"Cantik doang nggak akan gue kejar. Lo menarik baru gue kejar."
Athalas Ganendra, cowok super duper cuek mampus dengan segudang prestasi di SMA Tunas Bangsa. Mulai dari akademis sampai non akademis pun disikat habis olehnya. Lelaki idaman yang tidak...
Neska membuka mata. Ia mengerjap pelan. Perlahan ia tersadar saat melihat punggung lelaki. Neska jadi teringat tentang semalam. Tatapannya kosong melihat Athalas yang tertidur pulas disampingnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Neska menggeleng. Apa ia tidur dengan Athalas semalam? Satu ranjang? Bahkan dimalam Athalas akan bertunangan dengan orang lain?
Neska memegang kepalanya. Bayang-bayang semalam masih ada. Ia menangis. Air matanya terjatuh. Ia mencengkram kuat selimut yang menutupi tubuhnya itu lalu beranjak pergi ke kamar mandi. Langkah kakinya tertatih. Neska berjalan sambil memegangi pinggangnya yang sakit.
Membutuhkan waktu yang cukup lama dari biasanya untuk Neska mandi. Hari ini ia harus tetap pergi kesekolah. Ia tidak mungkin berdiam diri dirumah sambil menunggu Athalas bangun. Ia ingin pergi sebelum lelaki itu melihatnya.
Entah apa yang harus ia lakukan jika kedua mata mereka saling bertemu. Pasti akan sangat canggung.
Neska berjalan pelan menuju dapur. Ia sudah menggunakan seragam sekolah.
"Sshhh," Ia meringis saat memegangi pinggangngnya. Entah pinggang atau pinggul tetapi keduanya tetap sakit.
Ceklek! "Neska."
Neska membeku. Tubuhnya gemetar lagi.
"Neska, maaf."
***
Athalas meringis saat memegang kepalanya yang sedikit pusing. Kesadarannya perlahan mulai kembali. Ia melihat sekelilingnya. Ia tau ini bukan kamar miliknya. Matanya membelalak saat ia melihat ada bercak darah di tempat tidur.
"Bangsat!" makinya kasar.
Athalas melompat dari kasur. Ia masih tidak memakai atasan dan hanya memakai celana saja. Ia membuka pintu dan melihat gadis yang dia yakini tidur bersamanya semalam.
"Neska," Athalas ragu untuk memanggilnya. Gadis itu membelakanginya dan enggan berbalik. "Neska, maaf," lirih Athalas.
"Gue buat sarapan. Makan dan pergi dari rumah gue," ucap Neska dingin. Athalas mendengar suara gadis itu gemetar.
Athalas langsung memeluk Neska dari belakang. Menahan perempuan itu agar tidak pergi. "Maaf. Aku salah. Aku udah keterlaluan."
Detik itu juga tangisnya kembali pecah. Ia lalu berontak.
Karena benturan kedua tubuh mereka, Neska meringis kesakitan. "Sshh... Sakit,"
Berkali-kali Athalas memaki dirinya sendiri. Rintihan itu membuat Athalas menyesali segala perbuatannya. Ini pertama kalinya Athalas mabuk berat sampai hilang kendali. Seharusnya ia tidak datang kesini tadi malam. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Mau diapain pun nyatanya sudah terlambat.
"Maaf, aku udah sakitin kamu. Aku gak sadar semalam. Apa aku udah ngelakuin hal itu ke kamu—"
Neska melepas pelukan Athalas dengan paksa lalu menampar keras wajah laki-laki itu.