Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Keputusan Masih Akan Berlanjut

1K 142 10
                                        


"Yaudah kamu mau makan apa?" Ujar Viny sambil membuka buku menu.

Shani terlihat terdiam bingung menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya bukan bingung, namun lebih ke canggung.

Tentu hal itu membuat Viny melihat Shani yang berada di hadapannya, "Shan..kenapa diem?"

Shani sedikit terkejut, "Eh, gapapa kak. Umm.. aku pesen ramen sama ocha aja deh."

Viny mengangguk kemudian memanggil seorang pelayan untuk memberitahu apa yang mereka pesan.

-

Terlihat Shani sedang berkutat pada ponselnya untuk menghubungi Gracia. Dia sangat kesal malam ini karenanya. Untung saja ada Viny yang menemaninya. Walaupun membuatnya sangat tidak leluasa. Padahal waktu itu baru saja bertemu. Namun itulah Shani, dia selalu merasa malu dengan siapapun.

Tiba-tiba Viny merebut ponsel Shani secara halus yang mana membuat Shani kembali terkejut.

"Gausah kesel sama Gracia. Udah nih makan dulu ramennya. Tadi katanya laper banget kan?" Ujar Viny tersenyum manis dan hanya mendapat anggukkan dari Shani.

Mereka berdua akhirnya fokus pada makanannya masing-masing. Shani yang sebenarnya tidak terlalu suka pedas sedikit kewalahan meniupnya karena ramen yang panas dan sangat pedas itu.

Viny diam-diam tersenyum melihat raut wajah kesal Shani karena Gracia dan ramen pedas.

"Gasuka pedes kenapa sok-sokan pesen ramen sih, hm?"

Shani tersenyum kecut, "Sebenermya sih biar ngilangin penat aja, tapi ini terlalu panas."

"Mau pesen lagi?"

"Eh nggak. Gaperlu. Ini nunggu agak dingin aja."

"Kemaleman ntar.."

"Umm, yaudah kalo Kak Viny kemaleman pulang, duluan aja. Aku lebih deket kan dari sini jadi gapapa sendiri."

Viny terkekeh, "Gak gitu Ci Shanii.." Shani membulatkan matanya mendengar itu, "Aku malah khawatir sama kamu kalo kemaleman pulang, kan abis latihan tadi."

"Aku bakal tetep nganterin kamu pulang. Mana tega aku biarin kamu pulang sendirian malem-malem pake taxi."

Shani terdiam memandangi Viny. Dalam hatinya tersenyum, ternyata Viny masih sepeduli itu padanya. Bagaimana mungkin dia bisa move on?

"Shan, kok diem lagi?"

"Ah, iya kak. Yaudah makasi kalo gitu."

Viny tersenyum sembari menaik turunkan alisnya, "Yaudah tuh makan. Pelan-pelan aja jangan gugup."

Lagi-lagi, perkataan Viny membuat Shani merasa nyaman. Mungkin Erzo sering seperti ini, tapi menurut Shani rasanya sangat berbeda.

"Umm, Kak."

"Hm?"

"Kalo aku masih sayang sama Kakak gimana?" Perkataan spontan Shani membuat Viny sedikit tersedak lalu segera meneguk minumannya.

"Kak hati-hati kalo makaan.." Shani terlihat panik karena Viny.

"Hahh, gak gapapa kok.." Ujarnya sembari mengelap mulutnya menggunakan tissue.

Kemudian Shani kembali melahap ramennya. Sementara Viny masih terkejut karena perkataan Shani tadi.

"Um, Shan. Kata-kata kamu tadi maksudnya apa?"

•••

Saat ini Shani sedang berada dalam perjalanan pulang, tentunya diantar oleh Viny.

Detik Terakhir [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang