[54] Sepupu

656 75 1
                                        

Badan Naura sedikit lelah, Raihan benar-benar tidak peduli tapi di satu sisi Naura menikmati semuanya. Selesai mandi, dia kembali berbaring di ranjang. Kalau pun Naura meminta berhenti, ada kalanya Raihan menurut dan setelah itu mereka melakukan lagi.

"Coba tebak hari ini siapa yang datang ke rumah kita?" Raihan berkata setelah membuka pintu kamar sambil sebelah tangan membawa piring berisi nasi goreng.

Naura menoleh malas, jujur melihat wajah Raihan sama sekali tidak bersalah membuatnya kesal.

"Gak tau!" sahutnya ketus. Raihan tertawa pelan mendekat lalu duduk di sebelah Naura.

"Maafin aku ya? Please, aku keenakan soalnya." Raihan menyengir, mulai membayangkan kejadian tadi malam.

"Bisa enggak pikiran kamu jangan aneh-aneh?! Sebenarnya ke sini itu mau ngapain!" seru Naura galak.

Cowok tersebut tersentak kaget berarti Naura marah padanya padahal dia sebatas bercanda.

"Maafin aku, Yang. Aku janji bakal nurut sama kamu. Kalau kita lakuin en---"

"Siapa yang datang?" Naura menyela seraya merebut nasi gorengnya, wajahnya datar yang Raihan tau jarang ditunjukkan ke orang lain.

"Sepupu aku. Orangnya agak cerewet ... namanya Azura. Kamu tenang aja dia seumuran sama kita," jelas Raihan.

Naura sedang mengunyah mengiyakan, jadi penasaran perempuan bernama Azura itu. Semoga Naura tidak canggung dan Azura bisa menerimanya.

"Kamu udah mandi."

"Iya, kamu punya mata. Liat rambut aku basah."

Raihan mengulum bibir, nada suara Naura ketus. Jika dia terus meledek maka dipastikan mood Naura semakin berantakan, tapi sudah dari sananya tangan Raihan bergerak begitu saja merapikan rambut panjang Naura yang terus berjatuhan mengganggu makan istrinya ini.

"Kata orang dulu-dulu rambut basah itu nggak baik diikat, jadi tunggu kering. Kamu makan aku yang pegangin."

"Oke."

Senyuman Raihan tidak pudar, lubang kecil di pipinya tenggelam. Raihan beralih duduk di belakang Naura dan merapikan rambut hitam itu, saat Naura meminta disisirkan Raihan melakukannya.

"Kamu gak ribet rambut panjang kaya gini, kalau mau di potong nanti kita ke salon," kata Raihan menghirup dalam aroma shampoo stroberi Naura yang dia suka hingga kini.

"Mama suka rambut aku panjang." Naura balas tersenyum nasi gorengnya sudah setengah tersisa di piring.

"Mama kamu pasti bahagia liat anaknya bahagia." Raihan berbisik sambil meletakkan dagunya di bahu Naura. "Jadi, jangan sedih. Senyuman kamu gak boleh nipu aku atau orang lain," lanjutnya.

Naura tertegun sekali lagi Raihan paham setiap beban selama ini, semuanya sebatas tipuan. Dia seolah tidak dibiarkan bahagia, hatinya kosong walaupun Raihan mengisi kekosongannya. Tapi Naura merasa tidak pernah pantas bisa memiliki Raihan.

"H--harusnya aku yang minta maaf ... aku bukan istri yang baik, andai aku gak salah langkah, biarin Gemina bersikap ... sesukanya. Raina enggak pergi."

Mata Naura terpejam, air matanya mengalir. Selama ini Naura sering menangkap setiap keduanya bersama di dapur atau di manapun itu termasuk berkumpul dengan yang lain, Raihan melirik perutnya dan Naura sadar arti tatapan Raihan.

*****

Puas menangis barulah Naura keluar dari kamar, menolak saat Raihan berniat menggendongnya. Tadi Mbak Anis mengatakan sepupu Raihan sudah datang menunggu di ruang tengah.

"Jangan merasa bersalah. Sikap kamu kaya gini beneran bikin aku gila."

Naura diam sementara Raihan mengacak rambutnya frustasi, dia benci Naura menunjukkan kesisi rapuhannya. Bibir ranum itu pucat, mata Naura membengkak.

"Gue datang di waktu yang pas, kan?" Pertanyaan itu mencairkan suasana, keduanya kompak menoleh. Naura berkedip, baru menyadari telah sampai di tujuan.

"Kamu namanya Azura?" Naura berkata serak, menarik sudut bibirnya ke atas lalu mengulurkan tangan. "Naura, panggil Ara. Salam kenal. Aku istri kakak sepupu kamu."

Gadis bernama Azura itu membalas menjabat tangan Naura, senyumannya sangat tulus. Iris birunya berbinar. "Iya, Raihan banyak cerita tentang lo. Sebelum kalian nikah pun dia sering minta pendapat sama gue."

"Pendapat?" Naura menaikkan sebelah alis, sudut matanya melihat Raihan langsung gelagapan.

Azura tertawa pelan. "Katanya pas awal ketemu lo 'gue jatuh cinta kita ketemu di halte, mukanya gak asing, Zura! Ini pertama kalinya gue jatuh cinta cara pedekate gak bikin jijik menurut sudut pandang lo kaya gimana?' Setelah itu gue jelasin semuanya tanpa imbalan."

Raihan berakhir salah tingkah, tangannya menggaruk rambut. Pipinya mendadak panas, tidak henti-hentinya mengumpati Azura yang mulutnya lebih mirip petasan. Raihan memang sering curhat membahas Naura pada Azura, meminta pendapat gadis itu agar dirinya tidak salah langkah walaupun sedikit sia-sia mengingat kejadian di kosan Lovia dan Raihan pasrah ketika di sambungan video call adik sepupunya terus menyumpah serapahi kelakuannya.

"Dan gue simpulkan kalian cocok apalagi udah kenal dari kecil. Kalian selalu saling melengkapi dan mampu menutup luka, saling menyembuhkan satu sama lain."

Naura bergetar mendengarnya, perkataan Azura menampar Naura. Di sini dia perlu bersyukur apa yang di milikinya, Naura melupakan hal penting itu. Jangan pernah memikirkan seperti hanya dia saja berada di titik terendah, di luar sana masih banyak orang yang lebih terpuruk.


*****

Ramein vote dan komennya ya. Vote aja nggak papa itu udah buat aku semangat 😍

Raihan dan Naura [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang