang membuat semuanya tambah rumit, Gian yang keluar dari kantor polisi Papa aku yang bantuin dan kamu bisa berobat, pergi jalan-jalan tanpa mikirin pengeluaran semuanya dari siapa? Papa aku...," ucap Naura. Dadanya naik-turun, luka yang Naura pendam selama ini terlalu menyakitkan.

Gemina terdiam beberapa saat mendapati Naura hendak bangkit gerakan cepat dia mencengram kedua bahu Naura.

"Argh... kamu mau ngapain?"

"Gue benci banget sama lo, Ara, seharusnya lo mati aja! Yaudah, gue bakal baik dengan ini gue bantu lo buat mati!"

Mengumpulkan kesadaran Naura berbisik pedih. "Kasih tau aku alasan kenapa kamu benci seseorang yang di depan kamu ini bahkan gak pernah melakukan kesalahan sama kamu, Gemina. Lepa--sakit..."

Naura benar-benar takut Gemina di depannya kini dari pandangannya jelas sangat benci.

"Jadi lo mau tau alasannya kenapa? Hem, boleh. Masih sama kok gara-gara Abian ... karena dia udah suka sama lo, padahal udah dari lama sebelumnya gue suka sama Abian tapi Abian naksirnya malah gadis penyakitan kaya lo."

Tubuh Naura langsung membungkung. Kepalanya mendadak dingin bersamaan rasa nyeri yang luar biasa. Sudut mata Naura melirik ujung gelas yang baru saja Gemina pukulkan di kepalanya yang di penuhi darah.


******

Guyuran hujan semakis deras, udara dingin seakan sudah menjadi hal biasa. Diantara kesadaran yang mulai menipis gadis berkulit pucat tersebut menunggu seseorang yang baru saja dia hubungi sepuluh menit lalu.

"ARA!"

Suara serak berasal dari sebrang membuatnya bersyukur. Air mata Naura yang sedari tadi ia tahan mengalir deras bercampur air hujan dan darah memenuhi wajahnya.

Semakin Raihan mendekat semakin itu pula jantungnya nyaris ikut berhenti.

"Sakit, Rai..."

"Gak papa, ada aku." Raihan tersenyum lembut sambil mengusap pelan rambut Naura, namun detik berikutnya Raihan dibuat menahan napas ketika telapak tangannya dipenuhi warna merah kental.

"Yang mana yang sakit. Kamu tenang, oke? Jangan sakit. Aku udah janji bakal jagain kamu, Ara. Sekarang kita sembuhin biar gak sakit lagi."

Naura menggeleng, kesakitan dan ucapan memohonnya tidak di dengarkan Gemina hampir satu jam Naura membiarkan Gemina bersikap sesukanya sampai adik tirinya itu puas. Naura tidak bisa melawan, fisik dan batinnya lebih dulu sakit.

Raihan menggendong hati-hati tubuh Naura menuju halte, di mana halte pertemuan kedua mereka dengan pelan Raihan membaringkan tubuh Naura dan pahanya sebagai bantalan.

Naura terbatuk pelan, matanya terbuka. Bibir pucat itu melengkung tipis mendapati garis laki-laki tersebut kini menunjukkan raut khawatir.

"Makasih, Rai."

"Jangan tutup mata lagi."

"Aku beneran bahagia bisa kenal kamu, makasih." Air mata Naura mengalir deras kemudian menjadi isakan. Bahu Naura bergetar hebat membiarkan jemari Raihan mengusap wajahnya tidak ada raut jijik di sana.

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang