Chapter 21

8.9K 883 8
                                        

Semuanya kacau, Zayn merutuki dirinya sendiri karena dia yang tidak bisa mengontrol perasaannya. Mengontrol perasaannya saat melihat Clarisse dan Harry berciuman. Padahal, Zayn tau jika Clarisse tidak akan ingat tentang kejadian itu. Tapi semuanya terlambat, emosinya memuncak saat itu sehingga membuatnya menarik Clarisse keluar dan pergi.

Dan karena itu, sekarang Zayn sedang duduk diam dengan Harry di depannya yang sedang tersenyum penuh kemenangan.

“Kau terpancing” ujar Harry sambil terkekeh.

Mengatur emosi, Zayn pun mengambil nafas dalam sebelum menjawab. “Kau keterlaluan. Hal itu di luar kesepakatan” jawabnya dingin.

Tampak tidak peduli, Harry mengangkat alisnya. “Kesepakantan? Kau mengira kita membuat kesepakatan?” tanyanya acuh.

“Kau berjanji untuk tidak menyakitinya”

Mendengar ucapan Zayn, kontan Harry langsung tergelak. “Aku tidak menyakitinya. Aku hanya menciumnya dan sedikit menyentuhnya. Hanya sedikit, lagipula kau hanya memintaku untuk tidak menyakitinya. Jadi, kau tidak berhak melarangku untuk menyentuhnya”

“Kau tau semuanya. Harusnya kau mengerti” jawab Zayn, lagi-lagi dingin dan datar.

“Apa maksudmu dengan tau semuanya? Tau tentang kisah cintamu yang tragis. Tentang dia yang sudah pasti membencimu tapi kau tetap melindunginya yang bahkan mencintainya? Astaga, ini sangat menggelikan Zayn. Aku tau, ini bukan kau. Dulu kau tidak begitu. Kau lebih suka bersenang-senang, tapi saat gadis itu datang … BUM! Kau langsung berubah 180 derajat” ucap Harry panjang lebar.

Kali ini Zayn tidak bisa marah, dia menghela nafas panjang seraya mendorong punggungnya ke sofa. Bahunya melemas. Inilah masalahnya saat ini. Dia dan Harry dulunya adalah seorang teman baik, sangat baik. Bahkan Harry sudah bisa di sebut sebagai sahabatnya.

Namun, sekarang jalan pikiran mereka sudah berbeda. Harry masih dalam pikiran tentang hal yang menyenangkan, dia tidak mengerti cinta. Hanya kesenangan semata, seperti Party, wanita, uang, dan yang lainnya. Dia belum menemukan seseorang yang dapat mengubah semua pandangannya tentang hidup.

Berbeda dengan Zayn, dia sudah menemukan orang itu. Benar-benar menemukannya, namun sayangnya semua itu tidak seperti yang di harapkannya. Di lain sisi dia sangat bersyukur karena orang itu dapat mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik.

Tapi, di sisi lain dia juga sangat merutuki kedatangan orang itu di kehidupannya, karena bukan hanya perilakunya yang di ubah. Namun semuanya, dia mengubah semua yang ada dalam dirinya.

Zayn yang seperti Harry sudah pergi. Zayn yang tidak peduli dengan orang lain sudah pergi. Sejak menemukan orang itu, perempuan itu, dia selalu di hantui rasa bersalah. Bahkan hal-hal yang dilakukannya yang bermaksud untuk menghapus semua rasa bersalahnya selama beberapa tahun terakhir ini belum cukup.

Semuanya begitu sulit, dia kira dengan selalu menjaganya dia akan terbebas dari perasaan bersalah. Dia dengan mudah akan melupakannya. Tapi, kenyataan berkata lain. Selama ini, Zayn bukan hanya merasa bersalah. Karena sudah terlalu sering memperhatikan gerak-gerik perempuan itu, tanpa di sadari lama-kelamaan dia juga mencintainya.

Cinta yang seharusnya tidak datang.

“Lupakan dia. Sejauh yang ku ketahui, dia hanyalah perempuan biasa. Hanya saja dia lebih tertutup. Bahkan, dia selalu merasa terintimidasi olehku,” ucap Harry datar. Dia memandang Zayn dengan kesal. Sudah berkali-kali Harry menasehati Zayn untuk melupakan perempuan itu, Clarisse. Perempuan yang membuat sahabatnya ini menjadi berubah. Menjadi tertutup dan juga jarang tertawa.

“Kembalilah menjadi dirimu yang dulu. Kau yang selalu bersenang-senang, tertawa bersama kami. Clarisse tidak akan mengerti tentangmu, dia memang tidak akan pernah mengerti dengan jalan pikiranmu. Kau terlalu berlebihan Zayn, kembalilah seperti dulu”

Tersenyum miris, Zayn tau jika tidak akan pernah ada seseorang yang dapat mengerti dirinya, bahkan Harry. Dia tau bahwa perasaannya kepada Clarisse sudah terlalu dalam, terlalu berlebihan. Dia ingi memiliki gadis itu, namun dia juga tidak ingin menyakitinya.

Ini terlalu rumit. Harry tidak akan pernah tau. Dan tidak ada gunanya juga untuk menyangkal ucapan lelaki itu. Lagi pula, walaupun terkesan mengesalkan, Zayn tau jika Harry masih menganggapnya teman. Dia masih peduli dengan dirinya. Hanya saja, pemikirannya berbeda. Nasehatnya tidak masuk akal, sudah pasti Zayn tidak mau mengikutinya.

Beranjak dari sofa, Zayn pun mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja. Dia juga menyambar jaketnya sendiri yang langsung di pakai.

“Aku hanya kesal kepadamu. Jangan ulangi lagi perbuatan seperti itu, asal kau tau aku tidak akan pernah merubah segala hal yang sudah ku lakukan dari dulu. Aku akan tetap seperti ini” ucap Zayn lalu beranjak meninggalkan Harry yang sedang kesal karena lagi-lagi Zayn tidak mendengarkan nasihatnya.

“Kau akan tetap seperti itu, terlihat menyedihkan. Yeah, okay! Lakukan saja terus menerus sampai kau lelah. Sampai Clarisse benar-benar membencimu, sampai Clarisse benar-benar mengetahui yang sebenarnya” teriak Harry kesal namun tidak di pedulikan oleh Zayn.

Karena kesal, Harry pun membanting botol kosong yang ada di meja. Dia benar-benar tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu itu. Dia hanya merasa kasian dengannya, Zayn berubah saat mengenal Clarisse. Dia terlihat terpuruk, sebagai sahabat Harry tidak suka melihatnya seperti itu.

Dia menuruti apa yang di minta olehnya selama dia bisa. Sebrengsek apapun dirinya, sahabat tetaplah sahabat. Namun, saat melihat semua reaksi Clarisse, amarahnya memuncak. Gadis itu tidak akan pernah mengerti dengan semua ini. Semua hal yang di lakukan Zayn, dia mengira jika Zayn adalah orang brengsek seperti dirinya. Padahal tidak.

Harry juga kesal, kenapa Zayn harus berperilaku dingin kepada perempuan yang di cintainya? Kenapa dia malah berusaha mendapatkan cap buruk dari perempuan itu? Harusnya dia berusaha membuat orang itu memaafkannya, bukan malah semakin membencinya.

Merasa semua ini sudah keterlaluan, mungkin hanya ada satu opsi yang dapat kembali merubah jalan pikiran Zayn. Mungkin saja opsi pertama dengan  cara mendukungnya tidak berhasil, namun opsi kedua pasti berhasil.

Dia akan membuat Zayn marah dan tidak kuat dengan perasaannya, sehingga sahabatnya itu akan menceritakan semuanya sendiri kepada Clarisse. Dan Clarisse-lah yang akan merasa bersalah setelah itu. Entah mengapa, karena hal ini dia justru malah menyalahkan Clarisse. Kalau Clarisse laki-laki mungkin sudah dari dulu, dia di habisi oleh Harry karena membuat sahabatnya terpuruk.

Tapi, tau apa gadis itu tentang Zayn dan juga dirinya? Seseorang seperti dia pasti hanya melihat mereka berdua dari segala hal yang negative. Dia selalu berpikir kalau Zayn dan dirinya adalah lelaki brengsek tanpa alasan. Dia tidak akan pernah tau tentang apapun yang ada di balik semua ini.

Mengambil ponsel yang tergeletak, dia pun memutuskan untuk menghubungi seseorang. Seperti yang telah di pikirkannya tadi, dia akan mengambil opsi ke dua. Dia akan melakukan sesuatu agar Zayn mau mengakhiri perbuatan bodohnya. Mengakhiri penderitaan karena perempuan itu, penderitaan yang juga di buat oleh dirinya sendiri.

________________________________

update sore... lagi di usahain buat nggak ngaret nih, wkwkwk:3

Tinggalin jejak ya, kalo bisa sih 5+ votes buat next chapter. *plak* hahaha x) yg penting jangan ada silent readers. Itu aja :) thanks~~

01 Sepetember 2014

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang