"Enak!" Untuk kesekian kalinya Raihan mengatakan itu, kue bolu yang di piring tertinggal dua potong. Dara yang lima menit lalu saja hendak mencobanya langsung tidak diizinkan Raihan. Itu lah tanda-tanda orang pelit.
Naura duduk di sebrang melirik malas kemudian kembali pada kegiatannya menghitung undangan berwarna kuning keemasan tersebut, dia tak menyangka pernikahannya akan benar-benar mewah, itu yang di katakan Raihan. Pandangan Naura terhenti di nama tertera jelas.
"Kamu undang Abian?"
"Iya, semuanya aku undang termasuk sahabat kamu Alta." Raihan menyahut pelan, berhati-hati dengan perubahan wajah Naura apalagi nama Abian begitu sensitif. "biar mereka tau kalau kamu itu punya aku!" lanjutnya.
Gadis itu menghela napas, baiklah jika itu kemauan Raihan. Naura bisa apa? Dia hanya mengikuti semuanya, mencoba berdamai. Memaafkan memang mudah, namun tidak melupakan.
"Itu undangan spesial, lihat deh sisanya kebanyakan cewek juga ada. Kamu harus tau mereka itu mantan aku." Mendengar Raihan berkata bangga membuat Naura berdecak kesal, selain mesum predikat Raihan juga playboy.
"Aku enggak mau nanti kamu selingkuh!"
Pemuda berlesung pipi tersebut tersedak. Selingkuh? Tidak ada kamus di hidupnya berumah tangga bersama Naura selingkuh, kalau orang lain kemungkinan iya. Lagipula Naura sahabat kecilnya.
"Kenapa senyum?" tanyanya ketus. Raihan tertawa kemudian mencodongkan badan, kedua tangan itu bertumpu di meja.
Lantas bibir Raihan sudah mendarat manis di kening Naura, seandainya Naura tidak memukul bahu Raihan, ciuman itu dipastikan turun ke bibir.
"Dasar mesum!"
"Belum juga nikah udah galak."
Naura beranjak dari duduknya, meraih piring yang kini telah habis kue bolu buatannya mendarat di perut Raihan tanpa memedulikan rengekan Raihan, langkah Naura menuju dapur di mana arah wastafel.
Sebenarnya Naura masih tak menyangka dikelilingi orang-orang yang sayang padanya, bertahun-tahun mendapat tatapan dingin dari sang papa cukup membuat hatinya pedih. Naura mengatur napas, yang mulai sesak. Telapak tangannya terangkat memegang dada kiri, semoga jantung ini tidak berulah lagi. Dokter bilang jantungnya bermasalah karena faktor keturunan.
"Maafin Ara." Gadis berambut panjang itu bergumam lirih, mengingat kenangan mendiang mamanya. Naura selalu bertanya kenapa Liana terus memegang dadanya ketika kelelahan, namun jawaban berupa gelengan terus Liana berikan.
Selesai mencucinya Naura menuju rak piring dekat kulkas, meletakkannya di sana. Baru empat langkah Naura mendadak merasakan hal aneh, kakinya tidak mampu bergerak dan perutnya terasa sakit.
"Raihan!" Yang Naura lakukan hanya bisa berteriak memanggil nama cowok itu, ketakutan menghantui pikirannya. Kepalanya sakit, bulir keringat menetes di kening Naura. Tubuh mungil itu gemetar hebat.
Suara derap langkah kaki disusul panggilan cemas. Raihan menahan tubuh gadisnya tersebut yang nyaris tumbang. "Kenapa? Ada yang sakit?"
Naura membasahi bibir, balas menggengam tangan Raihan. "Yang lain mana?" tanyanya serak.
"Di apartemen sebelah," sahut Raihan sembari mengangkat pelan tubuh Naura. "Perut kamu sakit?"
Tidak bisa mengelak Naura mengiyakan, bukan berarti Naura menolak jika benar dia hamil, tetapi bagaimana perasaan keluarga Raihan dan keluarganya. Naura lelah tatapan Darel, Naura tidak ingin anaknya ikut di kucilkan.
"Kita ke rumah sakit?"
"Tapi aku takut."
"Nggak mungkin kita harus ke rumah Kak Sila, sekarang dia lagi ada praktek. Siapa tau kita ketemu dia dan bisa langsung tanya-tanya."
Berikutnya Naura hanya mengangguk pasrah, sudah lama dia tidak pernah ketempat itu khas bau obat-obatan, tempat di mana Naura harus kehilangan sang mama untuk itu Naura trauma, tetapi selama Raihan ada di sisinya Naura merasa baik-baik saja.
******
Wanita muda bersetelan dokter duduk di kursi kerjanya, menunjukkan ekpresi kaget. Perasaannya campur aduk, mengira gadis yang sudah dia anggap adiknya itu masuk angin melainkan hal lain.
"Niat kamu ingin menghilangkan trauma Ara, sikap kasar pacar Naura dulu justru malah membuat dia kaya gitu?! Naura hamil!" bentak Sila, telunjuknya mengarah tepat ke nama yang di sebut tengah tertidur. Biar saja Naura mendengar suaranya.
"Maaf." Rambut hitam yang sebelumnya rapi kini sudah berantakan, raut wajahnya terlihat lelah. Selama ini Sila ternyata dokter kandungan, pantas Raihan pernah bertanya pada Dafa, respon Dafa justru tertawa pelan seakan ada yang lucu.
"Dulu aku sering praktek di rumah sebelum menjadi dokter tetap di rumah sakit," jelas Sila. Suaranya mulai terdengar lembut. "kalian rahasiakan tentang ini, usia kandungan Ara memasuki dua minggu."
Raihan mengembuskan napas lalu menjawab lirih. "Naura udah pernah mengatakannya, gue nggak kaget tapi apa dia mau ini menjadi rahasia?"
"Aku setuju, Rai."
Keduanya kompak menoleh ke sumber suara, Raihan tersenyum tipis baru hendak berdiri namun gelengan kepala itu cukup menyadarkan Raihan, Naura menolak dibantu.
Gadis berbibir pucat itu berjalan pelan. "Makasih, Kak. Aku setuju ide Kak Sila walaupun terpaksa. Kalau ada yang tau jika aku hamil mungkin semuanya nggak akan sama lagi."
Sila membalas senyuman Naura. "Setelah kalian menikah baru katakan kamu hamil, tetapi beri jarak. Nanti aku kasih tau, intinya kalian fokus dengan pernikahan dan jaga kesehatan. Keep Fighting!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Raihan dan Naura [END]
Teen FictionNaura Rafia Hayden memiliki arti bunga dan cahaya. Dulu ia berjanji akan memberikan cahaya kepada orang lain layaknya kunang-kunang dan ingin seperti bunga yang bermekaran. Semuanya berubah sejak kejadian itu! Tawanya berganti menjadi rasa sakit Nam...
![Raihan dan Naura [END]](https://img.wattpad.com/cover/237568004-64-k6503.jpg)