p.s : narasinya panjaaaang *seriusan* buat yang males baca skip aja yah, jangan protes. hehe =))
Sorry for typo(s) ! !
____________________________________
"Dia masih belum bangun, Bos."
"Biarkan saja, aku masih bisa menunggu. Di mana kontraknya?"
"Sudah kuletakan di meja kantormu. Apakah kau benar-benar yakin dengan itu semua? Kurasa rencana itu terlalu berbahaya, ia bisa saja balik menuntutmu ketika mengetahui apa maksud kontrak itu."
"Ha-ha, tenang saja, Josh," Charlie mematikan rokok yang sedang dihisapnya. "Lelaki ini bisa sangat bodoh ketika panik. Aku tahu betul wataknya. Cukup gunakan gadis itu sebagai perantara, lalu selesai."
"Aku yakin, yang satu ini akan berhasil. Karena aku benar-benar akan menggunakan gadis itu kalau ia masih tidak mau ikut dalam permainanku," lanjutnya lalu tersenyum miring. Terlihat sangat puas dengan semua rencana yang hendak ia lakukan.
**
C L A R I S S E
Jangan pernah terlalu percaya diri dengan pilihanmu yang sekarang. Karena, kau bisa saja berpikir ulang dan lebih memlih hal yang berlawanan dengan pilihanmu itu ketika kau sendiri sudah sangat yakin dengan pilihan pertamamu.
Kata-kata bodoh, tapi kurasa aku harus mengakui kebenarannya sekarang. Hari ini lebih tepatnya.
Dua hari, aku sudah tidak bisa lebih menderita lagi dari itu. Perintah Bi Jeanny yang meyuruhku untuk pindah ke New York terasa bagaikan angin lalu di otakku. Aku langsung memutuskan untuk tidak melakukan permintaannya begitu memikirkan semua kehidupanku yang ada di sini. Masih banyak yang belum jelas. Masih banyak yang belum kuketahui.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan tidak adanya info yang kudapat mengenai Zayn. Awalnya, aku memang hanya berniat menunggu. Tapi pada akhirnya aku kesal dan memutuskan untuk menemui Rose agar semuanya lebih jelas. Ingatan tentang malam itu masih tergambar jelas di otakku. Tentang perkataannya yang terdengar tulus dan segala kesungguhannya, aku tidak bisa berhenti memikirkan hal itu.
Ia sudah meninggal. Tidak, itu hanya opini semua orang. Mereka belum menemukan bukti asli dari peryataan itu.
Terserah pada kalian yang mengatakan bahwa aku berpikir seperti itu hanya untuk menenangkan diriku sendiri. Aku bersikap seolah ia baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi. Tidak ada kecelakaan. Tidak ada pertengkaran di antara kami. Karena hanya itulah yang bisa membuatku bertahan hingga sekarang. Hanya hal itu yang bisa membuatku berhenti menangis tiap kali memikirkannya.
Terdengar sangat menyedihkan. Tapi lebih baik aku berpura-pura seperti itu dulu. Aku masih belum bisa menerima ini semua dengan mudah. Aku bersikap selayaknya ia akan kembali lagi padaku lalu merengkuhku dalam pelukannya. Aku bersikap bahwa malam itu hanya mimpi.
Namun, seperti biasa, hati dan perbuatan yang kulakukan selalu tidak sinkron. Rasa ingin tahuku lebih tinggi, membuatku harus keluar dari zona aman ini. Zona di mana aku bisa berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku menyesali keputusanku untuk menemui Rose. Kukira ia akan memberi jawaban yang kuharapan. Tapi, tidak. Rose mengatakan hal yang dua hari terakhir ini selalu kutepis jauh-jauh. Ia sama dengan orang-orang yang berkata bahwa Zayn sudah tidak ada. Hanya saja, kali ini Rose menambahkan hal yang semakin menguatkan perkataannya itu. Ia membuatku tidak bisa lagi mengelak dari kenyataan yang masih belum bisa kupercayai.
"Ia sudah meninggal," ujarnya cepat. Rose sudah tahu tentang apa yang hendak kukatakan untuk menyanggahnya, jadi ia langsung melanjutkan ucapannya sebelum aku sempat membuka mulut untuk memotong perkataannya. "Harry yang mengatakannya, ia sudah mencari dan tidak ada tanda-tanda apa pun selain mobil yang hangus. Ia memintaku untuk menyerahkan ini padamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Protect You || Malik [au]
Fanfic"Ini hanya tentangku yang kau benci. Tentangku yang terlalu takut kehilanganmu. Tentangku yang mencintaimu dan terlalu pengecut untuk mengatakan yang sebenarnya padamu. Tapi, kumohon, jangan lagi mencoba menjauh dariku. Aku hanya ingin kau di sini...
![Protect You || Malik [au]](https://img.wattpad.com/cover/19988280-64-k658219.jpg)