[Happy 8k Pembaca]
°°°
"Ah! Lo bikin gue kesel banget kali ini."
BUGH!!!
"Akhh-" Laki-laki yang berlumuran darah itu terbatuk-batuk. Wajahnya penuh lebam. Darah mengalir di sekitar pelipisnya.
Bima tertawa melihat Vian yang tersungkur tak berdaya. Dua anak buahnya membangunkan Vian dengan paksa dan memposisikannya dalam keadaan berlutut. Bima sedikit menunduk, "Coba lo gak setuju dengan keputusan wasit yang mau diskualifikasi tim gue, gue kan jadi gak semarah ini."
BUGH!!! Pukulan Bima membuat Vian jatuh kembali. Cowok itu tidak bisa berkutik karena sekuat apapun ia mencoba melawan pada akhirnya akan kalah karena ia sadar dikelilingi dengan anggota lexis. Vian mengerjap matanya. Ia melihat seorang perempuan dari kejauhan. Itu Neska. "Ja-jangan kesini..." lirihnya pelan.
BUGH! BUGH! Bima meninju perut Vian dan menendangnya. "Ngomong apa, sih, lo? Gagu?"
Neska tau bahwa Bima akan membawa Vian ke tempat yang sepi-dijalan belakang sekolah. Ia melihat Vian terkapar lemas di hadapan Bima. Di sebelah kanan Bima ada Zidhan dan Chiko yang juga sudah kalah telak tak sadarkan diri. Tidak lama kemudian, Arga dan Regan muncul dibelakang Neska. Kedatangan mereka berdua membuat anggota Lexis menoleh.
Regan mengacak-acak rambutnya. Neska telah sampai duluan di tempat ini. "Sialan!" umpatnya.
"Wow! Anak buah lo dateng lagi, Vian. Tapi, apa ini? Ada Neska juga," seringai Bima.
Arga melihat tiga sahabatnya yang dikalahkan oleh Lexis. Emosinya terpancing. "Gan, lo bawa Neska ke tempat cavella," suruh Arga. "Lo harus janji sama gue kalau lo bakalan bawa Neska ke tempat yang aman karena dari awal itu udah jadi tugas kita,"
"GUE GAK MAU PERGI!" teriak Neska kesal. Kenapa mereka harus terus menerus melindunginya? "Gue gak bisa liat lo semua kayak gini."
"NESKA!" bentak Arga spontan. "Gak usah ikut campur! Lo bukan bagian dari aeros lagi."
Air mata Neska tak dapat terbendung lagi. Perlahan pipinya basah. Arga tidak peduli karena telah membentak Neska. Arga memberi kode pada Regan untuk membawa Neska pergi. Regan dengan kasar menarik Neska menjauh dari area itu.
Bima tertawa, "Oh, jadi gini cara lo semua ngelindungin Neska?"
"Gak usah banyak bacot lo!"
"Aduh... Lo pikir dengan lo teriak kayak gitu bisa menang dari gue? Yang ada lo malah berakhir seperti tiga sahabat lo ini," Bima menyentuh pelan kepala Vian dengan kakinya.
Arga semakin emosi, "Keparat lo semua,"
***
SMA Tunas Bangsa pulang dengan membawa empat piala besar. Mereka semua memenangkan seluruh cabang pertandingan. Semua orang memperhatikan gagahnya Athalas dan keenam temannya yang tengah berjalan ke arah parkiran. Satu persatu masuk ke bus sekolah untuk beristirahat sambil menunggu semuanya lengkap. Rezon masih berkeliaran entah kemana, diantara mereka pun tidak ada yang tahu.
Athalas melirik Chuang yang sedari tadi diam. "Khawatir lo sama aeros?"
"Lebih tepatnya sama temen gue. Lo gak khawatir sama Neska? Dia belom kelihatan sampai sekarang."
Athalas dan kelima temannya berhenti disamping bus. Thander telah lebih dulu naik karena sedang bertengkar dengan Maura. Chuang berpikir, ketua aeros saja bisa babak belur seperti itu. Bagaimana dengan anggotanya?
Athalas juga jadi kepikiran dengan Neska karena sampai saat ini Neska belum kembali ke bus. Dilihat dari reaksi perempuan itu sepertinya Neska sangat khawatir sampai-sampai berani mengejar Lexis demi Vian. Chuang berkutat dengan ponselnya dan menelpon seseorang. Panggilan itu tidak dijawab. Lantas Chuang berdecak, "Gue kedalam dulu,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Athalas
Teen Fiction"Cantik doang nggak akan gue kejar. Lo menarik baru gue kejar." Athalas Ganendra, cowok super duper cuek mampus dengan segudang prestasi di SMA Tunas Bangsa. Mulai dari akademis sampai non akademis pun disikat habis olehnya. Lelaki idaman yang tidak...
