Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

You're The One

1.3K 143 39
                                        

Maaf ya part sebelumnya rada-rada error, beberapa ada yang gabisa buka. Gatau juga kenapa hehe. Maaf juga kalo ada typo, lagi males revisi nih wkwk. Happy reading!

"Udah ganti bajunya?"

Shani hanya mengangguk menjawab pertanyaan Viny. Kemudian Viny mendekati Shani yang sedang duduk di kursi meja belajarnya.

Dia menyentuh pundak Shani, terasa aneh. Lalu mengecek suhu tubuhnya. Benar saja, Shani demam lumayan tinggi.

"Kamu demam, Shan. Yuk pindah ke kasur."

Viny pun menuntun Shani untuk membaringkan tubuhnya di kasur kesayangan Viny.

Rasa khawatirnya semakin muncul. Dia seperti ini karena dirinya.

"Kamu tiduran dulu ya, aku ambil obat dulu."

"Kak." Shani menahan tangan Viny ketika Viny hendak membalikkan tubuhnya.

"Kenapa? Kamu mau apa? Mau makan? Atau mau aku bikinin susu hangat?" Viny menunjukkan rasa khawatirnya dengan pertanyaan beruntun.

Sebenarnya Shani senang jika dia sangat peduli seperti ini. Namun yang dia butuhkan saat ini bukan lah semua hal yang Viny sebutkan, melainkan Viny memaafkannya.

Maaf? Apa seharusnya Viny yang berhak mendapat maaf? Bukankah ini hanya salah paham?

"Aku gak butuh itu semua." Jawaban Shani membuat Viny mengerutkan keningnya lalu duduk di tepi kasur.

"A–aku cuma mau kamu maafin aku."

"Kita gausah bahas ini dulu ya  kamu mas–"

"–Kak. Kamu cuma salah paham." Lirih Shani dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

Viny memasang wajah cemberut namun nampak bingung dengan perkataan Shani.

"Tolong dengerin aku dulu." Ucapan Shani semakin tercekat, karena saat ini air matanya sudah berhasil terjatuh dari sudut matanya.

Viny menghela nafasnya  sesak melihat Shani menangis, "Iya aku bakal dengerin, Shan.

Shani meletakkan tangan Viny di pipinya, menggenggamnya dengan erat.
"Kak Viny kenapa bisa nuduh aku selingkuh? Aku pengen tau alesannya."

Viny menundukkan kepalanya, diam sejenak sampai akhirnya membuka suara, "Lidya liat kamu sama cowo di Fx. Dan aku mikirnya itu Erzo. Apa bener?"

"Itu emang Erzo." Pernyataan Shani membuat Viny menatap Shani tajam.

"Tapi Kak Viny gatau kan kenapa aku bisa sama dia?" Lanjutnya membuat Viny melemah karena mulai sadar bahwa dirinya salah paham.

"Jujur. Aku ke theater naik taxol. Aku langsung ke starbucks beli kopi karena ngantuk banget. Tiba-tiba Erzo keluar sama dua temennya. Dia liat aku, nyamperin aku, dan nyuruh dua temennya balik ke kantor duluan. Kamu kira aku seneng? Gak Kak. Jujur aku risih banget sekarang kalo di deket dia, semenjak kejadian itu. Untung aku cepet bilang kalo aku buru-buru krena latihan mau mulai. Udah Kak. Gak lebih. Please, jangan salah paham sama aku. Kamu tau aku sama dia gimana sekarang kan?" Shani merasa lega karena akhirnya dia bisa menjalaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Erzo.

Sontak Viny memeluk Shani yang masih terbaring. Dia benar-benar merasa bersalah atas kesalahpahamannya.

"Aku bener-bener minta maaf. Gak seharusnya aku langsung mikir kaya gitu. Sekarang kamu jadi sakit gini gara-gara aku. Maafin aku, Sayang.."

"Udah gapapa kok. Aku udah maafin karena aku tau kamu salah paham makanya aku langsung kesini buat jelasin."

Dengan rasa sangat bersalahnya, Viny enggan melepaskan pelukannya. Padahal saat ini Shani masih terbaring lemah.

Detik Terakhir [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang