Chapter 66

6.4K 742 72
                                        

Sorry for typo(s)

________________________________________

"Jangan bercanda, Clarisse."

"Aku serius, Liz. Aku baru saja ingin memberitahumu tentang ini-"

"Kau baru mau memberitahuku tepat sebelum kau hendak pergi? Astaga, Clarisse, yang benar saja?!"

Liz menatapku geram, ia meletakan brosur balap yang barusan dipegangnya di atas meja. Ekspesi wajahnya kentara sekali menunjukan bahwa ia sedang sangat marah padaku. Tadi sore ketika aku sedang masak makan malam, Liz sempat ke kamarku untuk mengambil selimut yang hendak direndam olehnya. Tapi sialnya ia justru menemukan brosur balap yang kuletakan di atas nakas.

Sontak saja, Liz melupakan niat awalnya untuk merendam selimut lalu lebih memilih untuk menghampiriku dan menanyakan maksud brosur yang ia temukan. Kami beraragumen hampir selama dua jam terakhir hingga akhirnya Liz memutuskan untuk mendiamkanku. Ia tetap melarangku untuk melakukan balap meskipun aku berusaha keras mengabaikannya.

Kukira ia akan marah lalu membiarkan aku pergi tanpa memedulikanku. Tapi nyatanya Liz sudah mengunci pintu rumah ketika aku hendak berangkat. Ia dengan tersirat masih menyatakan ketidaksetujuannya tentang balap yang akan kulakukan malam ini.

"Aku akan baik-baik saja, Liz. Memangnya, kenapa kau begitu keras melarangku melakukan ini?" tanyaku padanya yang sudah terduduk di sofa.

"Siapa yang menjamin kau akan baik-baik saja? Balapan itu berada di daerah tebing, Clarr. Demi Tuhan! Apakah kau sudah gila?!" ujarnya masih emosi. "Dan untuk alasan mengapa aku melarangmu, kau sudah tahu bahwa aku takkan pernah mengizinkanmu melakukan balap sialan itu lagi. Lagi pula Za-"

Liz tidak menyelesaikan kalimatnya dan terlihat sedikit terkejut dengan ucapan yang baru saja ia lontarkan. Aku memandangnya minta penjelasan. Kalimat apa yang ingin ia katakan? Mengapa Liz terdengar ingin mengucapkan nama ... Zayn?

Gelak tawa ironi memenuhi benakku begitu aku sadar apa yang baru saja kupikirkan. Bagaimana bisa nama lelaki itu selalu terngiang di kepalaku? Tidak mungkin Liz bermaksud menyebut nama lelaki itu. Memangnya ada hubungan apa Liz dengannya? Bukankan mereka hanya teman lama yang sudah tidak akur lagi?

"Kau tetap tidak boleh ke sana." ujar Liz dengan suara yang lebih tenang.

Aku menghela nafas panjang lalu menatap pintu kamar Bels yang tertutup. Bels belum tahu mengenai ini semua, ia tidak tahu mengenai pertengkaranku dengan Liz yang disebabkan karena balap mobil. Dan, kurasa, Bels tidak perlu mengetahui hal itu.

Aku merendahkan suaraku ketika kembali berbicara pada Liz, "Dengarkan aku, Liz," kataku hati-hati. "Ini hanya-entahlah... aku hanya merasa bahwa aku harus melakukan ini. Bukan hanya kerena uang, tapi karena kejadian beberapa hari lalu. Kau tahu bagaimana aku saat ini? Aku hanya ingin menunjukan padanya kalau dia sudah tidak bisa lagi mengontrolku, memegang kendaliku. Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan sekarang."

"Kau membencinya?" tanya Liz.

"Iya, aku-" lidahku tiba-tiba terasa kelu begitu aku ingin meneruskan ucapanku. Ya, aku seharusnya membenci ia sekarang. Tapi, kenyataan itu masih tidak bisa kuterima. Aku tidak membencinya. "Entahlah, aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Tapi yang jelas, aku hanya ingin melakukan balap. Ayolah, Liz, bukankah itu bukan masalah besar?"

Liz memutar bola matanya, ia melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatapku lelah. "Kalau tidak perlu melakukan hal bodoh itu hanya untuk melampiaskan kekecewaanmu padanya. Kau tidak perlu membahayakan dirimu lagi, Clarr."

"Tapi balap itu bukan balap liar, aku sudah tahu sponsornya-"

"Bukan balap liar? Memangnya, balap legal mana yang akan mengambil tempat pertandingan di daerah tebing?"

Protect You || Malik [au]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang