Engkau

406 37 8
                                        

Kenapa harus bertemu lagi, masih pedih dengan perpisahan di hari itu tapi hari ini aku bertemu dengan dia. Cukup sudah dia merasakan kepedihan aku tak mau melihatnya menahan lukan dan tangis.

Benar-benar berubah, seakan-akan kita baru pertama kali bertemu.

" Selamat pagi " sapanya.

Kami langsung diam dan saling menatap. Tak menyangka dia telah meraih cita-citanya, bangga walau mungkin saat itu aku sudah tak bersamanya.

" Baik, saya periksa dulu ya mbak Nadira. Mari masuk ke dalam ".

Nadira terus melihatku, dia tak mau untuk diperiksa.

" Aku gak mau diperiksa sama mantan kamu, nanti kalau ada apa-apa gimana ? ".

" Nadira, bisa lebih dewasa dikit gak ".

" Gak mau. Udah gak usah cek kenapa nanti biar aku bilang ayah aja ".

" Nadira, gak bisa gitu. Walau ayahmu itu komandan disini kita gak bisa semena-mena seperti itu, sudah ada aturannya ".

" Aku mau periksa tapi bukan sama dia, titik ".

" Terserah lah, mau gak pengajuan juga gak papa ".

" Mas tunggu ".

Apa kamu masih berharap ada aku disamping mu, apa kamu masih berharap akan takdir itu. Sudah lupakan semua aku dan kamu itu tidak berjodoh.

Semua melihatnya, aku tak mau ikut campur masalah ini. Harus bersikap profesional dan sudah melupakan semua kejadian itu.

Malam pun tiba, keadaan di kota ini cukup ramai.

" Lalapannya satu sama minumnya es teh ".

" Di tunggu ya mbak ".

Masih mengenakan seragam dinas, melihat sekeliling. Baju loreng ku ini menjadi pusat perhatian semua orang.

Seseorang menepuk pundak ku.

" Nak Zoya ".

Menoleh ke belakang.

" Kakek " kakek bang Genta.

" Mari duduk kakek, apa kabar kakek. Sehat selalu kan kek ".

" Iya mbak selalu sehat, gimana kabar mbak Zoya ? ".

" Alhamdulillah baik kakek ".

Berbincang-bincang biasa, menceritakan semua perjalanan masuk tentara dan dinas sekarang. Sebenarnya aku berdinas disini hanya kurang lebih 4 bulan karna waktu selesai pendidikan aku mendapatkan perintah untuk mengikuti seleksi Kopassus.

" Mbak Zoya makin hebat saja ".

" Makasi kakek atas semua doanya ".

Tak berselang lama, kakek meneteskan air mata.

" Kakek ada apa ? " tanyaku.

Hanya menggelengkan kepala.

" Kakek kalau mau cerita, cerita aja ".

" Mbak, maaf kan kakek ya. Gak bisa bantu kamu dan Genta ".

Aku kira selama ini semua keluarga bang Genta tak menyukaiku.

" Maaf ya mbak ".

Tiba-tiba ayah bang Genta pun datang. Beliau terkejut melihat keadaan ku yang sekarang ini. Entah beliau sedikit malu melihatku.

" Om, silahlan duduk " tawarku.

Kakek menghapus air matanya.

" Kakek yang sudah berlalu biarkan saja, Zoya sudah mengikhlaskan. Gak papa kakek, mungkin sudah jalannya. Yang terpenting bang Genta bahagia, Zoya pun bahagia dan keluarga kakek dan om pun bahagia ".

Assalamualaikum...
Selalu semangat semuanya 🥰

Tak Sempat Memiliki (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang