“Tidak,” ujarnya sambil menghembuskan napas.
Aku memasang wajah masam, kecewa dengan jawabannya. Memangnya permintaanku terlalu berat untuknya sehingga ia terus menerus mengatakan tidak?
“Ayolah, Zayn, ini hanya roller coaster.”
“Tidak, Clarisse," ungkapnya lagi.
“Seriously, Zayn?” aku mundur selangkah darinya lalu menyilangkan kedua lenganku di depan dada. “Kalau begitu untuk apa kau membawaku ke sini? Kau tidak mau memainkan wahana apapun. Kau bahkan tidak mau melihat teater.”
“Aku mau saja menemanimu melihat teater, tapi jangan salahkan aku kalau nantinya aku akan tertidur dan sama sekali tidak menikmati pertunjukannya. Terlalu banyak drama, membosankan.”
Bagus, sekarang dia memakai alasan ini. Apakah Zayn sama sekali tidak berpikir kalau sebuah teater pasti akan menampilkan banyak drama? Oh, sepertinya dia terlalu sering memikirkan hal penting sampai hal kecil seperti itu tidak dipikirkan olehnya.
“Lalu, mengapa kau menolak ajakanku untuk memainkan semua wahana dan permainan yang ada di sini?” tanyaku lagi.
Ia mengangkat bahu, “Aku menolaknya untuk sebuah alasan,” ujarnya lalu melihat ke sekitar. “Lebih baik kita makan dahulu sebelum kau menemukan ide buruk lainnya. Lagi pula kau yang memintaku ke sini dan aku tidak berkata kalau aku akan memenuhi setiap permintaanmu.”
Zayn lalu berjalan di depanku menuju ke arah café yang ia maksud. Sedangkan aku hanya bisa mendengus di belakangnya, merasa kesal akan semua perilakunya tadi.
Kencan macam apa ini?
**
“Masih marah denganku?” ucapnya via telepon.
Aku yang sedang memanaskan makan malam untuk Bels pun tersenyum kecil akan pertanyaannya. Semua kejadian tadi siang terlintas di kepalaku. Dari awal ketika ia mengajakku untuk makan siang terlebih dahulu sampai ketika ia menungguku menutup pintu apartemen ketika kami pulang.
“Seharusnya masih,” aku mengambil sebuah mangkuk di tangan kanan dengan tangan kiri memegang ponsel. “Tapi sayangnya kau menghilangkan rasa kesalku.”
“Yeah, kini kau tahu mengapa aku tidak mengikuti kemauanmu untuk memainkan wahana konyol itu.” Aku mendengar suara air yang dituang saat ia berbicara.
Tertawa, aku pun menyelipkan ponselku dengan telinga dan bahu agar tidak terjatuh saat ingin menuangkan sup ke dalam mangkuk yang kuambil. “Kau takut ketinggian dan tidak suka roller coaster. Harusnya kau berkata lebih awal.”
“Tidak karena kau akan menertawakanku,” terdengar jeda panjang, sepertinya Zayn sedang melakukan sesuatu. “Seperti yang kau lakukan tadi ketika kau baru saja mengetahuinya.”
Aku tersenyum geli meskipun aku tahu kalau Zayn tidak akan melihatnya. “Tidak akan kuulangi, aku janji,” ujarku sambil berjalan ke meja makan membawa mangkuk dengan satu tangan. “Sepertinya kau tidak akan terlalu mengintimidasi kalau aku mengetahui semua hal kecil tentangmu.”
“Benarkah? Kita lihat saja nanti.” Dari sini aku bisa mendengarnya, ia tertawa.
Senyuman sudah tak bisa kutahan lagi, aku tersenyum saat mendengarnya tertawa. Bayangan tentang bagaimana ia tertawa memenuhi otakku. Aku sangat senang mendengar suara tawanya, bagaimana caranya ia tertawa dan tersenyum sampai ke mata, membuat matanya menyipit.
Oh, kalian juga bisa tahu.
Zayn sangat tampan saat sedang tertawa.
Aku harap aku bisa terus seperti ini lagi dengannya, sebisa mungkin menghindari perdebatan yang akan terjadi kalau aku mengungkit masalah yang tidak disukainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect You || Malik [au]
Hayran Kurgu"Ini hanya tentangku yang kau benci. Tentangku yang terlalu takut kehilanganmu. Tentangku yang mencintaimu dan terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi, kumohon, jangan lagi mencoba menjauh dariku. Aku hanya ingin kau di sini...
![Protect You || Malik [au]](https://img.wattpad.com/cover/19988280-64-k658219.jpg)