[Happy 1k pembaca]
༼
つ ◕‿◕ ༽つ
🅷🅰🅿🅿🆈 🆁🅴🅰🅳🅸🅽🅶!
°°°
"All them bitches my sons but who's the die?"
"Salah lirik woi! Who's the daddy, anjirrr, bukan who's the die," celetuk Emil mengkoreksi lantunan lagu yang baru saja Bagas nyanyikan.
"Nggak bisa bahasa enggresss."
"Belajar makanya. Tidur mulu sih lo dikelas."
"Bodo," jawab Bagas ngambek.
"Dih! Dibilang gitu doang ngambek."
Saat ini, Athalas dan teman-temannya sedang berkumpul di markas. Mereka semua menunggu kedatangan anggota lainnya. Sesuai janji dengan Larvesta, mereka akan berkumpul di tempat yang biasanya mereka jadikan sebagai tempat untuk berkelahi.
Bagi larvesta, permasalahan semalam belum selesai, tetapi menurut Athalas dengan jatuhnya ketua mereka seharusnya sudah menjadi bukti bahwa Larvesta sudah kalah. Tetapi, karena wakil ketua Larvesta semalam tidak ada, mereka masih menganggap ini belum berakhir.
Mau tidak mau mereka harus meladeni Larvesta yang selalu saja bermimpi untuk menang dari Cavella.
Suara derum motor terdengar sangat bising. Alfred dan teman-temannya termasuk anggota kelas sepuluh baru saja sampai. Mereka memarkirkan motornya dengan sangat rapi. Karena jika mereka menaruh motor secara berantakan sudah pasti akan diamuk sang ketua. Athalas melirik jam tangan hitam yang ada pada pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu lima belas menit untuk mereka bersantai-santai.
"Las, gue dapet info dari coach ada pertandingan, nih yang bisa anak kelas dua belas ikutan," kata Alfred yang baru saja memasuki ruang tamu markas Cavella.
"Kapan?"
"Minggu depan. Lo pada masih bisa sempet latihan."
"Daftarin aja."
"Besok sabtu sama minggu kita disuruh latihan dari pagi. Lo semua bisa, kan?"
"Bisa. Tenang aja. Mereka semua pada nggak punya kerjaan jadi jangan tanya bisa atau enggak," jawab Athalas yang ucapannya tidak disaring terlebih dahulu.
"Lo semua udah lama nggak ekskul, sih," keluh Aron yang datang-datang langsung melempar tasnya ke lantai.
"Mana sempat, keburu bucin," sindir Emil.
Sadar bahwa dirinya baru saja disindir oleh Emil membuat Athalas menoleh dan menatap intens. "Si Thander maksut gue," jawab Emil buru-buru.
"Itu si Thander udah baikan belom sama Maura? Kan tadi marahan," seru Chuang.
"Yah lo kayak nggak tau mereka aja. Dikit-dikit berantem, dikit-dikit baikan," jawab Abraham.
"Berisik lo pada. Gosipppp muluuuuu," dumel Thander.
"Yeh gue kan nanya, abisnya tumben tadi lo nggak anter dia pulang," kata Chuang.
"Dia mau pergi sama Neska."
"Kemana?"
"Ke mall."
Dari raut wajah Thander, sepertinya mereka belum berbaikan tadi siang. Biasanya pasangan itu memang suka berantem, tetapi tenang saja pasti salah satu dari mereka akan mengalah karena tidak sanggup diam-diaman terlalu lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Athalas
Teen Fiction"Cantik doang nggak akan gue kejar. Lo menarik baru gue kejar." Athalas Ganendra, cowok super duper cuek mampus dengan segudang prestasi di SMA Tunas Bangsa. Mulai dari akademis sampai non akademis pun disikat habis olehnya. Lelaki idaman yang tidak...
